Friday, December 14, 2007

Chocolate Soup For The Soul #25 Become a True Richman

To Become a True Richman

Andai a a a a …ku jadi orang kaya, andai a a a a ....ku punya mobil mewah...(Oppie Andaresta)

Andai kujadi raja, mau ini mau itu, tinggal tunjuk sana tunjuk sini...(Rif Band)

Begitu banyak orang ingin jadi orang kaya, mulai dari tukang ngamen di jalanan, sampe tukang main film di televisi. “Enak, Man, kalo gue punya uang banyak, gue bisa beli apa aja yang gue mau, dan gue pasti bahagia deh”, ungkap seorang tukang parkir dengan omzet Rp 50 ribu per harinya di persimpangan Menteng Jakarta. “Duh, Bo, udah beli belum Gucci terbaru, sebel banget deh, suami aku pelit banget, padahal murah banget tau nggak sih! Cuma 7 Jeti. Asli deh, aku bingung kenapa kok punya suami pelit begitu, kebangetan!”, cerita Desi, 34 tahun, istri seorang anak konglomerat, yang hobi koleksi tas merk Gucci dan LV. Di lemari pakaiannya, bejubel tas dan gaun mahal, tapi tetep aja menganggap suaminya tuh “Medan” ups...alias “Pelit”. Ya, biasalah, manusia kan jarang puas, kayak nggak tau aja.

Segala cara akan dilakukan, supaya bisa kaya, ada yang mau mulai dari bawah, ada yang mau instant aja, dan ada yang mau kaya tapi nggak mau kerja. Ada yang coba cara yang positif, dan ada juga yang coba cara yang tidak cukup positif. Contohnya, Mas! Contohnya begini, ada yang memilih jalur sebagai seorang pencopet, perampok, atau pemalak dengan risiko melanggar hukum pidana dan dipenjara beberapa tahun. Ada yang memilih sebagai pengedar narkoba, secara, ini gede loh pemasukannya, dan gede juga risikonya. Ada yang memilih jalur biasa aja, kerja sama orang, walau gaji kecil, yang penting bisa buat makan dan bayar tagihan listrik rumah setiap bulannya. Ada juga yang memilih cara cerdik : mempercantik diri lalu menebar pesona supaya bisa menggaet kaum-kaum borjuis, yah nggak apa deh jadi istri muda, asal bisa dapet rumah sederhana di kawasan Pondok Indah dan mobil sederhana sekelas Alphard, gitu. Ada lagi, fenomena baru, apalagi kalau udah nonton film Quickie Expressnya Nia Dinata dan Joko Anwar, ternyata kalau mau kaya, bisa juga dengan menjual diri dan memberikan service pemuasan nafsu birahi ibu-ibu setengah baya yang tidak bahagia dengan suaminya yang kebanyakan udah tua dan badannya banyak lemak gembul. Jadi gigolo, maksudnya, Mbak! Duh, masa sih, hari gini, nggak pernah denger “Gigolo”? Gigolo, itu yang suka nemenin tante girang loh. Bukan hanya cewek saja yang laku dan bisa cepet kaya dengan terjun di perhelatan dunia malam kawasan Hayam Wuruk atau Mangga Besar aja, cowok pun sudah emansipasi dan sadar. Emangnya cewek aja yang bisa cepet kaya! Dan emangnya cowok kalau mau kaya, hanya dengan jalan kriminal aja! Sorry aja nih, zaman sudah berubah, biaya makin meningkat, dan cowok tetep aja dituntut untuk bisa buktiin prestasi, yaitu bisa dapetin duit banyak! Kalau cewek kere dan nggak berduit, mungkin itu dianggap hal biasa, kan sepinter-pinternya cewek, ujung-ujungnya juga masuk dapur dan masak nasi! Kalau cowok kere dan nggak berduit, bisa diomongin macem-macem : gobloklah, payahlah, atau madesulah! Huah, hidup kejam amat yak. Ini sisi nyata kehidupan. Di pagi hari, berjuta-juta orang berlomba-lomba untuk sampai di tempatnya bekerja, macet dimana-mana, rasanya mau teriak melepas kekesalan akibat sesaknya bus atau angkot. Namun, tetep saja niat itu diteguhkan, mau nggak mau, nggak bisa nggak, gue harus kerja, kalau nggak gue nggak dapet duit, gue bisa dipecat, dan sebagainya dan sebagainya. Dan tanpa sadar, apapun kini diukur dengan uang, manusia baru bahagia kalau ada…..u…a…ng.... Kalau ada uang, hati tenang, nggak usah takut lagi kelaperan, dan nggak usah mikir-mikir lagi kalau pingin ngajak pacar nonton berdua di bioskop.

Tapi, apa iya, kalau udah ada uang, segalanya bakal berjalan sesuai harapan kita? Apa iya, kalau Desi yang tadi sempet dibahas, udah dapet tas Gucci impiannya, then dia nggak bakal complain lagi sama lakinya yang udah kewalahan dengan hobi belanja istrinya (bayangkan tas LV nya sudah ada 10 biji, tapi masih pingin juga tas Gucci yang lainnya lagi!). Ternyata, seorang perempuan yang udah punya 10 tas LV original aja, masih belum puas dengan hidupnya. Apalagi temen-temen yang mau makan aja harus mikir-mikir, uangnya cukup nggak yah buat ongkos pulang ke rumah? Anyway, boleh dong bermimpi jadi orang kaya, asal nggak cuma kegedean ngomong tapi kedikitan usaha. So, siapa lagi yah orang kaya selanjutnya yang siap diwawancara para reporter majalah Globe Asia (majalah bisnis, yang sering membahas tuntas daftar kekayaan konglomerat-konglomerat Indonesia). - with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071214 #25

Wednesday, December 12, 2007

Chocolate Soup For The Soul #24 - a Dozen of Hatreds

A Dozen of Hatreds

Di sebuah rumah sakit spesialis kanker, terdiam duduk 10 perempuan, menanti jawaban dan diagnosa dari dokter yang merawatnya. Terdengar dari depan ruangan praktek :

“Ibu, ada benjolan di sebelah kiri payudara Ibu, dan bisa makin membesar kalau tidak segera diobati”
“Mbak, setiap pagi tolong diperiksa bagian samping payudara Mbak, moga-moga obat yang saya kasih ini, bisa mengurangi benjolan yang di kanan”
“Maaf, Bu, tapi sepertinya kista di dalam rahim putri Ibu akan sulit sekali disembuhkan, kecuali keajaiban yang bisa menolong Putri Ibu”

Kemarin malam beberapa ibu senior membahas satu topik : hubungan antara perasaan benci dengan munculnya benjolan-benjolan – maaf, di payudara – atau kista di dalam rahim. Terlepas dari konteks medis dan kedokteran, kami membahas masalah kesehatan ini.

”Pernahkah Anda membenci seseorang selama bertahun-tahun lamanya dan ada kemarahan terpendam dalam hati Anda?”, tanya seorang ibu yang menjadi pembicara sebuah forum.

Kebencian mempengaruhi kondisi kesehatan kita. Kenapa semakin hari semakin banyak bermunculan penyakit, khususnya kanker, untuk perempuan : kanker payudara dan rahim? Banyak orang mencoba berhipotesa untuk mencari jawaban paling akurat. Dari sisi medis, dikatakan, bahwa setiap orang memiliki sel kanker dan bisa dipicu dengan cepat melalui perasaan stress dan depresi berlebihan. Dari sisi lain, ada yang mengatakan, polusi dan pencemaran semakin menggila, nggak heran bisa muncul penyakit aneh-aneh. Dari sisi psikologi, munculnya penyakit 90% disebabkan dari kondisi psikologis yang tidak sehat dan tidak stabil. Dari sisi spiritual, penyakit tubuh muncul karena ada kekotoran batin dan penyakit di hati yang sering kali terabaikan dan dianggap tidak ada, salah satunya : rasa benci bercampur marah. Repotnya, apa yang terlihat nyata lebih mudah dianalisa, ketimbang yang sunyata.

”Serem juga yah, karena perasaan benci dan marah, bisa muncul benjolan, ancrut!”, kilah seorang mahasiswi, 20 tahun, yang hobi makan junk food di mal.

”Duh, emangnya gampang, kalau tuh orang udah jahatin kita dan bikin hidup susah, apa mungkin nggak benci! Udah deh, yang realistis aja!”, tambah seorang ibu, 45 tahun, yang selama 20 tahun, pernah membenci almarhum ayahnya yang berpoligami (4 istri saja!).

Mengapa bisa muncul rasa benci? Mengapa kemarahan bisa muncul dalam diri kita? Pada dasarnya setiap orang memiliki semua potensi itu : potensi baik dan potensi buruk. Rasa benci, marah, dan cinta ada dalam hati semua orang. Yang menjadi masalah adalah mana yang lebih dominan, yang baik atau yang buruk. Rasa benci dan marah pun menjadi rasa yang manusiawi dan tidak mungkin dimusnahkan begitu saja, karena manusia utuh adalah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Siapa yang tidak pernah merasakan benci dalam sepanjang hidup ini? Saya yakin, siapapun pernah mengalami perasaan dan sensasi ”benci” dalam perkembangan kepribadiannya sebagai manusia yang utuh. Apa saja yang bisa memunculkan rasa benci? Ketika ada kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam diri sendiri dan ketika ada yang merampas kenyamanan dan kebahagiaan diri sendiri, secara detailnya, beberapa hal ini bisa merangsang munculnya rasa benci : ketika kita difitnah dan dituduh melakukan hal yang tidak kita lakukan, ketika dikritik di depan orang banyak, ketika kita dipermalukan di hadapan orang banyak, ketika kita dibanding-bandingkan dengan orang lain, ketika diremehkan, dihina, dianggap tidak ada apa-apa, ketika dicela dan diledek, ketika dibohongi dan dikhianati, dan ketika kebebasan untuk mengekspresikan diri dijajah dan dijerat. Ada lagi? Dan tanpa sadar, kita pun selama bertahun-tahun menyimpan rasa benci terpendam, yaitu : benci pada diri kita sendiri dan juga benci pada orang-orang terdekat kita. Seperti yang dialami oleh seorang perempuan, 40 tahun, 6 tahun lalu ada benjolan di payudaranya dan dia pun segera berobat ke dokter dan menyadari kalau ada kebiasaan membenci dalam dirinya. Dia berjuang keras untuk terapi fisik dan juga psikologis, dengan menghilangkan rasa benci itu. Benjolan pun hilang. Tak lama kemudian, benjolan muncul lagi karena rasa benci muncul lagi. Selama bertahun-tahun perempuan ini marah dan benci pada seseorang, yaitu kakak lelaki kandungnya yang menjadi penjudi kelas berat dan sering merongrong hidupnya. Walau ada hubungan darah namun bukanlah hal yang mudah untuk bisa melepaskan rasa benci itu. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa belajar memaafkan dan melepaskan rasa benci ataupun marah kepada kakaknya, hingga akhirnya beberapa bulan lalu kakaknya meninggal dunia. Penyesalan terjadi belakangan dan nasi sudah jadi bubur. Kini, rasa benci pada kakaknya sudah tidak ada lagi dalam perempuan ini, tapi tersisa rasa benci pada dirinya sendiri kenapa tidak mampu mengendalikan perasaan jiwanya sendiri. Ngomong-ngomong, apakah saya, Anda, kita, masih sedang membenci sesuatu, seseorang, ataupun diri sendiri? Gimana kalau kita bongkar apa saja yang masih memicu rasa benci dalam hati kita masing-masing?

- with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071213 #24

Chocolate Soup For The Soul - #23 In The Name of Gender

In The Name of Gender

Atas nama kodrat, kami berbicara. Inilah kami, pria dan wanita.

Pria dan wanita seperti busur dan panah, yang saling melengkapi. Kodrat? Apa itu kodrat?

“Huh, Kok Dhani begitu amat sih, melecehkan perempuan banget”, celoteh seorang ibu muda penikmat infotainment seraya melihat berita pertikaian antara Dhani dan Maia Ahmad.

“Weits, sebenernya si Maia nya aja yang lupa kodrat, dia lupa apa yang menjadi kodratnya sebagai seorang cewek!”, bela seorang lelaki yang sering menyanjung band Dewa.

Lupa kodrat berarti lupa dengan tanggung jawab dan tugasnya, begitu maksudnya? Iya, kira-kira seperti itu, dan biasanya kodrat itu sering ditujukan bagi kaum wanita. Padahal lelaki juga punya kodrat. Semua kaum punya kodrat. Apa kodrat seorang lelaki dan apa kodrat seorang perempuan? Blur! Sejak Ibu Raden Ajeng Kartini bangkit dari kegelapan, kaum perempuan menjulang bebas kemana saja, mengepakkan sayap, dan mengukir rentetan prestasi. Bersama-sama kaum adam, kaum perempuan berjalan bersama meraih yang tertinggi yang mereka bisa.

Kini? Ada yang bilang kaum perempuan dan kaum lelaki posisinya sudah sejajar, udah nggak lagi bisa memandang sebelah mata kaum perempuan. Ini bukan tulisan seorang feminis. Karena saya bukan seorang feminis, hanya seorang perempuan biasa yang mencurahkan apa yang pernah dan yang sedang saya lihat di sekitar saya.

Kemarin malam seorang perempuan setengah baya berkeluh kesah kenapa suaminya melupakan kodratnya sebagai seorang kepala rumah tangga. Berbagai cara sudah dilakukan supaya suaminya mau bekerja, tapi….suaminya lebih memilih di rumah saja dan memohon supaya istrinya saja yang bekerja dan mencari nafkah. This is true, this is not fictive.

“Pak, udah coba cari kerja lagi belum?”, tanya si istri kepada suami.

“Ma, biar saya aja yang ngurus rumah aja yah, saya nggak mau kerja lagi”, jawab si suami.

“Kenapa bukan kamu aja yang kerja, biar saya yang urus rumah dan anak kita”, balas si istri.

“Fisik saya nggak memungkinkan, saya gampang capek, dan nggak bisa lagi keluar-luar rumah kena matahari”, jawab si suami yang berusia 45 tahun, sedangkan istrinya 40 tahun, dan anak mereka berusia 10 tahun. Si suami pernah menderita sakit kelebihan hormone tiroid.

Selang kemudian, sang istri segera mengangkat gagang telpon dan menelpon sahabatnya.

“Gue nggak tahan! Gue capek tiap hari begini, harus kerja sekaligus urus rumah tangga, gue bener-bener nggak bisa sabar lagi sama dia, Dit”, ungkap si istri kepada sahabatnya (Dita).

“Ya, elu suruh dia kerja lah!”, tukas Dita.

”Udah...tapi jawabannya selalu sama, dia mau di rumah aja, mau ngerjain kerjaan rumah tangga”, kilah terakhir si istri.

Emansipasi wanita membuyarkan aturan-aturan main yang ada. Atau justru hidup memang dinamis dan kodrat pun akan terus berubah seiring dengan perjalanan waktu. Seorang perempuan bertugas menjadi istri, ibu, guru, dan ”pengurus” rumah tangga yang baik. Itu dulu. Kini, ditambah lagi satu tugas sebagai seorang pencari nafkah yang baik, secara, biaya hidup semakin hari semakin mahal. Seorang pria bertugas menjadi suami, ayah, dan pencari nafkah yang rajin dan produktif. Kini, penambahan juga ada, seorang pria selayaknya mampu juga mengurus rumah tangga dengan baik dan tidak gengsi lagi untuk mengerjakan pekerjaan perempuan, mulai dari : mengepel, menggosok, memasak, dan juga mencuci piring.

Tapi, apa yang harus dilakukan oleh seorang istri jika si suami mau melepaskan kodrat sebagai pencari nafkah dan lebih memilih menjadi seorang bapak rumah tangga?

”Biasa aja ah, di luar negri, Amerika Australia, itu hal biasa saja!”, seru seorang ibu 48 tahun.

”Duh, nggak banget deh, masa sih, seorang lelaki pegang gosokan sambil nonton TV di siang hari bolong? Itu nggak wajar, swear!”, ungkap seorang ibu 35 tahun, lulusan S2 Australia.

”Tergantung sih apa sumber masalahnya, kalau memang si suami lagi ada penyakit kronis, mau diapain dong, daripada nanti malah nguras tabungan untuk ke dokter”

”Ok, kalau ada alasannya, tapi kalau si lelaki masih sehat bugar, tapi hanya karena penyakit malas untuk berjuang dan lebih milih tidur-tiduran santai saja di rumah, come on, dunia sepertinya udah bener-bener terbalik yah!”

Pernah beberapa kali teman saya, Berna, seorang reporter surat kabar, melewati kawasan-kawasan gang senggol, sekitar jam 11-12 siang bolong, dan disana berjejerlah pria-pria usia produktif yang duduk bengong di teras rumahnya, bersantai ria. Berna tanya salah satu dari bapak-bapak itu :

”Pak, sehari-harinya profesinya apa?”

”Oh, aduh neng, susah zaman sekarang, cari kerja susah deh”, jawab si bapak.

”Iya yah Pak, susah, tapi kalau boleh tau, untuk biaya rumah tangga sehari-hari repot juga yah Pak”

”Untungnya istri saya kerja jadi tukang cuci, lumayan deh”, tukas si bapak.

Datanglah segerombol anak kecil, ada 4-5 anak.

”Bapak, minta duit, mau jajan!”, paksa si anak.

”Duh, Bapak nggak ada duit, ntar aja deh tunggu emak pulang”, jawab si bapak.

”Oh, ini anak bapak yah?”, tanya Berna.

”Iya nih, anak saya ada 4, masih kecil-kecil, yang paling gede masih umur 10 taon”, jawab si bapak.

Berna pun beralih ke anak-anaknya.

”Ade...kalau udah gede mau jadi apa?”, tanya Berna.

”Hmm..aku mau jadi dokter gigi”, jawab anak kesatu.

”Kalau ade?”, tanya Berna ke anak kedua.

”Aku mau jadi guru”, jawabnya.

”Aku mau jadi pelaut!”, lanjut anak ketiga.

Dan tersisa seorang anak yang segera saja Berna tanya.

”Kalau kamu?”

”Aku mau jadi pengemis...”, jawabnya dengan wajah sumringah ceria.

”Oh, kenapa kok mau jadi pengemis?”, asli saya pun baru kali pertama mendengar seorang anak bercita-cita menjadi pengemis.

”Soalnya enak, tinggal minta, terus dapet duit deh...”

”Kamu tau darimana, Dek?”, penasarannya teman saya itu.

”Dari emak...”

”Oh emak?”

“Iya, emak aku cerita, tiap hari emak tinggal minta aja, terus dapet duit deh”

“Emak emangnya jadi apa?”

“Emak kan pengemis”, jawab si anak.

“Ah, nggak lagi, Neng, namanya juga anak-anak, dia nggak ngerti, jelas-jelas ibunya tuh tukang cuci baju! Udah sana kamu main”, si Bapak pun menyuruh si anak segera pergi.

Ini salah satu kisah nyata di gemerlapnya kota Jakarta dan kota-kota lainnya. Semakin banyak anak-anak yang kini berandai, suatu hari jadi orang kaya, berandai bisa segera dapet orang banyak, kalau bisa sih cepet, dan caranya ternyata gampang : jadi pengemis aja! Siapa gerangan yang mengajarkan ini kepada anak-anak yang mustinya bermimpi yang lebih tinggi lagi? Ibunya tuh! Kan, tugas Ibu adalah mendidik anaknya supaya jadi bener. Kalau anak ampe mikir gitu, itu sih karena didikannya nggak bener!

Well, kembali ke topik kodrat pria dan perempuan. Perempuan memiliki tugas besar, ketika sudah memutuskan untuk melahirkan seorang nyawa baru, yaitu mendidiknya menjadi orang yang benar dan bermanfaat bagi kehidupan. Kalau si pria? Ya, tugas pria adalah menemani si perempuan untuk mendidik anak, dan to the pointnya sih, mencari nafkah yang cukup dan memuaskan, supaya si perempuan nggak usah lagi pusing pikiran dan capek tenaga untuk banting tulang membiayai tagihan-tagihan listrik, air, ataupun telpon lainnya. Eh, tunggu dulu, zaman sekarang, seorang ayah pun berperan besar dalam perkembangan psikologis si anak! Kedekatan seorang anak dengan ayahnya akan turut mempengaruhi kualitas si anak. Tapi, tetep dong, sumber nafkah utama adalah dari si bapak? Iya. I`m pretty pretty sure, akan banyak sekali menentang pandangan bahwa kodrat lelaki adalah pencari nafkah premier dalam keluarga. Tapi saya juga yakin banget akan banyak sekali juga teman-teman yang mengiyakan pandangan ini. Bahwa kodrat perempuan, tetaplah sebagai seorang perempuan yang menjaga keutuhan sebuah keluarga dan mendidik si anak hingga dewasa nanti, dan kodrat lelaki terutama adalah menafkahi keluarga dan menjadi figur positif bagi si anak dan masyarakat. Namun, bukan berarti segalanya harus hitam putih, tanpa fleksibilitas, kalau ternyata gaji suami memang tidak memadai dan tidak mencukupi keseluruhan biaya rumah tangga, hal yang lumrah sekali jika si istri bekerja dan kadang gajinya jauh berlipat lebih besar dari suami, asalkan, masih tetap berada di koridor kodrat yang wajar, suami sebagai kepala keluarga yang mampu bersikap jantan ala lelaki, dan istri sebagai pelengkap yang mampu bersikap lembut keibuan namun ada bonusnya : dalam kondisi tertentu pun harus mampu tegar dan tahan banting sekuat seorang lelaki sejati. Atas nama kodrat dan gender, ungkapkan saja semua kegelisahan itu, biar genap, biar tak lagi mengganjal. Dengan sentuhan cinta kasih yang lembut seorang wanita dan benteng ketegaran seorang lelaki, lelaki dan wanita bisa sama-sama saling melengkapi dan memperindah dunia ini. Amin.

- with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071212 #23

Tuesday, December 11, 2007

Song of The Week : Vagetoz & Ari Lasso

Aku dan Dirimu - Ari Lasso feat Bunga Citra Lestari

Tiba saatnya kita saling bicara
Tentang perasaan yang kian menyiksa
Tentang rindu yang menggebu
Tentang cinta yang tak terungkap

Sudah terlalu lama kita berdiam
Tenggelam dalam gelisah yang tak teredam
Memenuhi mimpi-mimpi malam kita

Duhai cintaku sayangku lepaskanlah
Perasaanmu rindumu sluruh cintamu
Dan kini hanya ada aku dan dirimu
Sesaat di keabadian

Jika sang waktu bisa kita hentikan
Dan segala mimpi mimpi jadi kenyataan
Meleburkan semua batas antara kau dan aku
Kita....

Duhai cintaku sayangku lepaskanlah
Perasaanmu rindumu sluruh cintamu
Dan kini hanya ada aku dan dirimu
Sesaat di keabadian

Betapa Aku Mencintaimu - Vagetoz
Betapa aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku
Betapa aku menyayangimu lebih dari yang kau tahu
Inginku bahagiakan dirimu setiap saat bersamaku
Seperti janjiku kepadamu takkan pernah kuingkari
Aku kan slalu ada di dekatmu
Aku kan slalu menemani harimu
Kau harus tau betapa aku mencintaimu
Aku kan slalu ada di dekatmu
Aku kan slalu menemani harimu
Kau harus tau betapa aku mencintaimu

Monday, December 10, 2007

Chocolate Soup For The Soul #21 To Do Before I Die

To Do Before I Die

Apa yang paling ditakuti oleh sebagian besar orang pada umumnya? Takut miskin dan takut mati. Bicara soal takut mati, Di masa anak-anak sekitar usia 7-9 tahunan, anak kecil akan mengalami satu fase fear of death, takut mati, dan juga fear of separation, takut berpisah dengan orang yang disayangi. Saya masih ingat jelas, waktu itu masih usia 8 tahunan, dan mama saya selama 10 hari pergi ke luar kota, hampir setiap malam saya menangis karena ketakutan nggak bisa ketemu lagi dengan mama saya. Saat itu, ada pembantu saya yang menemani saya sampai akhirnya saya tertidur setelah lelah menangis. Itu berlangsung sampai 4-5 harian, entah apa yang ada di pikiran saya. Salah satu ketakutan adalah saya takut kalau nggak bisa lagi bertemu dengan mama saya! Tak jarang saya mimpi buruk yang mengerikan dan terbangun dengan mata basah dengan air mata. Di mimpi saya, saya berpisah dengan mama saya dan itu bikin saya takut sekali. Itu kejadian waktu masa-masa kecil dulu. Setelah belajar dan baca banyak buku mengenai filsafat kehidupan, saya sadar, kalau kematian itu hal yang mutlak dan nggak perlu ditakuti secara berlebihan. Ajaran agama pun selalu mengajarkan satu pesan : kalau hari ini bisa jadi hari terakhir Anda hidup di dunia ini, jadi manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya deh.

Ada satu cerita, seorang ibu 40 tahunan yang sudah memiliki 2 orang anak, hidupnya penuh dengan ketakutan. Ketakutannya yang paling besar adalah MATI. Makanya dia pun menghindari rumah sakit, rumah duka, dan juga kuburan. Walau hanya mendengar cerita orang yang mati pun, jantungnya langsung berdegup kencang, tensi darah langsung melesat hebat, dan serangan vertigo pun bisa dia alami. Ibu ini salah satu contoh dari sekian banyak orang yang sejujurnya takut sama yang namanya kematian. Bayangan orang mengenai kematian, begitu mengerikan : gelap, penuh api panas, dan lebih ekstrim lagi, penuh dengan belatung. Padahal, ketika kita tertidur lelap pun, itu kondisi yang tidak jauh berbeda dengan ketika kita mati nanti. ”Beda ah!”, kata seorang teman. ”Ok Ok, secara, kita nggak pernah bisa wawancara eksklusif ke orang yang sudah mati, no comment deh, kalau gitu”, balas saya.

Dalam forum-forum diskusi yang saya ikuti, akhir-akhir ini, seringkali kita membahas mengenai hidup dan mati. Terinspirasi dengan lagi maraknya kematian mendadak diantara rekan-rekan kami, mulai dari yang mati tertabrak, mati karena sakit, dan juga mati karena stress. Hayo, serem nggak kalau membahas soal mati? Sebenarnya, saya nggak berniat aneh-aneh, tapi dalam tulisan kali ini, ingin sekali ajak teman-teman untuk bahas secara gamblang topik ”Mati”, topik yang sering dianggap pamali dan tabu untuk dibahas. ”Awas luh, nanti beneran kejadian kalau diomongin”, ungkap seorang kenalan. Sekarang mari membahas ”kematian” dari sisi berbeda, dari sisi humanis, dan sisi realita.

Ada jenis-jenis kematian dan tiap orang pada akhirnya akan mati. Yang jadi pembahasan adalah akan seperti apakah kondisi terakhir seseorang ketika akan menghembuskan nafas terakhirnya. Kalau dalam ajaran Buddhism, kondisi terakhir ketika ajal akan menentukan dia akan terlahir seperti apa pada kehidupan yang selanjutnya, dan kondisi ketika mati juga yang akan menggambarkan bagaimana kondisi jiwanya yang sesungguhnya.

Berikut ini adalah beberapa jenis kondisi mati :

1. Mati karena penyakit tubuh entah turunan atau bukan turunan (kanker, stroke, jantung, TBC, dan lain-lain), dan terbaring di ICU rumah sakit.

2. Mati hangus dalam ledakan pesawat terbang atau gedung yang terbakar.

3. Mati bunuh diri, lompat dari gedung atau mengiris nadi sendiri. (Seperti Leslie Cheung di Hongkong?)

4. Mati sebagai korban tabrakan lalu lintas atau tertimpa benda keras.

5. Mati karena dibunuh, contoh : ditembak dengan sengaja atau tidak sengaja. (Seperti John Lennon?)

6. Mati karena overdosis narkoba. (Seperti Kurt Cobain?)

7. Mati karena umur yang sudah tua (60 – 70 tahun keatas).

8. Mati keracunan.

9. Mati di usia muda.

10. Mati ketika baru saja dilahirkan.

11. Mati karena kelaparan.

12. Mati sebagai korban perang.

13. Mati karena bencana alam : gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan banjir.

14. Ada lagi? Silahkan dilengkapi sendiri, saking banyaknya jenis kematian.

Kondisi jenazah ada yang masih dalam kondisi utuh dan kondisi yang tidak berbentuk lagi. Ekspresi ketika meninggal pun bervariasi, ada yang tersenyum dan ada yang mukanya sudah membiru hitam karena sakit kronis yang diderita, dan bagi korban yang meninggal akibat kebakaran, kondisi tubuh biasanya sudah tidak bisa lagi dikenali. “Serem amat sih bahas beginian”, ungkap teman saya. Mungkin rasanya serem, karena selama ini kematian, sekali lagi, dianggap sebagai hal tabu yang mengerikan. Namun, ketika kita mau memaknai kehidupan dan memahami kehidupan, pelajarilah dulu kematian. Selama ini kita sibuk untuk mempelajari segala hal seputar kehidupan dan menjaga jarak jauh-jauh dengan kematian. Karena ada harapan terpendam, ingin terus hidup dan tidak mau sampai berpisah dengan hal-hal duniawi dalam hidup. Bukan berarti, dengan belajar soal kematian, kita pun jadi bersikap skeptis kepada hidup, dan berpikir ”Ah, nanti juga gue mati, ya kalau gitu, gue hidup sesuka hati gue aja”. Justru, kalau sudah paham kematian, berarti harus menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.

Hidup adalah tempat untuk bermain dan bersenang-senang, tapi yang terjadi adalah hidup sepertinya penuh dengan penderitaan, dan tanpa sadar kehidupan lain sesudah meninggal nanti yang dibombardir akan jauh lebih menyenangkan dibandingkan hidup saat ini. Kematian bukan hal untuk ditakuti, tapi untuk disadari. Dengan lebih paham kalau siapapun pada akhirnya akan mati, kita bisa menjalani hidup dengan lebih bernilai dan lebih sepenuh hati, tidak ketinggalan lebih happy. Karena untuk bisa terlahir sebagai seorang manusia, bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan jutaan tahun lamanya dan dibutuhkan tumpukan-tumpukan karma baik di masa lampau, supaya bisa punya kesempatan untuk lahir sebagai manusia. Bisa terlahir sebagai manusia pun, bisa sempurna dan tidak sempurna. Ada teman-teman kita yang lahir dalam kondisi cacat tubuh dan dalam kondisi perang kelaparan yang mengerikan. Tapi kita yang bisa lahir dalam kondisi tenang dan damai, masih ada kecenderungan untuk mengeluh dan nggak puas dengan kondisi kita. Mulai dari nggak puas kenapa harus lahir di kondisi keluarga yang mungkin tidak ideal dan juga nggak puas dengan kondisi hidup yang tidak sesempurna hidup orang lain. Kita pun pernah juga nggak puas dengan hal-hal sederhana dalam hidup kita : Kenapa sih pacar saya nggak sebaik pacarnya orang lain? Kenapa sih posisi karir saya tidak secemerlang posisi karir teman sekolah saya? Kenapa sih hidup saya begini-begini aja dari tahun ke tahun? Kenapa sih suami saya kok nggak kaya-kaya padahal dia baek banget orangnya? Ada lagi hal yang sering kita keluhkan? Pastinya masih banyak.

Ada korelasi antara dengan tingkat kepuasan hidup dengan semakin berjamurnya pusat-pusat hiburan di kota metropolitan ini? Musti diresearch dulu, tentunya. Ini baru hipotesa. But fakta menunjukkan, semakin banyak pusat perbelanjaan dan pusat hiburan dan pengunjungnya pun tidak pernah habis, malah semakin banyak saja! Pusat hiburan ini dibangun sebagai salah satu sarana, supaya membantu orang untuk lebih menikmati hidup dan lebih bahagia dan puas lagi dengan hidupnya.

Karena terinspirasi dari sebuah buku berjudul “100 Things To Do Before I Die”, saya pun tertarik untuk mengeksplorasi topik “kematian” ini. Di buku ini dijelaskan hal-hal apa saja yang patut dilakukan dalam hidup ini, supaya hidup nggak sia-sia, karena bisa jadi Tomorrow never comes, dan today is our last day. Kalau masih sering spontan bilang “Emangnya gue pikirin!” atau “Sebodo teing deh, yang penting gue happy”, dan pemikiran egois-egois lainnya, kudu pikir-pikir ulang. Salah satunya kalau kita benci dan kasar dengan seseorang, kita nggak peduli, padahal bisa jadi orang yang kita sakiti itu, mungkin aja, besok udah nggak ada lagi, dan kita udah nggak bisa ketemu dia lagi dalam hidup. Di rumah duka, banyak orang menangis kejer dan nggak terkontrol, nggak bisa melepas kepergian orang yang meninggal (biasanya orang terdekat : orang tua atau saudara atau sahabat), karena merasa sudah melakukan kesalahan yang menyakitinya, dan belum sempat meminta maaf. Memang ini teori yang belum tentu mudah dijalani, tapi patut dicoba, kita semua kudu berjuang ekstra keras, untuk baik sama siapa saja, kapan saja, dimana saja, karena bisa jadi hari ini adalah kesempatan terakhir kita melakukan itu.

Lalu, masih adakah hal-hal yang selama ini sering kita tunda, karena kita berpikir “jalan masih panjang”, “masih banyak waktu”, “kapan-kapan juga masih bisa”, atau “santai aja nanti juga masih bisa”. Kalau masih ada hal yang sering ditunda, kenapa juga nggak segera diberesin satu persatu. Dan masih adakah orang-orang di masa lalu yang kita benci banget dan kita belum pernah ada kesempatan untuk ketemuin dia dan minta maaf ke dia? Ini bagian yang cukup sulit, apa mungkin kita cariin satu persatu orang-orang yang pernah sakiti, dan kucuk-kucuk, bilang sama dia ”Eh, sorry yah...”. Kalau mau lakuin ini, sok silahkan, tapi bisa juga dengan melakukan hal lain, dengan punya niat yang tulus, untuk minta maaf dia dalam hati kita, dan maafin juga diri sendiri karena udah khilaf. Ada juga mungkin orang-orang yang pernah menyakiti hati kita dan sulit sekali melepas rasa dendam kesumat, huah...lagi-lagi, ini bagian yang nggak gampang, memaafkan orang yang jelas-jelas udah ngerusak hidup kita dan rencana-rencana kita. Ada satu tips ampuh untuk memaafkan orang yang pernah menyakiti kita, yaitu : dengan duduk tenang, pejamkan mata, dan bayangin orang yang kita benci itu waktu masih bayi dan polos. Pointnya adalah sejahat-jahatnya orang itu, dia pun dulunya adalah seorang bayi polos yang baik hati, namun lingkungan yang kotor membentuknya seperti itu, dan dia kurang paham harus bertindak seperti apa dan menjadi korban dari lingkungan dan pola asuh di sekitarnya. So, kira-kira apa yang ingin dan perlu Anda lakukan sebelum Anda hembusin nafas terakhir? - with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071211 #22

Chocolate Soup For The Soul - enjoy #21 Reasons For God

Reasons For God...

”Hai, nama saya Sinta”

“Nama saya, Joko”

Sinta dan Joko berkenalan satu sama lain dan saling bertukar biodata.

Dan mereka pun saling bertanya.

“Ngg….Joko, boleh tanya satu hal?”

”Boleh, mau tanya apa”

”Ngg... Joko agamanya apa?”

“Oh, kalau aku agama A, kalau kamu?”

”Aku agama B”

”Yah, nggak masalah tapi kan, kalau kamu agama B dan aku agama A?”

”Iya, nggak masalah lah”

”Yakin kalau perbedaan agama nggak masalah?”, bertanyalah si tuan hati dan pikiran kepada dua manusia ini. ”Ya, masalah juga sih, apalagi di negara ini!”, jawab Joko.

Masalah pertama : nikah beda agama repot! Masalah kedua : kalau sudah punya anak, bingung si anak nanti pilih agama si ibu atau si bapak!

Masalah ketiga : mau teken surat nikah pun harus sepakat di tempat ibadahnya si suami atau si istri! Masalah keempat : pasangan yang sama agama aja harus ngadepin banyak masalah, apalagi kalau ditambah masalah beda agama, ini masalah prinsip nih, Bro!

“Memangnya agama itu apaan sih, Bunda?”, tanya seorang anak kecil umur 7 tahun yang sedang belajar berdoa dengan ibunya.

”Agama itu pegangan hidup kita kalau misalkan lagi ada masalah, Nak”, jawab sang Ibu.

”Kalau lagi nggak ada masalah, udah nggak perlu agama dong, Bun?”, tanya si anak lagi.

”Nggak dong, agama itu akan kita pegang terus sampai kapanpun juga, ada atau tidak ada masalah, agama itu apa yah, agama yah, supaya kita nggak salah jalan, dan supaya kita bisa selalu bahagia dalam hidup ini, Nak”, tandas sang Ibu.

”Yuk, coba posisi duduk yang rapih, sekarang kita bersyukur yuk dan berdoa yang kyusuk”, ajak si Ibu.

”Tapi, aku lagi nggak ada masalah, dan aku kan bisa megang Bunda, kenapa aku harus beragama dan berdoa, aku bingung”, protes si anak.

Si Ibu pun sengaja menutup mata, bersikap berdoa, dan si anak pun mengikuti posisi ibunya, dalam hati masih belum puas karena pertanyaan belum terjawab dengan tuntas.

Memangnya kenapa sih orang mau beragama dan capek-capek meluangkan waktu untuk berdoa dan menjalankan ibadah?

Dari hasil analisa kasat mata saya , ada beberapa alasan kenapa orang mau serius menjalankan agama, yaitu :

1. Masih belum merasa bahagia dan puas dengan hidupnya.

2. Masih belum mendapatkan keinginan dan belum mewujudkan impian hidupnya.

3. Masih ada masalah yang tidak terselesaikan dan belum ada jalan keluarnya.

4. Untuk menghilangkan rasa takut dan gelisah akan hal-hal yang belum terjadi.

5. Supaya hidupnya lebih bernilai dan bermakna lagi.

6. Masih hidup serba kekurangan : kurang duit, kurang sehat, kurang harmonis keluarga dan perkawinannya, dan kurang tenang hatinya.

7. Takut memiliki nasib buruk dan takut mengalami malapetaka dalam hidup.

8. Demi melanjutkan amanah dari orang tua dan sebagai bukti balas budi ke orang tua.

9. Supaya bisa jadi orang kaya, bahagia, sehat, ngetop, dan sukses.

10. Karena sering mengalami musibah dan hal-hal buruk dalam perjalanan hidupnya, dan berharap tidak mengalami masalah lagi dalam hidup.

Kesimpulannya, mau beragama itu karena kita mau mencapai kondisi hati yang kuat, bebas, suci, dan tenang. Setuju atau tidak setuju?

- with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071210 #21

Chocolate Soup For The Soul - enjoy #20 Beauty of Wedding

The Beauty of Wedding

Bulan November dan Desember 2007 ini undangan menikah berkeliaran, berkejar-kejaran, dan berlumuran. Iya. Banyak sekali yang menikah. Spekulasi pertama : banyak yang mengejar supaya bisa punya anak yang lahirnya di tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. Spekulasi kedua : karena takut nggak kedapetan gedung resepsi dan takut biaya wedding tambah mahal kalau ditunda lagi sampai tahun depan. Informasi dari beberapa kenalan EO dan WO pun menyatakan kalau hampir 90% gedung pernikahan di Jakarta khususnya sudah penuh untuk tanggal 8 bulan 8 tahun 2008. Tanggal pernikahan yang ideal dan harapannya bisa membuat perkawinan nantinya jadi ideal juga sampai ajal memisahkan. Angka 8, bagi orang Chinese, adalah angka hoki dan keberuntungan. Perhatikan plat nomor mobil petinggi-petinggi dan pengusaha kelas kakap, rata-rata mengandung angka 8, mulai dari B 8 MM, B 171 CT, B 18 RM, secara fengshui, dengan sering menggunakan angka 8, keberuntungan akan meningkat. Sebaliknya, angka 4 adalah angka yang dianggap sebagai angka sial. Kenapa? Karena dalam bahasa Chinese, angka 4 dibaca “Se” yang artinya mati. Sedangkan angka 8 dibaca “Ba” dan mirip dengan huruf “Fa” yang berarti berkembang/ makmur.

Balik lagi ngomongin soal wedding. Menikah adalah impian banyak orang, mulai dari yang muda (yang akan menikah) sampai yang tua (orang tua dan keluarga yang akan menikahkan). Wedding menjadi moment besar yang krusial untuk menunjukkan jati diri sebuah keluarga dan juga soliditas sebuah generasi. Kakek saya, salah satu contoh nyatanya, di usianya yang ke-75 tahun, impian terbesarnya saat ini adalah menyelenggarakan sebuah pernikahan megah bagi anak cucunya, dan mengundang seluruh kerabat keluarga dan sahabat. “Ada kepuasan yang tidak bisa dijelaskan kalau bisa ngawinin”, ungkap Beliau.

Beberapa kriteria pernikahan indah yang ada di benak sebagian besar orang, kira-kira seperti ini :

Pernikahan di sebuah hotel berbintang lima atau gedung pernikahan yang elite, catering dengan kualitas menu makanan yang teruji enak, gaun pengantin yang indah dan tidak terlihat murahan, undangan dengan desain yang elegan dan didalamnya bisa menuliskan gelar-gelar sarjana dari calon mempelai, ditambah lagi dengan kuantitas tamu yang diundang. Semakin banyak jumlah tamu yang diundang menandakan level dan kelas sosial pihak keluarga penyelenggara pernikahan. Semakin sedikit jumlah tamu yang diundang bukan berarti pihak keluarga tidak cukup mapan kondisi keuangannya, karena ada kemungkinan pihak keluarga mengadakan pesta pernikahan eksklusif RSVP yang jauh lebih mahal ketimbang pesta prasmanan. Untuk menikah, di zaman sekarang ini, untuk yang paling sederhana, minimal harus menyediakan budget Rp 100 juta, untuk undangan sebanyak 500-600 orang, dan di sebuah gedung resepsi non hotel. Dan para dewasa muda dan orang tua pun berjuang keras untuk bisa mewujudkan impian menikah. Yang paling sering terkena imbasnya adalah para kaum adam, yang selama ini, mendapatkan doktrin, kalau pesta pernikahan adalah tugas dan tanggung jawab pihak lelaki (syukur-syukur kalau turunan dari keluarga kaya, beban pun berkurang banget), pihak perempuan tinggal terima beres saja. Namun, kalau zaman sekarang sudah banyak perubahan, pihak perempuan pun turut terlibat banyak dalam proses pengadaan pesta pernikahan.

Untuk keluarga level sosial atas, biasanya, pihak perempuan tidak mau ketinggalan untuk mengeluarkan budget untuk pesta pernikahan, walaupun sebenarnya pihak lelaki sudah sepakat untuk menanggung seluruh biaya. Ada semacam aturan main, kalau pihak lelaki membiayai seluruh pesta pernikahan, pihak perempuan juga harus mengadakan pesta balasan, sebagai penyeimbang. Pihak perempuan pun mengadakan pesta pertunangan yang tidak kalah mewahnya, tak jarang, hanya berselang 1 minggu saja dari hari H pernikahan resmi. Salah satu pesan yang mau disampaikan oleh pihak perempuan adalah kalau keluarga kami (keluarga perempuan) punya kemampuan juga dan anak perempuan kami menikah dengan anak lelaki Anda, bukan semata karena harta loh, karena kami pun memiliki kemampuan yang tidak kalah jauh dari pihak Anda. Ini pesan tersirat – dan mohon maaf kalau hipotesa saya ini salah yah – Anyway, semua orang pastinya berharap dan berandai bisa merasakan keindahan dari sebuah wedding dan rela menabung untuk bisa membayar impian 2 jam berdiri di pelaminan indah bersama pasangan, orang tua, dan mertua. Biaya 1 Miliar pun, sah-sah saja, demi 1 hari seumur hidup bisa mengundang banyak orang dalam sebuah pesta pernikahan indah nan sempurna.

But, still, beauty of wedding is just for 2 hours, dan beauty of marriage is more than just 2 hours. Tanpa bermaksud untuk berpesimistik, tapi ada kisah nyata, seorang teman menikah dengan sangat mewah di sebuah hotel berbintang lima, biaya pernikahan bisa mencapai 1 M, sepertinya, tapi baru 1 tahun pernikahan, they decided to divorce, alasan klise : sudah tidak cocok lagi. Alamak! Sayang banget yah biaya pesta segitu mahalnya, mubazir, karena si mempelai nggak tahan dengan masalah-masalah yang muncul pada 1 tahun pernikahan. I do hope, kisah teman saya ini bisa jadi pelajaran berharga buat kita semua supaya nggak hanya siap dengan keindahan wedding selama 2 jam, tapi siap juga dengan warna warni pernikahan yang bakal berlanjut sepanjang komitmen hidup kita. Salah besar, kalau berpikir, dengan sudah pesta pernikahan dengan lancar, berarti tugas sudah selesai, sebaliknya, tugas baru saja dimulai, story just begins, crisis just begin, kapal baru mau melaju di antara ombak memabukkan dan terumbu indah dalam perjalanan.

- with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071209 #20

Chocolate Soup For The Soul - Enjoy #19 The Power of Money

The Power of Money

”Para pengunjung yang setia, Selamat datang di abad uang, disini Anda bisa dapatkan apa saja dengan uang Anda”, suara seorang wanita menyambut para pengunjung kehidupan.

Di sudut ruang lain, terngiang samar : ”Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang!”

”Tidak setuju! Mau kencing aja sekarang bayar tawuk!”, ungkap seorang bapak usia 40 tahunan. Fakta membuktikan : uang memiliki kekuatan dasyhat untuk mempengaruhi hidup seseorang. Baiklah, pemirsa, langsung saja kita saksikan, inilah realita kali ini, abad uang :

Dengan uang, orang bisa langsung merasa sedih atau senang.

Dengan uang, orang bisa saling membunuh dan menyakiti.

Dengan uang, suami istri bisa melupakan janji sucinya untuk terus saling mencintai.

Dengan uang, orang bisa menjadi lebih baik atau justru menjadi lebih buruk.

Dengan uang, seorang anak bisa membenci atau lebih menyayangi orangtuanya.

Dengan uang, kisah cinta yang indah dan sudah dibina sedemikian lama, bisa kandas juga.

Dengan uang, orang bisa bosan hidup ingin bunuh diri atau justru lebih bersemangat hidup.

Dengan uang, orang bisa merasa lebih berarti dan bernilai dalam hidup ini.

Dengan uang, seseorang bisa merasa lebih percaya diri atau lebih minder.

Dengan uang, orang bisa sembuh dari sakit atau mati sekarat dari penyakitnya.

Dengan uang, orang bisa lebih sering tertawa atau justru lebih sering menangis.

Dengan uang, barang apapun bisa dibeli atau sebutir beras pun tidak bisa dibeli.

Dengan uang, orang bisa lupa apa tujuan hidupnya atau makin sadar dengan makna hidupnya.

Dengan uang, cinta bisa tumbuh atau cinta bisa pupus dalam sekejap.

Dengan uang, seorang karyawan mampu bekerja lebih keras lagi atau justru bekerja setengah hati dan penuh perhitungan.

Dengan uang, orang bisa menjadi lebih sehat atau justru menjadi penyakitan.

Dengan uang, rasa lapar bisa hilang dan rasa kenyang bisa memuaskan.

Dengan uang, orang bisa sakit jiwa atau justru lebih sehat jiwanya.

Dengan uang, keluarga bisa lebih harmonis atau justru lebih hancur berantakan.

Dengan uang, orang bisa melakukan usaha untuk menjadi lebih kuat, bebas, suci, tenang...

Dengan uang, kita bisa menikahi dan memilih orang yang paling kita dambakan.

Dengan uang, tidak akan ada lagi pelecehan harga diri dan nama baik.

Dengan uang, anak-anak pasti bisa terjamin masa depan dan pendidikannya.

Dengan uang, anak bisa membalas budi ke orang tua atau justru durhaka pada orang tua.

Dengan uang, kita bisa naik haji, bisa ziarah ke Israel, dan ziarah keagamaan lainnya lagi.

Dengan uang, kita nggak bakal stress atau justru bakal makin stress.

Dengan uang, tidak perlu lagi merampok atau mencopet orang demi sesuap nasi.

Dengan uang, kita bisa bertahan hidup dan bisa terus ada di dunia ini, kan?

”Tidak setuju!”, protes seorang penganut aliran positivistik yang yakin sekali kalau uang tidak memberikan pengaruh signifikan bagi kebahagiaan seseorang. Martin Selignman, ketua Psikolog dunia, sudah melakukan penelitian mengenai kebahagiaan selama bertahun-tahun, dan beliau pun menyimpulkan bahwa uang bukan kunci dari kebahagiaan. Karena banyak orang yang malah menjadi tidak bahagia setelah memiliki banyak uang dan banyak orang menjadi tidak sehat setelah memiliki banyak tabungan di mana-mana. Tapi, bukan berarti kita tidak lagi mencari uang lagi lah yah, please, back to real, kita butuh makanan, pakaian, dan rumah.

”Ya wis, nggak usah bacot lagi deh, nggak ada duit, nggak idup!”, simpul seorang kenek angkot yang sedang menghitung uang-uang buluk di tangannya.

”Eh, nggak dong, uang bukan segala-galanya...”, masih terngiang suara-suara yang mencoba berdalih.

”Diem luh! Segala-galanya butuh duit! Gua tusuk luh ya, kalau elu masih ngomong lagi!”, pinta seorang pengamen yang sedang berkeliling ke metro mini demi metro mini.

- with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071208 #19

Thursday, December 06, 2007

Chocolate Soup For The Soul - enjoy #18 Life Destination

A Destination of Life...

Jakarta, 7 Desember 2007. Berita Duka Cita : Telah Meninggal dunia dengan tenang dan damai, seorang suami dari seorang perempuan yang sedang mengandung 3 bulan, baru saja menikah 5 bulan lalu. Kemarin 6 Desember 2007 siang hari Pk 13.00. Karena sakit ginjal kronis, di usianya yang belia (26 tahun) sang suami harus meninggalkan istrinya yang masih berusia 25 tahun. Surat nikah mereka masih dalam proses pembuatan. Sang istri masih dalam kondisi syok berat, tidak bisa menerima kenyataan kalau suami yang dipacarinya selama 8 tahun sejak zaman sekolah dulu ini, sudah tidak lagi ada di sampingnya lagi.

Penguburan sudah dilakukan dengan kyusuk dan tenang. Sang istri, untuk sementara berada di rumah orang tuanya, supaya bisa dijaga dengan baik, dari kemungkinan-kemungkinan untuk menyusul sang suami. Kisah cinta mereka penuh lika liku, karena mereka berbeda agama, namun saling sayang, akhirnya si suami pun mengalah dan pemberkatan nikah dilakukan sesuai keyakinan agama si istri. Mahligai pernikahan pun melaju cukup indah. Tapi...

”siapa yang sangka kan, masih muda, tau-tau bisa meninggal juga”, ungkap seorang ibu setengah baya.

”makanya deh, manfaatin waktu sebaik-baiknya, kumpulin deh tabungan kebaikan, kita nggak pernah tau sampe kapan kita masih bisa hidup”, tambah lagi seorang bapak.

”aneh, padahal sudah pacaran 8 tahun, kok nggak ketahuan yah, kalau pacarnya tuh ada kelainan ginjal, bener-bener aneh, katanya sih, ginjalnya dari depan tuh keliatan bagus-bagus aja, ternyata di bagian belakang ginjalnya sudah rusak banget”, seorang ibu berkata.

”padahal surat nikah lagi saya urusin sekarang toh”, ungkap seorang petugas pernikahan.

”tapi....dia belum hamil kan?”, tanya seorang perempuan.

”Nah, itu dia! Dia udah hamil 3 bulan, mati nggak luh!”, timpal si ibu tadi.

“Teman-teman, walau usia masih muda, bukan jaminan umur akan panjang, kesehatan bakal terjamin, buat yang suka begadang, suka ngerokok, suka makan apa aja tanpa batas, pikir-pikir lagi tuh!”, simpul seorang lelaki muda yang memutuskan untuk menjadi vegetarian.

Saya, jujur, bingung mau bercerita mulai dari mana. Cuma mau cerita, hidup seperti sebuah perhentian sementara, setiap orang punya kesempatan untuk menggunakan sisa-sisa hidupnya untuk melakukan apa yang selama ini menjadi tugas kelahirannya. Umur? Ada yang bilang, umur ditentukan Yang Diatas, namun ada juga yang bilang, umur seseorang tergantung dari tumpukan karma baik dan buruk dalam perjalanan hidupnya dari ribuan tahun lalu sampai detik sekarang dia masih hidup. Umur bisa diperpanjang, kok! Siapa bilang? Kalau memang sudah waktunya meninggal, ya meninggal aja toh! Bisa diperpanjang kok! Dengan selalu mengisi hari dengan hal positif, jaga badan, jaga pikiran, selalu happy!

Setahun ini beberapa teman meninggal dunia di usia yang masih tergolong muda. Seorang teman (perempuan, 25 tahun) meninggal dunia sekejap setelah keluar dari gang rumahnya dan ada angkot yang menabrak dirinya. Seorang teman (lelaki, 25 tahun) meninggal dunia karena sakit typus dan demam berdarah secara bersamaan. Ada lagi kisah 4 tahun lalu, teman saya (waktu itu berusia 25 tahun) meninggal dunia ketika melahirkan bayi laki-lakinya yang terlalu besar dibandingkan ukuran panggulnya yang sangat mini. Empat hal yang tidak akan bisa dihindari oleh mahluk di dunia ini : lahir, tua, sakit, mati. Sidharta Gautama, lahir di keluarga yang kaya raya, namun memutuskan untuk keluar dari istana untuk mencari jawaban dari 4 masalah hidup ini. Ayah Sidharta melakukan segala cara untuk membatalkan niat putranya dan berjanji akan memenuhi segala keinginan putranya, asalkan Sidharta mau tetap berada di istana. Sidharta pun meminta satu hal kepada ayahnya. “Baiklah, kalau Ayah bisa membebaskan saya dari 3 hal ini : tua, sakit, dan mati, saya berjanji akan mengikuti kehendak Ayah untuk tetap di istana”, ungkap Sidharta. Ayah Sidharta tidak bergeming dan tidak mampu memenuhi keinginan putranya yang satu ini. Sidharta pun pergi berkelana untuk mencari jawaban dan makna dari kelahiranNya di dunia.

- with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071207 #18

Wednesday, December 05, 2007

Antara Suami Sekertaris Dengan Istri Penulis

Pagi-pagi subuh Pk 04.00, seorang istri bangkit dari ranjang, segera menanak nasi, potong sayur-sayuran di dapur, memasak air panas, menyiapkan makanan di meja makan. Lalu membangunkan anaknya untuk segera berangkat sekolah.

Tak lama, Pk 06.30 si istri segera berdandan, untuk segera berangkat kerja. Di kamar, seorang suami masih tertidur lelap. Mendengkur keras.

Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi. Si suami bangkit dari tidur, membuka tudung saji dan makan pagi. Lalu menyalakan rokoknya dan membuka surat kabar. Dengan kaos oblong dan celana pendek.

Di kantor, si istri lalu lalang dengan berkas-berkas pekerjaannya sebagai seorang sekertaris. Telpon terus berdering dan tiada henti. Si istri pun harus bolak balik menemui atasannya. Terlihat rekan-rekan kerjanya bersantai ria di kala dirinya justru sedang super sibuk. Si istri menelpon ke rumah untuk menanyakan kabar si suami.

Si suami masih dengan posisi santainya menonton televisi dan mengunyah kacang, santai menerima telpon. Tak lama kemudian, anak lelakinya baru saja pulang dari sekolah, ditemani seorang pembantu rumah tangga. Si anak makan siang dan segera tidur siang. Si suami mengantuk dan segera terlelap dalam tidur siangnya.

Si istri masih terus sibuk meeting di ruangan besar dan mencatat notulen meeting. Dengan wajah dan penampilan yang elegan, si istri menjalani profesinya dengan setenang mungkin. Sesekali melihat ke foto keluarganya, ada si suami dan si anak lelakinya.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 17.00. Si suami mencari makanan dan merapihkan rumah, menggosok baju, dan mengepel lantai rumahnya.

Di sisi lain, si istri masih berkutat dengan berkas-berkas, dengan bersama atasannya melewati malam.

Sudah pukul 18.00, si istri sudah siap-siap untuk pulang. Bergegas menuju halte busway, mengantri dalam kerumunan yang sangat padat, sesekali mengantuk dan ketiduran. Menerawang, melihat bangunan-bangunan bertingkat di sepanjang jalan Sudirman.

Di rumah, si suami menemani si anak lelaki mengerjakan pekerjaan rumah dan menemani si anak untuk bercanda. Sambil sesekali si suami melihat ke arah televisi.

Jam sudah menunjukkan Pk 20.00, si istri turun dari angkot dan berjalan menyusuri gang rumahnya yang sudah agak gelap dan cukup terpencil sekali. Dibukalah pintu itu. Dan sang suami dan anaknya menyambut si istri dengan gembira dan senyuman. Si istri memeluk anaknya dan si suami mencium kening si istri. Mereka bertiga makan malam bersama dan tertawa bersama.

Pk 21.00, si anak siap untuk tidur. Si istri menemani si anak membacakan dongeng sebelum tidur, mencium kening si anak, dan merapihkan selimut si anak. Dari luar, si suami melihat si istri dan siap-siap menuju ke satu ruangan di pojok dan membuka komputernya dan mulai mengetik.

Waktu sudah menunjukkan Pk 22.00, si istri masuk ke ruangan kerja si suami dan membawakan secangkir kopi hitam sambil memeluknya dari belakang dan memberikan kecupan sebelum tidur. Menemani sang suami yang sedang mengetik. Si istri memeriksa tas sekolah milik anaknya, lalu si suami memanggil si istri untuk melihat apa yang ada di layar komputer. Mereka berdua tersenyum.

Pk 22.45, si istri segera menuju kamar tidur untuk tidur, sedangkan si suami masih terus mengetik. Si istri tertidur di kamarnya dan memasang weker untuk besok pagi siap-siap lagi beraktivitas.

Pk 03.00, si suami masih terus mengetik di ruang kerjanya, sampai akhirnya Pk 03.45, si suami mematikan komputer dan segera menuju kamar tidur untuk beristirahat. Sebelum tidur, si suami mencium kening si istri yang sudah terlelap sekali.

Pk 04.00, weker berbunyi, dan si istri segera bangkit dari ranjang dan mencium kening suaminya. Segera bersiap-siap menjalani rutinitasnya. Perbedaan profesi, perbedaan jam kerja, bukanlah masalah bagi mereka berdua. Sang istri sebagai seorang sekertaris harus beraktivitas sejak Pk 04.00 hingga Pk 20.00 di luar rumah. Sedangkan sang suami sebagai seorang penulis baru mulai bekerja Pk 21.30 hingga Pk 04.00 dini hari. Dan perbedaan menjadi warna indah bagi perjalanan keluarga ini.

Chocolate Soup For The Soul - Enjoy #17 - Awal Dari Segalanya

Selalu Ada Awal Dari Segala Hal Besar

Kemarin malam saya bertemu dengan teman lama. Dia datang bersama suaminya. Selama setahun ini telah bekerja di Jepang sebagai tenaga kerja illegal, dan baru dua minggu lalu tertangkap basah oleh polisi di Jepang. Dan mereka berdua pun harus kembali ke tanah air dan tidak bisa lagi tinggal di Jepang. Ada banyak alasan mengapa mereka memutuskan untuk kerja illegal disana : gaji yang tinggi walau hanya sebagai pelayan restoran atau sebagai buruh pabrik, dalam sehari bisa mendapatkan sekitar Rp 100-150 Ribu (untuk 8 jam pekerjaan) dan ditambah lagi Rp 100-150 ribu (untuk 8 jam selanjutnya). Berarti sehari bisa mendapatkan Rp 200-300 ribu per harinya. Dikali dengan 30 hari, dapat memperoleh Rp 9 juta per bulannya. Sedangkan di Indonesia, untuk bisa mendapatkan gaji sebesar Rp 9 juta per bulan, at least, sudah harus bekerja selama 3-4 tahun, dan itu pun kalau memang performance kerjanya melebihi dari standard biasa. Untuk standard fresh graduate biasanya per hari dikenakan sekitar Rp 50 – 70 ribu (berarti range sekitar 2-3 juta per bulannya). Tidak semua perusahaan memiliki standard gaji yang sama.

Dan most of Fresh Graduaters akan mengalami tahap kegelisahan yang sama :

“Mau sampe kapan gue begini, dengan gaji begini?”, tanya seorang karyawan yang baru sekitar 2-3 tahunan bekerja dan sudah mulai jenuh dengan pekerjaannya.

“Memangnya standard gaji berapa sih di Indonesia?”, tanya seorang lulusan sarjana yang baru saja wisuda.

“Gue bingung mau kerja apa, udah apply sana sini, tapi gajinya selalu kecil”, ungkap Rini yang sedang bingung mau kerja apa lagi.

“Gue mau buka usaha aja, daripada kerja sama orang dan dapet gaji kecil”, kata teman lama saya kemarin.

”Tapi, yakin udah siap untuk buka usaha dengan segala risiko kerugian yang ada?”, tanya seorang teman saya yang lain.

”Abisnya mau ngapain lagi di Indo, memang ya, gue juga nggak ngerti, di Indo itu mau buka usaha apa, mulainya dari mana, dan harus jualan apa, biar laku”, curhat teman saya.

”Lagi trend tuh jadi agen asuransi, katanya sih omzetnya not bad” , tandas seorang teman.

”Aduh, nggak ah, gue nggak jago ngomong dan jumlah agen asuransi jauh lebih banyak ketimbang jumlah kliennya”, balas teman saya.

Ya, mau gimana donk, jadinya? Kerja sama orang, nggak mau, karena pertimbangan gaji kecil, nggak ada bandingannya seperti waktu kerja kasar di Jepang. Mau jualan, tapi nggak tau mau jualan apa. Mau bisnis yang nggak bermodal gede, tapi merasa nggak bisa ngomong dan nggak pinter nawarin barang. Setelah panjang lebar ngobrol, akhirnya sampai pada kesimpulan, teman saya ini masih tetap menaruh harapan besar untuk bekerja ilegal saja dan mengeruk uang dari profesi ini. Jepang sudah diblacklist. Amerika sedang ketat-ketatnya. Pilihan selanjutnya? Korea. Sekarang, ada agen yang bisa membantu orang-orang Indo yang berminat untuk bekerja di Korea, dengan lebih “legal”.

“tapi, enakan illegal, kalau udah ga betah, bisa langsung berhenti”, kata suami teman saya.

”iya...kalau legal di Korea, kalau misalkan kerjanya berat dan bosnya nggak enak, nggak bisa sembarangan berhenti, bisa kena denda, nggak enak kan”, teman saya menambahkan.

Ini, mau gawe opo mau opo yo?, dalam hati saya bergumam. Saya selalu ingat dengan seorang sahabat saya, yang sering bilang : ”Kalau sudah mencoba sana sini pekerjaan, tapi tetap saja nggak betah, carilah bidang yang memang kita senangi, kalau masih nggak betah juga, mungkin yang jadi masalah, bukan pekerjaannya, tapi mungkin karakter kita yang nggak mau capek untuk mencoba dan berjuang dulu. Dan selalu ada harga yang harus dibayar, untuk mendapatkan satu impian menjadi nyata”. Memang menjadi karyawan harus selalu mulai dari nol, dengan gaji yang cukup minim dan pas-pasan, tapi selalu ada awal dari segalanya. Merasa gaji kok nggak cukup juga? Hidup irit, kurangi belanja dan jajan hura-hura yang nggak perlu-perlu amat, menabung walau hanya Rp 100 ribu per bulan. Cheers.

- with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071206 #17

Chocolate Soup For The Soul - enjoy #16 kembang perawan eps 2

Kembang Perawan – Eps 2
Ketika waktu mendatangkan cinta, aku putuskan memilih dirimu. Setitik Rasa Itu Menetes Dan Semakin Parah…Bisa kurasa getar jantungmu, mencintaiku, apalagi aku. Jadikan aku pilihan terakhir hatimu. Butterfly terbanglah tinggi, setinggi anganku tuk meraihku, memeluk batinmu yang sempat kacau karena merindu (Butterfly, Melly Goeslaw feat Andika)
Lagi suka lagu ini. Lembut. Alunan enak. Romantis. Apa mungkin karena suasana hati pun lagi cocok dengan lagu ini? Pilihan lagu berubah-ubah tergantung suasana hati. Sambungan lagi dari cerita sebelumnya (Kembang Perawan), soal cinta mencintai.
Ketika lagi jatuh cinta, perasaan lebih positif dan imajinasi bisa lebih meningkat.
Dengan mencintai, tubuh lebih segar, hormone endorphin lebih aktif berproduksi.
Ketika lagi menyayangi seseorang, pikiran tidak sekedar terpaku pada diri sendiri saja.
Dengan mencintai, berarti kita belajar untuk memikirkan orang lain.
Ketika menyayangi seseorang, kita belajar untuk berbagi, membagikan segala rasa yang ada di hati dan segala bersit pikiran yang muncul tak terduga.
Dengan mencintai, kita belajar untuk menerima kekurangan orang lain dan juga kekurangan diri sendiri, dengan lapang dada.
Ketika jatuh cinta, apa yang biasanya terlihat buruk, menjadi terlihat biasa saja, bisa ditolerir.
Dengan menyayangi seseorang, kita bisa belajar melihat sisi lain dari diri kita.
Membuka pikiran baru. Bahwa hidup menjadi lebih berarti ketika ada orang lain yang bisa kita jaga dan perhatikan.
Siap jatuh cinta, berarti siap untuk memperhatikan, menumbuhkan, merawat, dan melindungi orang yang kita pilih itu.
Ketika sudah sayang seseorang, seburuk apapun sifatnya, sejelek apapun temperamennya, selalu ada kesempatan untuk memaafkan dirinya. Seperti yang Pipit alami berikut ini :
“Hah, cowok elo udah umur 36 tahun, tapi masih nganggur, dan elo mau sama dia?”, tanya Asti ke sahabatnya, Pipit.
“Dia lagi coba terus kok cari jalan untuk buka usaha”, bela Pipit.
”Iya, udah hampir 2 tahun, dan buktinya? Cowok itu masih nganggur sampai sekarang, Pit!”
”Boleh nggak kalau gue nggak bahas soal ini lagi”, tanya Pipit.
”Pit, pikir dong, pikirrr....apa iya elo mau relain masa depan elo demi cowok seperti itu”
”Please, elo nggak bakal bisa ngerti apa yang gue rasain, kecuali elo ngerasain sendiri”
”Pit, you deserve a better one, beneran!”
“Dari pertama ketemu, gue hanya merasa dialah yang selama ini gue tunggu dan gue bener-bener mau perjuangin hubungan gue dengan dia”
“Mau sampai kapan, Pit?”
“Gue nggak tau, tapi gue sadar kok, dan gue nggak bego, gue masih mikir, ke depannya mau gimana…”
Pipit, wanita muda, masih berusia 26 tahun, tidak sengaja 2 tahun lalu berkenalan dengan seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya. Awalnya, Pipit optimis kalau jadian dengan cowok yang 10 tahun lebih tua, pastinya masa depan bisa terjamin. Umur sudah lebih tua, kepribadian dan kemapanan pun bisa diandalkan, donk. Ternyata, dugaan Pipit keliru. Kekasihnya walau sudah berumur kepala 3, ternyata masih menganggur, masih tinggal dan makan di rumah mama, setiap siang melewati hari dengan menonton tayangan infotainment atau sinetron TV, dan sesekali menjemput Pipit di tempat kerjanya. Pipit dan pacarnya pun jarang keluar rumah, jarang nonton bioskop, jarang makan di café, dan jarang go public, kecuali hanya pacaran di rumah saja, menikmati hidangan masakan ibunya Pipit, dan ngobrol terus sepuasnya. Di mata Pipit, kekasihnya adalah pemberi semangat bagi hidupnya. Nggak peduli, nganggur atau sifatnya kasar kek, yang penting Pipit sayang dan mau sama pacarnya itu. Dan, hanya Pipit seorang yang akan menentukan sendiri akan seperti apa masa depannya nanti. Apakah tetap bersama pacarnya sekarang atau memilih orang lain yang lebih bisa diandalkan dan dipercaya sebagai pelindung Pipit. Love is not just about Love..
- with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071205 #16

Monday, December 03, 2007

Chocolate Soup For The Soul #15 - Kembang Perawan -

Kembang Perawan

Ketika surya menampakkan cahayanya kugapai hari terangku menanti sebuah cerita yang pasti akan terjadi di diriku. Kini kumulai mengerti artinya cinta, walau senda tawa namun hatiku mulai merasa bila dekat lelaki aku pun malu. Akulah kembang perawan, ingin mulai merasa perasaan yang pasti milik semua insan, aku mulai jatuh cinta apa biarlah aku menikmati semua anugerah di hidupku. (Gita Gutawa)

Jatuh cinta? Siapa yang belum pernah merasakan jatuh cinta? Jatuh cinta kepada lawan jenis dan merasakan degup jantung yang semakin kencang ketika berada di dekatnya.

Cinta hadir tak terduga dan cinta pun tidak bisa direncanakan, that`s why we call it FALL in LOVE, terjatuh itu tidak terencana, kan…

Berawal dari tertarik dengan seseorang, merasa senang kalau berada di dekatnya, bisa tersenyum walau hanya mendengar namanya atau membayangkan wajahnya. Lalu mulai secara rutin memberikan perhatian, telpon, sms, atau ajak ketemuan, nonton bareng, makan bareng, dan terus ngobrol tiada henti. Dan cinta pun dinyatakan juga, resmi jadian.

Seperti sudah jadi budaya dan kewajiban, ketika sudah resmi jadian, pastinya harus melakukan hal-hal berikut ini nih :

Bangun tidur sms dan ucapin selamat pagi. Makan siang ingetin jangan lupa untuk makan. Menjelang sore telponin untuk tanya kabar. Janjian ketemu : makan malam bareng, nonton bioskop bareng, atau dijemput di kantor. Then pulang ke rumah masing-masing. Sampai rumah harus kasih kabar, lewat sms atau lewat telpon. Lalu ingetin supaya mandi, dan berdoa sebelum tidur. Sebagai penutup keseharian adalah kirim sms ucapin selamat tidur dan I Love You. Yang menjadi ritual wajib adalah : jangan lupa makan, ati-ati di jalan, I miss you, aku sayang banget sama kamu, dan mimpi indah yah semoga ada aku di dalam mimpiku. Dan most of couples melakukan hal yang sama ini. Pulsa telpon dan sms membludak ketika cinta masih hangat-hangatnya, untung ada telpon-telpon CDMA yang ngerti banget kalau orang tuh butuh pulsa murah untuk menikmati masa-masa jatuh cinta. Dan ada lagi ritual yang seolah kudu dilakukan ketika resmi jadian, bagi sebagian orang, yaitu untuk mengganti kata “gue” dengan “aku”, dan mengganti “elo” dengan “kamu”. Kakak lelaki saya contohnya, waktu masih pdkt, dia selalu pakai “gue elo”, tapi ketika resmi jadian, langsung deh pakai “aku kamu”. Lucu aja pas pertama-tama denger, secara, saya tuh tau banget, dia tuh cowok yang tidak terbiasa untuk pakai “aku kamu”, selain untuk urusan kerjaan formal di kantor.

Resmi jadian pun berarti sudah boleh :

1. Pegangan tangan dan merangkul dia.

2. Jujur kalau memang lagi nggak ada uang dan nggak bisa traktir (khusus cowok nih :D)

3. Sedikit mengurangi frekwensi sms dan telpon (toh, yang penting kan udah dapet dan resmi)

4. Ajak dan diajak ke acara keluarga, seperti : kondangan salah satu sepupu pacar kita, dan memperkenalkan pacar kita, ini loh pacar saya, Om….

5. Marah kalau lagi kesel dan capek (kalau masih pdkt, biasanya masih tabu banget, karena takut nggak dapet!)

6. Pelukan, Kissing her/ his lips (ups…ini yang belum boleh pas pdkt, then kalau udah resmi, semua pihak pun bersyukur, akhirnya….), dan non stop bersandar di bahu/ pundaknya.

7. Go public dan memperkenalkan kemana-mana, mulai dari kondangan teman sekolah, reuni sekolah, teman-teman komunitas, dan genk-genk kita.

8.Mengurangi jalan-jalan ke mall dan agak irit, jadi cukup dinner di rumah saja sudah cukup (beda waktu pas pdkt, hehehehe, gengsi dong, kalau nggak ajak ke café yang cozy dan gaul).

Apa lagi yang sudah boleh dilakukan kalau sudah resmi jadian? Tambahin sendiri saja yah.

Seorang teman (cowok) baru jadian 1 bulan, dan sudah bosen banget, karena setiap dua jam sekali pacarnya terus telpon (secara, esia ke esia gratis bo), dan teman saya ini pun decided to break up aja, nggak tahan bo, nggak ada rasa, nggak seru lagi, dan nggak ada topik, sekian kali dia menghindari telpon pacarnya itu, dan kesimpulannya simple saja : he`s just not into her! + sesuatu yang berlebihan itu memang efeknya kurang baik.Cheers.

- with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071204 #15

Chocolate Soup For The Soul #14

The Power of Smile

Bangun tidur, kuterus tersenyum. Buka tirai lalu mata melihat cahaya matahari. ”OK...hari ini aku harus bahagia....”, teriak seorang lelaki muda yang berjanji untuk menjadi orang yang lebih bahagia dan tau terima kasih dalam hidup ini. Selama hampir setahun ini, saya banyak belajar dari seorang teman, seorang lelaki asal Flores, yang unik dan suka sekali melucu. Setiap hari selalu ada cerita baru darinya. Dari yang lucu, apes, sampai yang mengejutkan. Kisah apes yang dia ceritakan, selalu bisa berujung jadi cerita lucu. Hobinya : melawak dan menggoda orang-orang di sekitarnya. Mencela dengan gaya khasnya yang kocak. Memuji wanita-wanita yang dia temui, dan dia bilang “Elo tuh cantik deh”, kalau dibalas “ah, gombal loe!”, dan teman saya akan langsung bilang “Gue tulus kok dari hati yang paling terdalam gue…” Ada satu hal yang menarik banget dari kebiasaan teman saya yang satu ini, yang saya pikir, bisa dicoba! Setiap bangun tidur, teman saya akan langsung bangkit dari kasur dan berkata “Hari ini saya pasti bahagia!”. Sedikit maksa, karena dia masih ngantuk, tapi sudah harus bangun tidur, dan harus siap-siap menuju kerumunan penumpang busway Jakarta yang semakin hari semakin menggila saja. Dalam kesehariannya, wajahnya penuh senyum, dia seorang pendengar yang baik dan penuh perhatian, selalu mencari sisi lucu dari segala situasi, dan jarang terlihat serius/ stress. Ternyata dia pernah stress juga! Dan manusiawi juga, kalau dipikir-pikir, hidup pasti akan ketemu satu masa dimana kita perlu rehat sejenak untuk menenangkan hati, hidup dalam kesendirian, mendengarkan suara hati yang paling jujur, dan mengumpulkan energi lagi untuk kemudian bergaul dengan orang lain, dan berbagi rasa dengan orang lain.

Pengaruh satu orang bisa merubah hidup kita menjadi lebih baik lagi atau lebih buruk lagi. Ini mungkin kesekian kalinya saya membahas hal yang sama. Kalau kita sering bergaul dengan orang yang positif, lama-lama kita pun bisa terpengaruh untuk jadi positif juga. Dan sebaliknya, kalau sering bergaul dengan orang yang negatif dan sering mengeluh, lama-lama kita pun bisa terpengaruh untuk jadi negatif juga. Terbukti nyata! Sejak bergaul dengan teman yang satu ini, hampir setiap hari saya jadi lebih sering tertawa, terpingkal-pingkal sampai perut sakit. Kadang hanya lelucon sederhana, tapi karena melihat wajahnya saja sudah mau ketawa, akhirnya apapun yang dia lakukan pun jadi lucu. Sumber kebahagiaan tetep dari diri sendiri, tapi ada stimulus-stimulus dari luar yang kadangkala bisa memicu kita untuk tertawa dan tersenyum lebih sering. Itu cerita satu teman saya, lelaki.

Belakangan ini, saya bersama 7 orang teman perempuan, secara rutin latihan menari tradisional, untuk peringatan pesta malam tahun baru, dan ternyata latihan menari adalah kegiatan yang super-super efektif untuk bisa sering tertawa sampai keluar air mata dan sakit perut. Kita bukan penari, tubuh kaku, gemulai sedikit pun tidak, tapi hanya dalam waktu 1,5 bulan mendadak harus menjadi penari yang lembut gemulai dan feminin. Awal pertama latihan, penuh dengan gelak tawa, gerakannya aneh, mayoritas dari kita pun termasuk cewek-cewek tomboy yang gahar dan sedikit kasar, membuat pelatih nari sering geleng-geleng kepala dan menyerah, ketika melihat kita sudah berusaha keras untuk gemulai, tapi tetap saja tidak gemulai! Hampir setiap sesi latihan, ada bagian gerakan yang bikin kita tertawa seperti orang gila, lepas bebas, dan kalau dibikin video, bakal kelihatan banget, kita ini memang penari amatiran yang mencoba untuk gemulai dan menghibur penonton. Latihan menari pun menjadi moment yang menyenangkan, keluar keringat seperti olah raga aerobic, tertawa bareng, dan selesai latihan langsung ngemil kue. Sesekali ada yang nyeletuk, “Gila yah, kita makannya seperti KULI aja nih” Kalau ada waktu, ada kesempatan, dan ada niat, boleh juga mencoba untuk belajar menari. Menari, selama ini identik dengan perempuan yang lembut, atau lelaki yang gemulai, ternyata nggak juga donk. Siapapun kalau mau coba, bisa aja! Seumur-umur, menjadi penari itu adalah impian nomor terakhir dalam benak saya, nggak pernah terpikir sekali pun untuk jadi seorang penari. Tapi mana sangka, tau-tau ada order yang menawarkan saya dan teman-teman untuk menari :D bener-bener impossible is nothing! - with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071203 #14

Chocolate Soup For The Soul #13

You Are What You Say, You Are What You Think

Kemampuan bahasa mencerminkan kemampuan berpikir seseorang. Bahasa yang digunakan menjadi refleksi tingkat kemampuan berpikir seseorang. Setujukah dengan premis ini? Bicara soal bahasa, ternyata bahasa Indonesia itu bahasa yang menarik, dan lucu, diantaranya kata-kata berikut ini, mari kita nikmati bareng-bareng :

Apakah makna dari kata-kata “sentil, sambit, sundut, jewer, gaplok, tampol, towel, tonjok, jambak, gebok, sengkat, cebok, gembok, gampar, tampa, santet, sableng, sumpel ” ?

Bahasa-bahasa gaul pun bermunculan, dan menjadi simbol dari lifestyle seseorang. ”Bo, Bo, please deh, apa nggak ada yang lain gitu loh, Bo”, kata seseorang yang gaul. Orang gaul biasanya mengakhiri kata-katanya dengan ”Bo”, memanggil orang tidak dengan namanya tapi dengan ”Bo”. Di salon kecantikan pun seringkali petugasnya menggunakan kata akhiran ”Bo”, supaya lebih akrab dan lebih gaul, gitu loh. Awalnya, saya jarang menggunakan kata ”Bo”, sampai akhirnya berkenalan dengan para ”Bo” users, saking keseringan bareng, akhirnya terpengaruhlah juga saya. Lain lagi ceritanya ketika lagi sering bergaul dengan teman-teman Jawa, yang masih kental sekali logatnya, setiap hari bergaul dengan orang Jawa, kebawa juga, dengan istilah-istilah gaul mereka : piye toh (gimana donk), saiki (sekarang), ora iso (gak bisa), gek opo (lagi apa), bajigur (damn), ora ono (gak ada), dan juga matur nuwun (terima kasih). Di sisi lain, ada juga sekelompok teman yang sangat hobi ngomong kasar dan sumpah serapah, seorang teman asal Menado sangat suka sekali bicara ”Cukimay” (ini bahasa kasar banget, lho, nggak tau tapi artinya apa), tiap kali hampir keselip mobil di kemacetan, teman saya yang satu ini akan langsung spontan ngomong bahasa ini. Ada lagi seorang teman, cewek funky gaul gila banget, sangat hobi mengucapkan kata ”Tai Kucing luh!” atau ”Katro Luh! atau ”Deso dasar!”. Kasar banget ya rasanya, tiap kali denger begitu, saya suka ngilu sendiri, duh, kalau saya sih kalau dibentak dengan kata ”Tai Kucing Luh”, rasanya sih bakal sakit hati nggak yah, secara, saya itu sensitif banget dan lumayan mudah tersentuh dengan bentakan-bentakan yang kasar. Tidak jarang, saya pasti complaint sama teman saya yang hobi untuk bilang ”Bego luh!” atau ”Goblok banget sih luh!”, dan saya akan bener-bener bilang betapa saya nggak suka kalau saya diomongin dengan bahasa kasar itu.

Dan honest to say, di keluarga saya pun, ada kebiasaan untuk menggunakan kata-kata kasar seperti itu, sehingga saya pun sering complaint dan dikenal sensitif banget. ”Kan, cuma kata-kata doank, gitu aja kesel, payah deh ah”, biasanya saya akan dicomplaint balik seperti itu. Tapi, seiring dengan complaint-complaint saya, sekarang kebiasaan kata-kata kasar itu sudah jarang mampir di telinga saya, terutama di keluarga, udah jarang sekali bermain dengan kata-kata kasar. Fortunately. Saya percaya, bahasa yang kita gunakan setiap hari terus-menerus, tanpa sadar akan melekat di pikiran, dan mempengaruhi gaya berpikir kita. Dan sebagai orang yang beradab dan berpendidikan, hal pertama yang musti dijaga adalah kata-kata yang dipakai deh (Setuju?). ”A...lah, jaim, apa adanya aja, kale!”, protes seorang yang hobi mengkonsumsi kata-kata kasar. Hehehe, semuanya teuteup kembali lagi kepada masing-masing kita. Mulutmu harimaumu, hati-hati aja kalau berhadapan dengan lingkungan tertentu yang tabu untuk bicara kasar, dan first impression itu penting banget, kan. Kalau dari awal kenal, orang sudah melihat diri kita kok mahir banget omong jorok dan omong ”kebun binatang”, dia yang tadinya berminat untuk pedekate atau mungkin kerja sama bisnis, bisa ilfil, dan takut kali yah sama kita.

Selama masih bisa berbicara, lidah masih berfungsi, kenapa tidak, kalau kita manfaatin sebaik-baiknya, keluarin kata-kata yang indah dan positif saja, kurangi kalau perlu tumpas saja bahasa-bahasa kasar yang bisa menyakiti perasaan orang lain yang mendengar apa yang kita katakan. Bisa karena biasa. Bisa ngomong kotor/ kasar, karena terbiasa ngomong kotor. Bisa ngomong yang sopan, pun karena sudah terbiasa ngomong sopan. Dan dengan sering bergaul diantara orang-orang yang positif, kita pun bisa jadi positif. Yeah..:D

- with a good heart, everyday is a good day – maeya 20071202 #13