Tuesday, February 26, 2008

Ayat - Ayat Cinta #2

”..kau hembuskan ayat-ayat cinta untukku di sela doa dalam malam-malam yang sunyi...”

Sekejap sendiri di gurun sepi itu
Bersujud penuh harap mohon kekuatan untuk bangkit
Dimana kedamaian hati yang selama ini telah hilang
Dan dia, sendiri, menghujam semua rasa sakit yang tak teredam itu...
Cinta yang semu telah membutakan hati
Cinta yang semu telah melukakan diri sendiri
Cinta yang semu telah memabukkan kepala
Cinta yang semu telah melilit semua ikatan sakit bercampur sayang
Dan dia terus berlari mengejar cahaya yang masih tersisa
Sinar yang pernah dia bayangkan dan dia yakin, pernah dia lihat
Tapi, masih kosong, hanya bayangan sepi dirinya saja, yang tersisa
Tiada siapa-siapa...
Hanya dirinya sendiri, dia seorang saja...
Berlari terus mengejar kekosongan yang selama ini coba digenggam erat, jangan sampai lepas. Sudah terlalu lama dia menunggu, tanpa jawab, tanpa ada angin berhembus yang memberi tanda, dia sudah datang, dia sudah tidak lagi sendiri. Sudah terlalu lama. Malam makin larut, dan bayangan yang selalu diraihnya dalam tidur malam, tak lagi hadir. Tidak lagi hadir.
Ayat-ayat cinta terus berhujam, lagi, lagi, dan lagi.
Terus hujamkan ayat cinta itu. Pasti akan ada angin malam pembawa pesan yang menenangkan kegalauan itu semua.
”ini hati milik siapa?”, tanyanya dengan gundah.
”bukan siapa-siapa, tapi ada”
”Tak pernah terasa ada, ini semu!”
”percayalah, ini ada, dan selalu ada, walau tidak bisa terlihat”
”Lepaskan...ini semu, ini khayalan...sudah hentikan...”
”bagaimana mungkin, lihat-lihat-lihat baik-baik!!!”
”Arghh, lepaskan, sakit...”
”Tatap mata ini, tatap jelas-jelas!
Semuanya ada disini, tersimpan dengan baik”
”Tidak...tidak pernah ada...itu tidak nyata...”
”Masih juga meragukan....”
”Argghh.....perih...”
Bergelegar halilintar di tengah terik matahari, hanya tersisa dirinya sendiri di gurun pasir sepi itu. Dan bayangan semu yang selama ini menemani dirinya. Selama ini hanya dirinya sendiri mengejar bayangan yang tak pernah ada. Hanya dirinya sendiri.
Berulang kali mencoba bersembunyi dari jauh, mengintai di belakang karang tajam, menantikan bayangan itu akan sungguh hadir. Bulan mulai tampak, bayangan itu tidak jadi datang. Dan kembali dia merapihkan semua serpihan hancur harapan yang sudah disusun sedemikian rupa. Berharap ayat-ayat cinta membawa bayangan itu.

”....Semua resah hati manusiamu untuk membagi kisah atas nama cinta...”
Derai air mata di setiap sujudmu seperti tak pernah cukup untuk menjagaku
Jangan butakan hati menjadi cinta yang semu cinta yang semu
Kau hembuskan ayat ayat cinta untukku di sela doa malam malam yang sunyi
Ampun yang engkau pinta dalam semua keraguan yang telah meliputi jiwamu
Semoga akan membawa cintamu pada diriku dalam jalan dan ridhoNya
Jangan butakan hati menjadi cinta yang semu cinta yag semu
Kau hembuskan ayat ayat cinta untukku di tengah terik matahari dan dinginnya malam
Kau panjatkan ayat ayat cinta padaNya melindungi dan menjaga kisah cinta kita
Kau hembuskan ayat ayat cinta untukku di tengah terik matahari dan dinginnya malam

Sudah selesai, ayat-ayat itu sudah selesai.
”apa jawabannya?”
”bayangan itu sudah tertiup angin gurun kemarin malam saat semua manusia tertidur”
”Tidak mungkin!”
”baru saja ada bayangan itu!”
Plak!
”Bodoh! Lupakan semua ayat-ayat cinta itu!
Itu hanya ayat yang semu, tidak pernah ada!”
Hah? Ayat yang semu?
Tidak percaya...
Ayat-ayat cinta....itu ayat...kan?

1 comment:

Unknown said...

mae, honestly ga mudeng hehehe..blm nntn kali y g =p