Monday, October 22, 2007

Kita kan Baik-baik saja, Kan?

Jakarta, 22 October 2007

Dan kata terakhir tidak selalu harus menyedihkan, kan?

Tidak semuanya harus hitam dan putih, karena masih banyak warna lain yang lebih indah untuk kita berdua, bukan?

Argh, dia mendadak bilang : terima kasih yah, bilang seperti itu untuk diri ini. Dan kutermenung bertanya dalam hati. Apa maksudnya? Dan pertanyaan ini takkan mudah dijawab olehnya, hanya dia dan Tuhannya yang bisa menjawab dan bisa mengerti makna dari selenting kata-kata itu.

Sepertinya saatnya sudah tiba, ketika meniti kenyataan baru, bahwa cinta tidak seharusnya begini. Cinta bukan mengawang-ngawang tak berujung. Cinta bukan bermain-main tanpa lelah. Anak kecil pun harus tidur setelah bermain-main seharian. Begitu pula cinta, cinta tidak seharusnya dipaksa untuk terus menerjang deraan terjal yang melelahkan.

Tapi, hanya satu pinta hati ini. Bisakah kita tetap seperti ini saja? Tidak perlu ada kata terakhir untuk menyudahi seperti kisah-kisah roman yang hanya berujung pada dua pilihan : sedih atau senang saja. Dan bisakah kita tetap sedekat ini? Kubertanya bagaimana kabarmu? Lalu kau bertanya apa yang sedang kulakukan saat ini? Tanpa pertentangan, tanpa kebencian, tanpa kekecewaan terpendam, tanpa keluhan tersembunyi…Yang tersisa, hanyalah harapan bahwa kita ternyata masih bisa baik-baik saja, tanpa harus saling menyakiti, saling mengkhianati, ataupun saling melukai…

Cih… ada orang bilang, itu semua teori. Pokoknya, harus dipilih! Iya atau tidak! Tidak bisa di tengah-tengah seperti itu.

~ Kepala pening ~

Pernahkah merasakan dada sesak, kepala nyut-nyut, lalu melayang-layang, terhuyung-huyung, seolah siap terjatuh terkulai?

INT. – Sebuah Pusat perbelanjaan. – Tadi Siang –

Hampir saja kuterhuyung, kepala tak lagi kokoh, berat badan pun tak lagi seimbang lagi, sekejap kuseperti tidak memiliki tubuh ini. Dimana energi itu. Sempat terkuras dengan berbagai pertanyaan hidup.

~ Pertanyaan-pertanyaan hidup ~ Kepala semakin pening

Dan di saat kepala ini serasa mau meledak dan meletupkan berbagai kegalauan dan pertanyaan, ku malah berhadapan dengan seorang teman yang – entah karena angin apa – menghampiriku dengan segala pertanyaan berat yang selama ini telah menguras energi dan perasaanku. Dia seperti seorang malaikat yang hadir karena telah kuundang sejak lama, sejak kepeningan menemani mimpi-mimpiku di malam hari. Dan malaikat ini hadir untuk membantuku merapihkan benang-benang kusut yang belum juga bisa terurai. Dia hadir untuk menjadi teman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kusimpan sendiri dalam kepalaku, dadaku, tanganku, coretan di kertas sembarangku. Iya, dia telah sedikit membantuku, sekaligus menambah pertanyaan-pertanyaan baru yang memekakkan saraf-saraf otak ini.

Buat apa sih elo beragama?

Ketika ada masalah, gue punya pegangan hidup, dan gue mendapatkan jawaban dari masalah-masalah itu.

Dan agama bisa memberikan semua jawaban itu?

Gue yakin bisa, kecuali hal-hal yang memang sudah tertulis secara gamblang di kitab suci, kalau itu memang tidak ada jawabannya, dan ujung-ujungnya akan terjawab dengan : “Inilah karma, inilah takdir, inilah jalan hidup, ini memang sudah harus terjadi, dan sebagainya…”

Apa dengan menjalani agama, elo pun merasa puas dengan hidup elo?

Semuanya dalam proses, dan jujur saja, kadang kala, ada beban besar ketika menjalani semua ini, karena dimanapun gue berada, gue membawa agama itu, dan perilaku buruk nantinya bisa merusak makna dari agama itu.

Tapi agama tidak seharusnya menambah beban elo?

Iya…

Nggak bener kalau agama malah memberikan beban buat elo?

Begini, sederhana saja, seringkali orang beragama terlalu sibuk mengurusi hal-hal besar, mencoba membantu korban kelaparan, mencoba menolong korban perang, mencoba melakukan aksi sosial di luaran, hingga lupa kalau ada hal kecil yang seringkali terabaikan. Keluarga. Padahal keluarga adalah arena untuk membongkar semua kebobrokan hati ini, dan hanya di dalam keluargalah, semua sifat asli yang buruk ataupun baik bisa terkuak.

Tapi, seperti ada yang mensugesti diri elo, apa bener agama hanya seperti itu saja?

Entahlah, tapi di pikiran gue, ada yang kurang, ketika di ruang lingkup ini, gue belum bisa memberikan perubahan sederhana yang membahagiakan orang-orang terdekat.

Nanti elo bisa tertekan karena agama, kenapa tidak jadi diri sendiri saja apa adanya?

Bukannya nggak jadi diri sendiri, tapi… well, ini masalah prinsip, gue malu kalau di luar bisa baik, tapi di dalam kandang sendiri malah amburadul. Dan buat gue, ini penting sekali, ini pertapaan penting buat gue, dan ini misi penting yang besar dalam hidup gue, susah mungkin untuk dijelaskan. Ketika orang sibuk mengurusi politik besar di organisasi, gue lebih memilih untuk merapihkan kondisi di keluarga gue.

Apa elo berniat mengubah kondisi keluarga elo?

Nggak. Bukan seperti itu, tapi gue selalu belajar bahwa keluarga adalah cerminan paling terdekat, untuk tau sudah sebersih apakah hati ini. Bukan berarti gue merubah keluarga dan orang lain. Gue nggak bisa merubah orang lain, gue hanya bisa merubah diri gue sendiri, supaya tidak melakukan kesalahan-kesalahan seperti yang sudah pernah terjadi di riwayat keluarga gue.

Tetep saja, elo sedang memaksa untuk tidak menjadi diri sendiri, Sayang…?

Yah, mungkin bisa terlihat seperti itu, tapi inilah pilihan hidup gue, gue mencoba untuk lebih bahagia dan tenang, dan menyelesaikan tugas-tugas kelahiran gue, nggak hanya mengejar hal-hal yang selalu saja dikejar orang banyak. Dan gue pun pernah mengejar itu juga.

Oh ya, elo percaya dengan kekuatan karma?

Iya, percaya. Tiap orang punya karma masing-masing, dan punya kekuatan terpendam untuk mengatasi karmanya pada kehidupan kali ini. Gue pernah ada contoh nyata, seorang teman lama, mamanya meninggal ketika melahirkan dia, lalu dia giat menjalankan agama dengan harapan bisa mengatasi karma keluarganya (meninggal di usia muda), namun ketika dia melahirkan, dia juga meninggal. Kalau secara karma, kita mungkin bisa dengan mudah bilang, yah kok udah beragama tapi masih bisa mati muda juga? Tapi kalau dari sisi sains, tidak mengherankan, bisa jadi, dia memiliki kondisi tubuh dengan panggul kecil seperti mamanya, dan ketika melahirkan pun sulit sekali untuk mengeluarkan si bayi, seharusnya dia pun bisa menghindari karma ini, dengan memilih metode Caesar, jangan memaksakan diri untuk melahirkan secara normal. Ini salah satu contohnya. Dan buat gue, siapapun tidak berhak untuk menganalisa karma orang lain. Ketika ada orang yang bertahun-bertahun religius namun belum juga robah nasib, bukan hak kita untuk bilang ada yang salah dengan dirinya maupun dengan hati kepercayaannya. Tidak! Karma bukan untuk digunakan untuk menganalisa orang lain. Urus saja diri sendiri, itu sudah sangat-sangat cukup.

Ada yah seperti itu? Jadi di mata elo kekuatan agama bisa merubah karma dan nasib seseorang?

Yes, tapi jangan sampai salah kaprah dalam menilai karma itu sendiri. Seperti ini, misalnya, sering kali gue mendengar ada omongan selenting, kalau rajin berdoa, rajin berbuat baik, nanti bisa beruntung nasibnya, bisa menikah, bisa mendapat pasangan yang sempurna (kaya, baik, cantik/ ganteng, dsbnya), lalu kalau tidak menikah? Ah, berarti something wrong tuh dengan apa yang selama ini dilakukannya. Dangkal sekali jika agama hanya diukur dari berapa banyak mobil yang dimiliki seseorang, diukur dari seberapa mewah pesta pernikahannya dengan pasangan hidupnya, dan hanya diukur dari segala sesuatu yang kasat mata saja. Ada juga kasus, seorang wanita muda, di usia yang belia sudah mati tertabrak motor, lalu terdengar sayup-sayup, ada yang meragukan kekuatan agama, buat apa beragama tau-tau mati muda juga tuh. Agama pun dipersalahkan. Bukankah setiap orang akan mati pada akhirnya? Bukan berarti pasrah pada nasib yang ada, tapi kurang bijaksana jika hanya menilai sesempit itu saja. Manusia lahir dengan membawa jutaan karma di kehidupan masa lampau, buruk dan baik, dan tidak cukup jika hanya berbuat kebaikan dalam hitungan tahunan saja, lalu bisa sekejap menjadi sempurna, dan tidak juga bijaksana jika kita hanya memandang orang yang telah mati muda ini, telah gagal sebagai manusia, pada kehidupan kali ini. Memang, jika bisa lahir dengan usia panjang dan mengisi hidup dengan hal-hal bermanfaat, itu suatu rezeki besar dan keberuntungan besar, yang tidak ternilai. Tapi bukan berarti, ketika seseorang berhadapan dengan kematian, kita langsung menilai, ada yang salah dengan dirinya dan caranya menjalankan agamanya. Kalaupun memang ada yang salah, bukanlah tugas dan hak kita untuk menganalisanya. Sekali lagi, urus saja kejelekan diri sendiri, itu sudah lebih dari cukup. Selebihnya barulah mencoba memberikan manfaat bagi banyak orang, dengan ketulusan hati tentunya.

~ Pening sedikit berkurang ~ diskusi bersambung nanti yah…

Mengatasi kemarahan, kebencian, dendam, butuh banyak waktu, tidak bisa hanya dalam sehari dua hari saja. Ada sebuah cerita, seorang pemuda diminta oleh ayahnya untuk membawa sekantong ikan busuk seberat 1 kg. Selama seminggu lamanya, pemuda ini membawa kantong ikan busuk ini, dengan sekuat tenaga menahan bau busuk yang semakin menggila, menahan rasa pegal di tangannya. Entah apa maksud dari ayahnya. Lalu kembalilah si pemuda ini kepada si ayah, dan si ayah memintanya membawa sekarung beras seberat 10 kg, dan hanya untuk berjalan sepanjang 500 meter saja, si pemuda dengan sekuat tenaga membawa karung beras yang berat itu. Anehnya, langkahnya lebih cepat dibandingkan ketika dia membawa kantong seberat 1 kg itu. Kembalilah si pemuda pada si ayah. Lalu si ayah bertanya, apakah anaknya lelah? Si anak menggeleng, walaupun 10 kg, tapi hanya 500 meter saja, itu tidak masalah. Mana yang lebih melelahkan : membawa kantong 1 kg selama seminggu atau karung 10 kg dengan jarak 500 meter? Si anak pun mengakui, kantong 1 kg lebih melelahkan, walaupun ringan, tapi tangannya tidak boleh melepaskan kantong itu barang sedetikpun.

Kantong ikan busuk seberat 1 kg yang dibawa selama seminggu, mirip seperti rasa benci dan marah kita karena hal sederhana, yang terus kita bawa selama bertahun-tahun lamanya, mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur lagi. Tentunya melelahkan jika terus menggenggam erat kantong busuk itu, kenapa tidak kita memilih untuk melepaskan kantong itu dan membuang jauh-jauh aroma baunya dari hidup kita? Itulah kebencian, seringkali selama seumur hidup, kita membawa rasa kecewa, sedih, benci, marah kepada suatu kejadian atau orang-orang yang pernah mengecewakan kita, dan terus membawanya sepanjang hidup kita. Perlahan bau busuk (kebencian) pun menggerogoti kebahagiaan hidup kita.

Masihkah ada orang atau peristiwa yang saya benci dan sesali sampai saat ini?

Tuesday, October 09, 2007

A Night Before

Jakarta, 9 Oktober 2007

- a night before departure –
We just had a very nice time, just the two of us.
We shared those dreams, those memories, and those hopes.
Count our blessings together.
Wish for a better future, a better living, and a better destiny.
And we realized, by the time, we will grow up together..
We will fight for the greatest effort J with a smile accompany us.

My friends,

Life is a simple, hence, beautiful, but we just often make it such a complicated story line.
With a simple pattern of life, shimmered by a grateful feel and positive sense, life would be such a lovely lovely game field to be played with.
I love you, though, love is a very absurd thing to say, to express, and to feel.
At least, I can make sure, for now, that I do love my life, I do need my love to my life, and I do hope you all will feel the same as mine.
And, everything will just change and change. We`ll try to look ahead, not just look back all the pasts. Thank you for my pasts, thank you for my nows, and thank you for my nexts.

EXT. Cozy Café. – Night –
Cast : You and Me.

“You`re great”
“Oh ya?”
“Yeah, I`m serious”
“Ehm…thank you..”
“I do hope I could do something for you”
“Hey, how nice, I like it”
“Haha..so…I`m serious with what I just said to you”
“What`s that?”
“To be your manager”
“OK…”
“So…soon right after this, deal?”
“Yeah…Lucky me”
“No…Lucky me”
“No..lucky me…”
“OK, lucky us..”

Sebuah pesan untuk Dewa Adramius :
Dari jauh, doa untukmu selalu, hatimu segera tenang, damai, bisa melepas luka dalam hati sedari dua tahun ini. Ketika kamu harus bertarung dengan rasa cinta dan benci, ketika kamu harus terlihat tegar di kehancuran hatimu, dan ketika kamu harus belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua hal dalam hidup ini berjalan sesuai dengan keinginan kita.

Catatan kecil untuk Dewa Jalayrus :
Keheninganmu memecahkan kegalauan hati banyak manusia, namun, kehadiranmu menjadi pendingin panasnya sukma bumi ini. Dan kamu menjadi jalan pembuka untuk siapapun, untuk lebih menyayangi dirinya sendiri apa adanya, tanpa harus bertopeng untuk mendapatkan pengakuan hidup.

Puisi terakhir untuk Dewa Tiberius :
Walau berkali-kali kita sadar, jalur salah telah merasuki diri kita, namun, segala cara tetap kita coba untuk melawan arah angin yang ada. Alhasil, kita tersoak-soak dalam keletihan tak berarti, tak berujung, hanya wujud masokisme manusiawi yang menyedihkan. Ya ampun, Dewa, sepertinya, arak kuning sudah membuat mabuk kepala ini, bukan? Sampai-sampai, hanya samar saja terlihat di wajah hamba ini. Sadarlah mentari sudah di depan pelupuk mata, tidak bisa lagi bermabuk-mabukan seperti pecundang lagi di antara para pengecut.

Doa dan harapan untuk Dewi Cupid :
Selalu ada harapan, hidup pasti bisa lebih berisi cinta dan harapan positif, bahwa siapapun bisa merasakan cinta abadi di dalam hati, tanpa sedikitpun dengki, iri, marah, dendam dalam hati ini. Dewi Cupid pun pasti bisa banyak tersenyum ketika merasakan getaran cinta tersebar di antara manusia-manusia ini. Sesekali, bolehlah Dewi, beristirahat sejenak, merasakan harumnya bunga Krisan putih di sisi ruang damai itu.

Pujian syukur untuk Dewa Belarmius :
Lahir untuk bersenang-senang di bumi, lalu berterimakasih atas kesenangan itu, dan setiap kali teringat untuk memaafkan kekhilafan diri sendiri dan orang lain. Terima kasih.

- Minal Ai Din Wal fa idin, Mohon Maaf Lahir Batin -

Selamat hari raya Idul Fitri (Oktober 2007)

Friday, October 05, 2007

If Tomorrow Never Comes

Jakarta, 5 Oktober 2007

If tomorrow never comes?

Menemui orang-orang yang pernah menorehkan kisah luka di masa lalu, minta maaf padanya…

Melunasi janji-janji yang belum terpenuhi…

Minta maaf pada orang-orang yang sudah sejak lama sepatutnya kumaafkan…

Menyatakan rasa sayang yang selama ini terpendam…

Melepaskan semua keinginan egoisme diri sendiri…

Memberikan senyuman terbaik untuk semua orang yang kita temui…

Merasakan udara berhembus lepas…

Memaafkan diri sendiri karena selama ini sudah sering khilaf…

Memberikan kecupan terakhir untuknya, pelukan terhangat untuknya…

Merapihkan semua masalah dan urusan yang selama ini tertunda…

Menyadari detik-detik terakhir hidup ini…

Dan…

Jadikan setiap hari seolah hari terakhir hidup…hari esok belum tentu hadir, bukan?

I love you everyday…I need you everyday…I wish you every minute…

Wednesday, October 03, 2007

Terima Kasih...

Masih ingat dengan 1000 hal yang patut disyukuri dalam hidup ini?
Sekedar review ulang lagi, supaya bisa lebih bersyukur dan menyadari indahnya kehidupan ini…
Terima kasih atas hari ini…
Terima kasih atas nyawa hari ini…
Terima kasih atas kesehatan tubuh ini…
Terima kasih atas sempurnanya bagian-bagian organ tubuh ini…
Terima kasih atas pangan, sandang, papan saat ini yang begitu berlimpah…
Terima kasih atas keluarga yang begitu menyayangi diri ini, orang tua, keluarga besar, saudara-saudara, semuanya…
Terima kasih sahabat-sahabat terbaik, orang-orang di sekitar, rekan kerja, atasan kerja, perusahaan tempat bekerja, semuanya…

Terima kasih atas pekerjaan yang menyenangkan...

Terima kasih atas pembantuku yang sudah 19 tahun di keluarga ini mengabdi…
Terima kasih atas segala kesempatan dan pengalaman berharga, mulai dari masa kecil, TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja…sampai saat ini…
Terima kasih atas kesadaran untuk berterimakasih seperti sekarang ini…
Terima kasih kepada Nammyohorengekyo…
Terima kasih kepada seluruh alam semesta…
Terima kasih kepada bumi ini, semua jagad semesta…
Gan en …
Dua hal yang tidak bisa ditunda dalam hidup ini : berbakti kepada orang tua dan berbuat kebaikan…
Terima kasih, Hidupku…
Terima kasih, Semua orang, semua benda, semua mahluk di bumi…
Dan…
Maafkan semua orang yang pernah kusakiti…
Terima kasih sudah pernah menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidup ini…
Terima kasih atas segala nafas, gerakan, dan juga harapan dalam hati ini…

Tuesday, October 02, 2007

Hilangnya Taman Lourdes

Jakarta, 2 Oktober 2007

“…Hidup menjadi begitu sederhana, ketika kita tau apa yang penting untuk dikejar dalam hidup kali ini…”

Well, ketika dunia menjadi riuh ramai dengan hal-hal hedonis, emosi sesaat, nafsu untuk memenangkan harga diri, dan juga obsesi untuk membuktikan siapa “saya” sebenarnya. Segelintir orang berlari-lari mengejar hal yang absurd dan entah apa makna yang ingin diperolehnya. Dan sebagian orang tergeletak dalam pertanyaan hidup : “Apa sih maunya mereka! Aneh sekali, melebih-lebihkan sesuatu yang biasa, membesar-besarkan hal yang sederhana, atas nama harga diri. Halah! Makan tuh harga diri, biar kenyang! Dalam hati ada yang bergumam…”

** Sigh **

Kulihat dia dari sebuah ruang penuh sesak, hanya dari kejauhan kulihat bayang-bayangnya. Argh, lagi-lagi, dia itu hanya manusia bodoh yang mencoba untuk terlihat sedikit pintar, dengan bergaya bak seorang raja minyak besar, nyatanya, dia itu kosong, nggak ada isi! Tapi, mencoba untuk mempesona untuk bisa dipuji nantinya. Kasihan. Hidup seperti itu mana bisa tenang. Mengharapkan pengakuan dari orang lain. Krisis percaya diri. Lari ke kanan lari ke kiri, bertanya-tanya “Hey, kamu suka aku kan…Hey, kamu nggak marah kan sama aku…Hey, apa sih yang bisa aku perbuat untuk kamu…”

Dan…

Di sebuah Taman Lourdes, penawar segala rasa rindu hedonis para manusia. Dewa Adramius, Dewa Jalayrus, dan Dewa Tiberius berdiri dengan jubahnya masing-masing. Jubah kejantanan kaum Adam di Taman Lourdes. Dewa Adramius, sosok tegar, suara bergelegar bak petir, berikrar akan memberikan penawar damai bagi bumi ini, berdiri tegap, menunjuk dengan jari kekarnya “Wahai, Kalian, Manusia-manusia, hitung saja sisa harimu, dan ku akan segera mencabut semua waktumu, kalian sungguh tak tau diuntung, menyia-nyiakan waktu untuk perbuatan bodoh tak berarti seperti itu! Lepaskan semua jubah manusia kalian, memalukan jika sampai Paduka Belarmius mengetahui apa yang kalian perbuat di sini…” Satu detik berlalu, Dewa Adramius lenyap seketika, hanya menyisakan bayangan ungu yang menyilaukan mata. Lalu muncullah Dewa Jalayrus, ketenangannya menusuk hempasan lirih jiwa, dia hanya diam dan melangkah pelan, melihat sekelilingnya, sekelibat manusia tertatih-tatih merogoh sisa nyawa di tanah kotor itu. Dewa Jalayrus masih terdiam, setengah meringis, menatap sinis para manusia, kapan tiba waktunya pulanglah kau ke taman lain yang lebih pantas untukmu. Kesenyapan royak, Dewa Tiberius kini muncul dengan sebilah pedang tajamnya, mengikis segala keraguan hati bahwa di Taman Lourdes inilah persinggahan terakhir para manusia dengan segala mimpi-mimpi palsu dalam gulana hatinya. Dewa Tiberius tak pandang bulu, ditebasnya satu demi satu…tanpa ragu, lirih lirih terdengar pelan, nafas-nafas berdesakan, untuk bisa menyisihkan sedikit raga untuk dibawa ke Taman Lourdes nanti. Dan Dewi Abremius terjaga dari mimpi seabadnya, melihat sepi, kosong, gelap, dimanakah Taman Lourdes yang pernah ditinggalinya, dinafasinya, kini, Taman Lourdes hanya tinggal mimpi…

** Wooozzzz **

Memalukan sekali melihat orang-orang yang sempurna ini masih merintih tidak bahagia karena kurang sempurna, padahal mereka sudah sangat sempurna, tapi mereka belum merasa cukup, dan terus mencari keburukan dari rupa ataupun raga mereka sendiri.

Friday, September 28, 2007

Ketika Layar Tertutup Sudah

Ini Tentang Semuanya, Kita, Dia, Kamu, Saya, Mereka…
EXT. Jembatan Kasih, Sebuah Ruang Hati Rindu. – Night –
Pemain : Aku, Kamu, Kita, Semua

Ketika layar hampir tertutup, dan kita masih termenung berharap layar tidak akan pernah tertutup untuk kita. Berharap semoga layar itu akan selalu terbentang luas untuk semua yang ada di antara kita ini. Dan kita hanya terdiam, menghitung nafas, bergumam dalam hati…please, tunggu, tunggu, biarkan aku mencoba lagi, aku janji, ini kali terakhir, nggak akan aku sia-siakan lagi, sungguh mati, kutakkan berdusta lagi, takkan ingkar lagi.

Dan layar tak lagi bergerak. Kita punya kesempatan itu lagi. Mencoba wujudkan semua mimpi di panggung hidup penuh riuh riah penonton. Perlahan melangkah, terkadang mundur, lalu sadar untuk maju lagi, dan lagi-lagi, kita kembali terjebak dalam kegelisahan bahwa tak lama lagi layar akan terbuka, lalu tertutup, lalu terdengar riuh penonton nun jauh dekat di antara kita, dan hati gelisah…tak tahu mau berbuat apa. Terus berharap, tolong….tunggu, aku sedang mencobanya…aku hanya…hanya ragu, apa ini jalan yang seharusnya kupilih. Dan layar tak sudi mendengar, waktu sudah terbuang cukup banyak, tapi tetap saja janji itu tak pernah nyata. Layar kebal dengan semua janji-janji yang pernah ada. Cobalah, tuk mengerti, ini tidak mudah, ketika ada jalan yang selalu ingin kutuju, tapi kusadari itu jalan yang selalu ditabukan, dilepehkan, diasingkan oleh….(lagi-lagi) mereka itu, para penonton kehidupan kita.

Ah, apa maumu, Nduk. Layar sudah harus segera tertutup, ada kisah lain yang sedang menunggu kehadiranku. Sadarkah kau, sudah berapa kalpa detik yang kausita dariku, hanya karena kegelisahanmu dan keinginanmu yang jauh lebih besar daripada kenyataanmu itu. Perlahan, dia terisak, terkulai lemah, lutut lemas, dan dia meruntuk dalam ketidakberdayaan. Ya Allah, apa memang ini takdir yang sudah Engkau pilih untuk hambaMu ini, tolong jawab, Ya Allah. – Sepi – Tiada jawaban.

Perlahan layar tertutup. Detik demi detik, bergerak tanpa letih. Dan tak lama lagi kisah kan tuntas, tepat ketika layar tertutup. Dan di balik layar itu akan selalu berdiri tegap kisah aku, kamu, kita, semua, berharap, tak lama lagi, layar akan berubah pikiran, dan berbaik hati, menaikkan kembali layarnya, untuk kita semua. Untuk kembali merajut harapan yang terkoyak oleh kegelisahan naïf manusia, ingin cinta namun tak sudi mencinta, ingin memiliki namun tak pernah sungguh nyata ada niat itu, yang tersisa hanya kepingan-kepingan mimpi, imajinasi, harapan, dan sisa-sisa memory mimpi-mimpi di malam hari yang belum sempat terlupakan ketika fajar menyapa…

Kupinta dengan segala rasa sayang dan hormat, Ini hanya untuk aku, kamu, kita, dan mereka yah. Seperti biasa, bawa peti kuno itu, di tempat biasa, di waktu yang sama, di mimpi yang tidak jauh berbeda..


Tuesday, September 25, 2007

Mari Bahagia

Mau bahagia? Hidup simple dan bersyukur tiap hari. Count your blessings.

Yang bikin stress adalah : kerjaan kurang puas dan cinta kurang pas. That`s it, untuk para pasien quarter life crisis.

Gimana kalau lebih sering tertawa, nggak peduli itu lucu atau nggak, ketawa aja. Tersenyum dalam hati, then keluarin di wajah. Kudu dicoba! It worked for me.

And, do what you want to do. Time won`t wait for you, waktu terus bergulir, jadi, enjoy aja idup loe! Mau melakukan hal apapun yang gilaaa dan impossible? Lakuin aja! Selama ga bikin diri sendiri jadi susah! Why not? Don’t give a damn to anybody who tries to convince you that you`re not supposed to do that. Hey, Man, this is my life! I am the God of all.

Wednesday, September 12, 2007

Bridge of Love (#5)

08. INT. Gereja Tua. – Day –
Pemain : Dewi, Romo Florensius.

Dewi berdiri di depan gereja tua, terlihat daun-daun kering beterbangan, mengotori jaket Dewi. Dewi memasuki salah satu pintu gereja tua. Suasana gereja gelap dan hanya ada seorang ibu tua berambut putih sedang berdoa dan membuat tanda salib. Dewi memasuki ruang pertobatan.

Dewi
Romo, aku bertobat, mohon ampuni aku, Romo…

Romo
Ada apa, Anakku?

Dewi
Romo, aku sangat mencintai dia…

Romo
Lalu kenapa?

Dewi
Tapi, dia bukan lelaki yang Bapa pilih untukku…

Romo
Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu?

Dewi
Romo, kami berbeda….

Romo
Tapi kalian berdua sama-sama anak Bapa…semua adalah sama…

Dewi
Romo, Tuhan kami berbeda….apa yang harus aku lakukan?

Romo…
Erm…baiklah, begini, Anakku…seberapa dalam kamu mencintai dia?

Dewi
Cintaku sedalam cintaku pada Bapa di surga, kedua orang tuaku, dan juga diriku sendiri, Romo…

Romo
Baguslah, jadi apa yang kau risaukan, Anakku?

Dewi
Romo, orang tua kami menentang cinta kami…

Romo
Karena perbedaan Tuhan itu?

Dewi
Aku bingung, Romo…haruskah aku membuang jauh dan membunuh rasa cinta ini…

Romo
Anakku, tetaplah mencintai, karena hanya dengan cinta itu kamu bisa hidup…

Dewi
Aku sakit, Romo, setiap kali aku menyadari, cinta kami tidak mungkin bersatu..jembatan, benteng perbedaan itu terus menghantui tidurku di malam hari…

Romo
Anakku, mungkin sudah saatnya kamu belajar untuk mencintai dengan tulus dan belajar untuk menerima kenyataan hidup…

Dewi
Ajari aku, Romo…aku sedih…aku sakit…dadaku sesak…aku hancur, tak berdaya dengan rasa cintaku sendiri….

Romo
Tenang, Anakku, Allah Bapa selalu sayang dengan anak-anakNya yang bisa mencintai dengan tulus….

Dewi
Maafkan aku, Allah Bapa, aku sadar aku salah…aku sadar aku melakukan dosa…lelaki itu tidak seharusnya kucintai, tak seharusnya aku menggoda lelaki yang sudah memiliki kekasih…maafkan, Bapa, hamba berdosa, telah melanggar perintah Mu, hamba telah mencuri apa yang bukan menjadi milik hamba, hamba telah merusak janji hamba untuk mematuhi perintahMu, Bapa…Ya, Bapa, ampunilah hambaMu ini. Berikan hamba kekuatan untuk menerima kenyataan, bahwa lelaki itu tidak boleh lagi hamba mimpikan dalam tidur malam maupun siang hamba. Ya, Bapa, ampunii…..

Dewi menangis terisak sedih.

View : Ruangan gereja tua yang sudah reyot dan terdengar bunyi dentang bel kencang sekali. (Dungg…)

Tuesday, September 11, 2007

1st experience....

ANDA SERING MERASA TIDAK PUAS DENGAN HIDUP DAN MERASA DIRI ANDA YANG PALING SULIT?//

ANDA MUNGKIN PERLU MELONGOK SEJENAK SISI LAIN KEHIDUPAN INI//

MARI KITA BERALIH KE SATU PROPINSI DI SEBELAH BARAT LAUT TIONGKOK/ BERNAMA GANSHU// DISINI/ KONDISI ALAM KERING/ PERSEDIAAN AIR PUN TERBATAS// SETIAP HARINYA/ WARGA HARUS MENCARI-CARI SUMBER MATA AIR/ UNTUK BISA BERTAHAN HIDUP// KONDISI PUN BELUM MEMUNGKINKAN/ TIDAK ADA JALAN LAYAK YANG BISA DILEWATI OLEH WARGA//

WARGA PUN MENYUSURI JALAN-JALAN BERBUKIT/ DEMI SEEMBER AIR// TAK JARANG/ AIR BERCECERAN SELAMA WARGA BERJALAN MENYUSURI BUKIT TERSEBUT// SUATU PEMANDANGAN YANG SUNGGUH MENGENASKAN// DI SAAT BANYAK ORANG MENGGUNAKAN AIR DENGAN BEBASNYA/ WARGA PROPINSI GAN SU HARUS BERSUSAH PAYAH MENAPAKI JALAN-JALAN BERLIKU/ DEMI AIR//

JULI 2007/ BADAI ES MENERPA/ SELAMA 20 MENIT BUTIRAN ES SEBESAR TELUR PUYUH MENGHUJANI DAERAH INI// APA YANG BISA DIHARAPKAN LAGI//

Monday, September 03, 2007

Benci Untuk Mencintai, Cinta Untuk Membenci

Jakarta, 3 September 2007
Perasaan membenci? Kalau saya mau jujur, sampai detik ini, walaupun sudah beragama, namun saya masih terbiasa untuk melakukan satu hobby jelek yaitu : membenci. Membenci itu suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, sulit dikendalikan, dan proses terbentuknya sama seperti kebiasaan untuk minum air sesudah makan. Manusia itu dapat dengan mudah mempelajari suatu hal, asalkan dilakukan berulang-ulang, bahkan keinginan untuk membunuh pun bisa dilatih (mengerikan, bo!). Dihitung-hitung sampai saat ini ada sekitar 2 orang yang masih saya benci. Sebenarnya nggak benci-benci amat, tapi ada perasaan mengganjal kalau melihat wajahnya atau mendengar namanya disebut. Kalau mau ditotal dengan jumlah orang yang saya benci tahun-tahun yang lalu, bisa lebih dari 2, tapi waktu menulis ini nih, saya berusaha mengingat-ingat siapa saja yang pernah saya benci yah, sebenarnya banyak, tapi pada detik ini, rasa benci itu sudah hilang, dan membayangkan wajahnya saja rasanya netral dan saya bingung bagaimana mungkin saya bisa benci dia yah dulu. Ini namanya perasaan. Nggak tetap, bisa berubah. Dan saya pun ambil kesimpulan kalau saat ini saya lagi benci 2 orang, belum tentu di masa-masa mendatang saya masih benci sama dia.
Sekarang gantian, soal “dibenci”, kalau mau dihitung-hitung, dan saya perkirakan, mungkin ada sekitar 8-10 orang yang membenci saya, saya bilang begini, karena saya memang pernah melakukan hal buruk yang menyakitkan buatnya.
Di masa kecil, ada 1 orang yang sering saya benci, dan akhirnya dia pun membenci saya banget. Teman sebangku yang dulu sangat menyebalkan sekali, mau tau kenapa? Well, sedikit beraroma tidak enak, karena dia sering mengemut jarinya sehingga jarinya pun beraroma air liurnya (yaks….) dan namanya juga anak kecil, saya nggak mengerti bagaimana cara menghadapi orang seperti itu. Saya pun sering melakukan aksi-aksi penentangan kebiasaan jeleknya mengemut jari dan menyebarkan aroma yang tidak enak itu. Sekarang sudah puluhan tahun berlalu, belum sempat ketemu lagi, kalau bisa ketemu lagi, saya beneran, serius, mau bilang, sorry yah, tapi beneran deh waktu itu elo bau banget, gue nggak tahan, kalau tau begitu, kan bisa aja yah, saya tutup hidung atau semprot aja wangi-wangian supaya tidak merasa terganggu dengan aroma anehnya itu. Well, itu orang pertama di masa kecil saya.
Lalu orang kedua, di masa remaja, pernah juga saya melakukan hal buruk, tapi syukurlah dua tahun kemudian kita malah jadi temenan akrab, dan bisa ketawa-ketawa kalau inget perlakuan “gila” saya ke dia. Dan secara, masa remaja adalah masa pubertas, saya pun bisa bilang, sorry yah waktu itu maklum lagi “dapet”, jadi bawaannya kesel dan mau marah aja (padahal sih memang dasarnya pemarah aja).
Yang ketiga, teman sebangku saya, lagi-lagi, masalah yang sama, karena dia jorok! Yaks. Dia suka menggali lubang hidung, lalu menempelkan kotoran hidungnya di meja kelas. Oh migosh, kok bisa yah kotoran dimain-mainin seperti itu. Dan kalau punya pengalaman yang sama, pasti tau deh, kotoran itu pun bauuuu….kalau misalkan dimain-mainin. Belajar dari pengalaman, saya sudah lebih mengerti cara menghadapi orang begini, cuek aja, kalau nggak sabar sesekali saya tegur, kalau dia nggak mau berubah juga, saya yang berubah. Saya kasih aja tissue tiap kali dia mulai beraksi dengan penggalian hidungnya. Dan syukurlah nggak lama kemudian, saya dipindahkan duduk. Amin. Doa saya terkabul.
Kenapa saya mengira dia benci saya? Karena saya pernah bilang kalau dia tuh jorok banget deh! Mustinya sih dia nggak inget lagi, tapi karena saya yang berbuat, saya ingat, dan saya merasa bertanggung jawab dengan apa yang dia rasakan waktu itu.
Selanjutnya orang keempat, tepatnya sih saya yang mbenci dia, terus malah kebalik dia sekarang yang mungkin mbenci saya, alasan klise : karena saya nggak bisa menepati janji untuk menjadi sahabat yang setia buat dia walaupun badai menghadang sekeras apapun itu. Selama 4 tahun kita tuh berjanji bakalan terus bersahabat walaupun ada masalah seberat apapun (kok “pun-pun” aja yah gue nulisnya), lalu seiring berjalannya waktu, segalanya berubah. Intinya aja deh yah : tadinya kita temenan, then saya suka dia, eh dia nikah dengan orang lain. Ya wis, beres! Dan demi keamanan bersama, udah deh, saya nyerah, melepaskan saja persahabatan yang sudah dibina begitu saja. Dianya bete!
Ada orang masing-masing berinisial MR,MT,BC,KS,KO pasti deh benci saya. Apa alasannya? Biar saya aja deh yang tau, sorry.
Lalu ada 1 orang teman lama yang mungkin dulu pernah benci saya (nggak tau deh sekarang masih apa nggak), karena saya pernah memberikan kerugian buat dia, walau tanpa saya sengaja loh, seharusnya dia yang mendapatkan satu keberuntungan, tapi keberuntungan itu malah saya yang menerima, kalau saya jadi dia, saya pasti gondok dan kesel, dan secara manusiawi, akan ada sedikit rasa benci kenapa sih saya ada. Hehehehe…syukurlah, dengan berlalunya waktu, saya dan dia sudah jarang bertemu lagi dan dengan terpisahnya saya dan dia, saya yakin, itu buat kebaikan kita berdua, kalau orang bilang, nggak boleh membenci, membenci itu dosa, dsb dsbnya, saya berpendapat, kadangkala harus ada jarak yang memisahkan dulu untuk sementara waktu, supaya rasa benci itu bisa terkikis. Kebayang nggak kalau kita harus terus-terusan berhadapan dengan orang yang kita benci, dan bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa kok, semuanya baik-baik saja, hm, kalau itu bisa dilakukan, well itu hal yang luar biasa, tapi kalau nggak bisa dilakukan, nggak apa-apa, it`s very normal and human, I guess.
Yang terakhir, masih hangat, baru-baru saja, saya hanya menebak kalau dia adalah orang kesepuluh yang mungkin benci sama saya. Karena saya pernah bertutur kata tidak sopan, tidak menghargai dia, tidak tau terima kasih sama dia, dan juga tidak respek sama dia. Oh shit. Padahal saya udah sering belajar kalau setiap orang itu patut untuk dihargai, tapi selalu aja khilaf, tau deh, namanya juga manusia, manusia itu beda tipis sama binatang, bedanya manusia itu bisa bilang terima kasih, kalau binatang nggak bisa bilang terima kasih, karena bahasanya beda dengan bahasa manusia, itu aja.
Kalau mau diruntut, proses membenci itu terjadi karena :
1. Iri hati, sirik kalau orang lain lebih hebat dari kita.
2. Takut tersaingi.
3. Diperlakukan tidak adil, atau dianggap rendah oleh seseorang.
4. Kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.
5. Kalau kita dianggap jelek atau bodoh atau mungkin nggak bisa apa-apa.
Kecenderungan untuk defense dan melawan dan melindungi diri pun muncul kalau ada orang lain yang mengusik kenyamanan dalam diri kita. Bahkan kalau lagi sayang dengan seseorang, tapi nggak bisa mendapatkan hatinya, rasa benci pun akhirnya muncul, karena 5 alasan di atas tadi. Kalau nggak bisa mendapatkan cinta yang kita mau dan kalau merasa terganggu dengan seseorang (deg-degan dengan seseorang atau risih kalau bersama dengannya). Ini hanya hipotesis saya, lho, 5 alasan ini bisa jadi hanya bersifat subyektif saja, karena tiap orang berbeda-beda, dalam alasan membenci dan dibenci pun akan beda-beda.
Membenci itu aktivitas yang sungguh melelahkan, hampir setara dengan 1 jam bermain treadmill di gym, bedanya kalau olahraga kan keluar keringat, kalau membenci itu nggak keluar keringat. Kalau nggak mau buang energi dengan membenci, yah, alihkan energi ke hal yang lain. Jangan paksakan diri untuk “tidak membenci”, karena berdasarkan teori “Law of Attraction”, otak itu nggak mengenal kata “tidak”, semakin kita berusaha untuk tidak membenci, yang terjadi adalah rasa benci itu semakin menguat saja. Oleh karena itu mendingan alihkan saja pikiran ke hal lain, contoh “Rileks..”, “damai”, “Nyam nyam….donutt crispy crème rasa coklat pastinya enak yah…” atau alihkan ke hal lain dengan olah raga, menonton film atau program yang fun dan lucu aja deh.
Baru-baru ini, saya baru sadar kalau mencintai seseorang itu beda tipis banget dengan membenci seseorang, dua perasaan yang ternyata tetanggaan, dan kadang musti ngerasain dua-duanya, baru bisa saling menghargai satu sama lain. Kalau belum pernah membenci seseorang, nanti nggak tau gimana sih sebenarnya mencintai seseorang itu. Dan kalau belum pernah mencintai seseorang, nanti malah nggak nyadar bagaimana sih rasanya membenci seseorang (erm…ini analogi yang tepat nggak yah?). Kalau yang sudah nge-trend itu kan : kita harus merasakan susah dulu, baru bisa menyadari apa itu rasa bahagia. Nah, masalahnya, kalau di ajaran agama, nggak pernah kan diajarin untuk membenci dahulu, supaya nanti tau gimana rasanya mencintai seseorang. Walau rada maksa, tapi udah ngerti lah yah apa maksud saya ini. Oke. Case closed.
Topik agak nyasar, soal poligami. Ketika memilih satu topik untuk ditulis jadi ide cerita, muncul satu pemikiran, mau ngapain sih mengangkat kasus poligami, kan masih banyak anak jalanan yang nggak jelas masa depannya, mau ngapain sih bahas-bahas poligami. Owalah, mas..mas…kalau situ ngomong begini, bakal banyak loh pendukung dan supporter saya. Lihatlah film-film laris : Pocong 1,2,3,4,5,6, Jelangkung, Genderuwo, dan lain lain, ditambah dengan Hidayah-hidayah bernuansa azab. A lah! Buat apa sih bahas hantu-hantuan atau belatung di kuburan, lah wong, ada dan tiadanya pun masih diperdebatkan, mendingan bahas yang nyata-nyata saja. Masalah hubungan antar manusia adalah masalah yang bisa bikin orang waras jadi nggak waras. Kasus bunuh diri, kasus bunuh-bunuhan, rampok, perkosa, stress, depresi, itu salah satunya karena kegagalan dalam berumah tangga atau kesalahan pola asuh dari orang tua (yang mungkin kurang puas dengan perkawinannya). Karena begitu besar efek dari poligami itu, pertama saling menyakiti dan mengkhianati, lalu yang paling mengenaskan adalah masalah generasi selanjutnya : anak-anak. Bingung, kali, ketika seorang anak melihat kok bapaknya punya istri sampe 4 gitu, dan kok bisa-bisanya yah janji cinta seumur hidup sampe mati, eh taunya bilang “ah maafkan, ternyata ada seseorang lain yang ditakdirkan menjadi jodoh saya juga”. Ini bukan soal kebencian, dan ini terlepas dari agama apapun juga, karena seluruh umat agama apapun pernah menjadi perwakilan poligami, lho. Nah, balik lagi, kenapa anak-anak yang kena imbasnya? Kalau perkawinan orang tuanya gagal dan misalkan disebabkan adanya poligami, si anak pun bakal merasakan ketidakpuasan hidup, ada yang retak dari suatu lembaga keluarga, dan tak jarang anak pun menjadi korban pelampiasan kebencian orang tuanya yang nggak bahagia dengan perkawinannya itu. Di Oprah pun pernah dibahas, kalau ada kasus keretakan rumah tangga seperti ada yang selingkuh, lebih baik cerai, daripada merusak anak! Anak itu belajar dengan melihat orang tuanya. Daripada ngerusak anak dan membiarkan dia melihat kok bapaknya nikah berkali-kali, mendingan hindari saja si anak dari si bapak, biar si anak sadar kalau itu tuh salah kalau berbuat seperti itu. Kalau misalkan tetep tidak mau cerai, dan membiarkan si anak mengerti sendiri kalau udah gede juga ngerti, ya itu pun pilihan. Banyak juga anak-anak yang membuktikan, walaupun sebagai korban poligami, bisa juga sukses, dan malah berjanji nggak bakalan deh melakukan hal nista seperti itu lagi (ups..maafkan, terasa banget yah saya benci dengan poligami) owalah, balik lagi ke 5 alasan di atas, kenapa kok bisa muncul rasa benci? Rasa benci ke poligami itu muncul pun pasti karena ada alasannya lah yah.
Wuah kalau kita bertemu langsung untuk membahas topik ini, bisa begadang larut nggak tidur nih, topik yang bisa diperdebatin sampe kapanpun juga, bo. Dan saya sering berpikir jail, kalau TV itu kan ada ratingnya yah, kalau blog itu ada ratingnya juga nggak yah? Penasaran banget siapa aja yang menjadi readers setia blog saya ini. Kalau ada yang perhatiin blog ini dari 4 bulanan yang lalu, sebenernya bakal tau loh kalau blog ini nih lagi mengangkat satu dua pemeran utama, itu-itu aja, dan topik-topik yang saya pilih disini pun, berkaitan dengan tokoh-tokoh yang menjadi inspirasi saya itu tuh. Hahahaha.. iki blog sudah seperti ajang untuk saling berkomunikasi lewat hati, pikiran, dan tulisan, dan untuk bisa terus dekat, walau hanya saling membaca blog masing-masing. Yah, kalau ada yang tau kondisi nyatanya seperti ini, mungkin bakal ada ungkapan spontan, la e lah…kurang kerjaan apa, di zaman secanggih ini mau ngapain sih maen isyarat-isyaratan begini, lewat blog segala. Ketemu dong, telpon dong, sms dong. Tapi untunglah ada blog, karena hanya di blog, segala rasa bisa terungkap dengan bebas, nggak usah takut apa kata orang, nggak usah takut diomongin orang, toh bisa berdalih, namanya juga blog, apa buktinya kalau ini bukan karangan nghayal? Padahal bisa juga kisah-kisah di blog itu nyata dan nggak direka-reka semata loh.
Kalau udah ngerasain manfaat blog seperti yang saya alamin, bakal kerasa banget deh, nulis itu tuh nikmat banget. Dan kalau baca blog orang lain pun bisa dag dig dug gedebak gedebuk. Sama seperti membaca novel fiksi, saya sering menebak-nebak, emangnya ini kisah beneran si penulis atau kisah khayalannya aja yah? Dan hanya si penulis yang tau dan orang-orang tertentu yang tau apakah ini khayalan atau beneran. -Love You everyday

Friday, August 31, 2007

Sabar...

"....Witing Tresno Jalaran Saka Kulino..."
"...Nyebar Godhong Kara Sabar Sa` Wethara..."

Sabar, Nduk...
Kata orang, orang sabar sing panjang umur...
Sabar pangkal Sehat
Tapi sabar ada batasnya...(nggak donk, kalau udah berbatas, berarti itu nahan sabar...)

Lebih mudah mencari musuh daripada sahabat...
Lebih mudah marah daripada menerima
Lebih mudah mencari yang jelek daripada yang bagus...
Lebih mudah membenci daripada mencintai...

"...Nyebar Godhong Kara Sabar Sa`Wethara..."
Ceritanya begini, dalam satu kelompok manusia selalu ada yang tidak puas dengan hidup, lalu berusaha melampiaskan ketidakpuasannya ke orang lain. Orang itu mungkin bukan orang yang tepat, tapi karena kebetulan ada orang itu di hadapannya, maka dipilihlah dia untuk menjadi sasaran pelampiasan ketidakbahagiaan dalam dirinya. Itu kata pakar HRD menceritakan kalau orang-orang yang kurang cocok dengan bidang pekerjaannya, akan cenderung berbuat sarkastik dan kasar dan negatif dengan sekelilingnya. Gejalanya, terlihat dari pilihan kata-katanya, jarangnya tersenyum, dan juga body languagenya. Mendadak jadi ingin menghantam segala hal di hadapannya....

"Mesem mu kaya semar..."
kulo kangen kalian sampean ... saestu....boten goroh ... Menawi wonten wedal, kulo saestu sumerep kalian panjenengan malih

Wednesday, August 29, 2007

Bridge of Love (#4)

07. INT. Salon. – Day –
Pemain : Dewi, Ajeng, Figuran

Suasana Salon, cukup ramai, bunyi hairdryer.

Figuran
Mau diapain nih, Say

Dewi
Biasa aja, diblow out…

Figuran
Duh, rambut ye…kusam deh, mau pake pelembab terbaru eke?

Dewi
Thank you banget, Kan, tapi gue buru-buru nih, sorry banget yah…

Figuran
Oke deh…

Anggie
Dew, emangnya elo masih ketemuan sama cowo itu?

Dewi membaca majalah dengan seriusnya, tidak menjawab Anggie.

cut to cut...Masuklah seorang perempuan (tak lain adalah Ajeng)

Ajeng duduk di belakang Dewi, dan melihat pantulan wajahnya di cermin.

Anggie
Dew, mau sampe kapan sih...coba elo bayangin kalo elo itu pacarnya tuh cowok....tanpa sepengetahuan elo...dia masih sempet-sempetnya deket sama cewek lain...sakit banget, Dew...

Dewi
Iya...aduh...udah berapa kali elo omongin itu melulu...gue bosen tau ga sih...

Anggie
Ya udah gue ga bakal ungkit lagi...biar elo aja yang tanggung ndiri ngerti...

Anggie mengambil majalah dan dengan wajah kesal membaca buku majalah itu.
Dewi pun berwajah kesal dan serius, lalu melempar majalah dan memejamkan mata, sambil terus menikmati pijatan creambath.

Ajeng tadinya menguping, lalu membuka handphone dan melihat fotonya dengan si kekasih, lalu tersenyum sambil menyentuh handphone di dadanya.

Dewi dan Anggie membayar di kasir, lalu tak lama kemudian bertubrukan dengan Ajeng. Dewi dan Ajeng bertatapan mata.

Dewi
Sorry, Mbak....

Anggie menggeleng, lalu membayar di kasir.

08. EXT. Depan Salon. - Day -
Pemain : Dewa, Dewi, Ajeng, Figuran

Terlihat Dewa sedang menunggu di dalam mobil.

Dewi dan Anggie keluar dari salon ke arah kanan dan sambil berdebat.

Dewi
Kenapa sih elo tuh mojokin gue melulu....gue tuh ga tau musti gimana ngadepin elo...

Anggie
Gue temen elo, Dew, gue musti kasih tau elo mana yang bener...

Dewi
Ah....emangnya elo nyokap gue...

Anggie
Duh, cape deh, elo nggak ngerti-ngerti...

Ajeng keluar dari salon, lalu langsung masuk ke dalam mobil.
Ajeng mencium pipi kiri dan kanan Dewa

Ajeng
Udah lama yah?

Dewa menggeleng kepala.
Mobil Dewa melaju...
Dewi sekilas melihat mobil itu, tapi Ajeng langsung menariknya masuk ke dalam taxi mereka.

Dewi masuk ke dalam taxi dan melongok dari kejauhan melihat ke arah mobil tadi.

Friday, August 24, 2007

Holy Mother...

Intinya, kita harus bisa menerima situasi apapun dengan lapang.
Seburuk apapun itu, harus bisa k
ita terima.
Kalau sudah belajar begitu banyak ajaran agama, tapi masih saja tidak bisa menerima.
Itu berarti kita gagal!

PS. I`m afraid that I`m one of those who can`t accept the truth, the destiny, the pain, those bad times... loser will be a winner someday if there`s always a time to change.

24 Agustus 2007, I saw a man and a woman. Yang satu : seorang bapak berusia 70 tahun menderita diabetes, dua hari lalu ngompol lalu alat kelaminnya dikerumuni banyak semut. Saat ini sekarat tak berdaya, 11 hari tidak makan. Yang satu lagi : seorang ibu berusia 53 tahun menderita kanker payudara yang sudah menjalar ke tulang, sudah 10 hari tidak makan. Saat ini terkulai di tempat tidur.

Holy mother. My pain is nothing. Their pains are everything.
Count my blessing though pains are always more interesting to be hated.

Tuesday, August 21, 2007

Bridge of Love (#3)

05. INT. Ruang Kantor. - Day -
Pemain : Dewi, Figuran.

Suasana sibuk bekerja di ruang perkantoran jurnalis berita.
View : Orang lalu lalang sambil membawa berkas kertas.
Dewi masuk ke ruangan sambil menelpon dan menuju ke meja kerjanya.

Dewi
Iya...aku tau kok, Mbak...tenang aja...aku ga bakal senekad itu.

Dewi mengangguk-angguk sambil menyalakan komputernya.

Dewi
Aduh, Mbak, udah deh, aku capek diomonginn begituuuu melulu, emangnya aku ini ga bisa mikir, aku tuh ga segila yang Mbak pikir, tau ga...aku masih punya nurani! Udah deh aku musti kerja! Udah Mbak...!!

Dewi menutup handphone dengan ekspresi yang kesal. Terlihat rekan di sebelah-sebelahnya melihatnya.

Dewi
Apa liat-liat...naksir?

Rekan-rekan sebelahnya langsung berlagak sibuk dan mengetik sibuk sekali.

Dewi mengucek-ucek rambut dan matanya.

Dewi
Ugh...pusingggg deh gue! For sake...I need a rest. Sumpah!

Dewi membaca email di layar komputernya.

View Screen :
From Dewa
To Dewi

Miss Ya...
Love Ya...

Dewi membalas emailnya dan mengetik.

View Screen :
Where are you?
Menghilang ajah...capek tau...

Tiba-tiba ada yang muncul di belakangnya. Bossnya.

Boss Dewi
Dewi...

Dewi
Yes, Mam?

Boss Dewi
Dew, hari ini elo liput ke DPR ya...

Dewi
Aduh, DPR lagi?

Boss Dewi
Ga mau? So...

Dewi
Ok Ok...mau deh..jam berapa?

Boss Dewi
Now...

Dewi
Tapi deadline yang hari ini gimana?

Boss Dewi
Udah itu biar gue aja yang finishing...

Dewi
Ok deh...

Boss Dewi
Sekarang yah, Dew...jangan telat....driver udah siap buat elo...

Dewi
Ok Boss...

Dewi (O.S) :
Yah, beginilah jadi kuli gaji...ga pernah ada kesempatan untuk menolak...nasib pun ada di tangan boss....oh jeezz...

Dewi keluar ruang kantor dengan membawa tas kerjanya.

06. Lapangan Gedung DPR. - Day -
Pemain : Dewi, Dewa, Figuran.

Dewi turun dari mobil dan sudah terlihat kerumunan massa.

Terlihat seorang pejabat dikejar-kejar oleh wartawan.

Figuran
Pak, apa rencana Bapak selanjutnya?

Bapak Pejabat
Kita lihat saja nanti...

Dewi mencari-cari notes di tasnya. Lalu ada yang menyenggolnya sampai jatuh berarakanlah barang-barangnya.

Dewi
Oh Jeez....reseh amat sih..nih pada...aduh mana panas banget nih gilaaa.....

View : Matahari terik sekali.

Kerumunan masih semakin menggila saja.

Di belakang Dewi muncul seseorang lelaki.

Dewa
Hati-hati donk...

Dewi kaget dan melihat Dewa

Dewi
Hah..Dewa...

Dewa
Surprised...

Dewi
Ngapain kamu?

Dewa
Kan kemanapun kamu berada, aku ada juga...

Dewi
Ih, jiji...

Dewa
Kok jiji sih...

Dewa membantu Dewi merapihkan barang-barang Dewi yang berantakan.

Dewi
Kemana aja kamu...

Dewa
Yah, masih disini aja lah..kemana lagi...

Dewi
Enak yah bisa datang dan pergi sesuka hati...

Dewa
Tuh, mulai deh...lagi dapet yah kamu?

Dewi
Gak tuh..

Dewa
Kenapa Dewi manis...sini biar sama om Dewa...

Dewi
Duh please deh...aku tuh mau kerja tau!

Dewa
Udah telat, udah bubar tuh...

Dewi
Hah, masa...

Dewa
Ya iyalah...pejabat model gitu mana mau lama-lama di terik panas begini, Sayang...

Dewi
Gawat deh bisa dimarahin kalo begini nih...

Dewa
Kamu pake data aku aja...

Dewi
Gak bisa...aku musti ambil gambar juga...

Dewa
Ya ini pake kamera aku...

Dewi
Boleh?

Dewa
Apa sih yang ga boleh buat kamu?

Dewi
Bisa aja deh...tapi nanti bos kamu ga marah kalo ternyata gambar dan data kamu sama seperti aku?

Dewa
Ga bakal sama...tenang aja...

Dewi
Ok deh aku pegang yah

Dewa
Terus kamu mau kemana?

Dewi
Aku balik lah...mau ngapain lagi...

Dewa
Makan dulu yu...

Dewi
Duh, ga deh...

Dewa
Ayolah...

Dewi
Sorry, ga bisa...

Dewi segera bergegas pergi menuju mobil.
Dewa menarik tangan Dewi

Dewa
Dew...

Dewi menatap Dewa, angin berhembus, rambutnya berantakan.
Dewa merapihkan rambut Dewi. Dewi membuang muka.

Dewa
Dew, kita musti bicara...

Dewi
Apa lagi Wa...udah jelas kan semuanya?

Dewa
Ga....belum jelas!

Dewi
Ga bisa sekarang, aku harus pergi

Dewa
Ok, ntar sore aku jemput kamu...

Dewi
Ga usah...

Dewa
Kenapa?

Dewi
Ketemu di tempat biasa aja...

Dewa
Ok...jam?

Dewi
Jam 7...

Dewa
Janji ya kamu dateng...

Dewi langsung bergegas pergi dan melambai ke Dewa tanpa melihat wajah Dewa.
Dewa melihat Dewi berjalan semakin jauh, dan masuk ke dalam mobil.

Dewa (O.S) :
Dewi...

Monday, August 20, 2007

Bridge of Love (#2)

02. INT. Kost Dewi/ Kamar. – Day –
Pemain : Dewi, Anggie

Dewi sedang tidur-tiduran sambil membaca buku The Art of Loving y Erich Fromm, lalu Anggie datang ke kamarnya.

Anggie
Dewi...

Dewi tidak menggubris, dahinya malah berkerut-kerut membaca dengan serius sekali.

Anggie pun mencubit kaki Dewi.

Dewi
Aduh...apaan sih...

Anggie
Serius amat sih say...baca apaan tuh...

Dewi menyembunyikan bukunya.

Anggie
Liat...apaa sih...pelit amat...

Dewi
Ga usah tau deh, nanti elo pasti nyela gue lagi...

Anggie
Janji deh, ga bakal nyela..

Dewi
Udah lah ga ada untungnya kali elo liat juga...

Anggie
Duh, ampun deh, sini...

Anggie memaksa melihat buku di belakang badan Dewi dan dia pun melihat buku itu.

Anggie
The Art of Loving? Hahahahaha....gue sih ga heran, ini kali keberapa elo baca beginian, Say...Dewiku....ga perlu tau ga sih elo baca beginian lagi...yang elo butuhin tuh praktek...ngerti? Bukan teori-teori cinta apalah ini...ah teori...

Dewi
Eh tapi disini justru dibilang kalau kita harus tau teori dulu baru bisa praktek tau..

Anggie
Hmm...gue sih ga percaya yah...sepengalaman gue, cinta itu berjalan mengalir aja tuh tanpa perlu belajar

Dewi
Iya, elo mah enak....cowo mana sih yang ga bisa elo dapetin...

Anggie
Duh, kok elo omong gitu kayak desperate aja sih Dew...kenapa sih....

Dewi menunduk aja sambil melihat bukunya.

Anggie mendekat ke Dewi.

Anggie
Kenapa? Keinget lagi sama cowo itu?

Dewi
Cowo yang mana?

Anggie
Ya siapa lagi...Pasti deh Dewa...

Dewi
Ga tuh...

Anggie
Jangan boong deh sama gue....udah berapa lama sih kita temenan, masa begini aja elo ga mau terus terang?

Dewi
Huh...udah ah lagi males gue bahas...

Anggie
Gila yah, elo … elo masih sayang banget yah sama dia…

Dewi mengangkat bahunya dan menyandar di tempat tidurnya.

Dewi
Gue ga tau...dan gue udah coba segala cara tau ga sih...dan makin gue maksa untuk ga mikirin dia, dia malah selalu muncul di kepala gue....gue bener-bener ga tau musti pake cara apa lagi...

Anggie
Tapi....dia masih jadian sama pacarnya kan?

Dewi
Sepertinya...

Anggie
Duh, sudahlah, itu sih ga bisa diharepin, Dew..

Dewi
Iya gue sadar kok Ngie...makanya gue berusaha ga mikirin ga harepin dia...

Anggie
Gue ngerti pasti susah lupain dia yah..

Dewi
Banget...

Anggie
Pasti bisa Dew...I know you can

Dewi
I hope

Anggie
Kenapa yah dia udah jadian tapi kok masih aja flirting sama elo begini….itu cowo ga bener deh kalo gue bilang…

Dewi
Yah…dan gue tapi tetep berharep sama cowo seperti itu…bego ya temen elo ini..

Anggie
Yah cinta memang bego kan…makanya ga heran tingkah orang jadi aneh kalo lagi kemakan racun cinta...

Dewi
Gue tuh sering kepikir tau ga si..

Anggie
Apa?

Dewi
Ah gak deh Cuma pikiran gila aja..

Anggie
Duh, apaan sih elo kok jadi tertutup gini

Dewi
Gue tuh ga tau ya udah kemakan pelet apa dari dia...tapi beneran gue somehow sering mikir...kalo aja yah dia tuh serius sama gue, kenapa sih dia ga milih gue dan dia putusin pacarnya...aduh tapi gue kok seperti sumpahin orang buat putus? Gue takut kualat....tapi dari dulu gue cuma penasaran...gue ini dianggep apa...emangnya gue Cuma penghilang rasa bosen dia aja...oh shit....dan udah tau salah kok gue masih aja jalanin....

Anggie
Dew, it`s time to move...mau sampe kapan elo begini terus…udah berapa cowo elo lepas hanya karena elo ga bisa lepasin nih cowo ga jelas?

Dewi
Ga tau deh Ngie…gue ga mau mikirin dulu...

Anggie menghela nafas. Dewi masih bersandar di ranjangnya.

Anggie
Ok deh gotta go, gue cabut dulu yah, elo mau ikut ga?

Dewi
Kemana?

Anggie
Gue mau creambath

Dewi
Ga deh gue mau tidur aja...

Anggie
Ok deh..tidur aja deh lo biar ga stress

Dewi
Huah..ga ngefek deh...

Anggie meninggalkan kamar Dewi.

Dewi melihat ke atas langit-langit kamarnya. Dan ada wajah Dewa.

Dewi (O.S) :
Dewa....lagi ngapain yah kamu....

Dewi pun tertidur sambil memeluk buku The Art of Loving...

03. INT. Rumah Ajeng/ Ruang tamu. – Night –
Pemain : Dewa, Ajeng, Ayah Ajeng (Bapak Tresno).

Dewa sedang duduk di ruang tamu bersama ayah dari Ajeng, Dewa memainkan handphone, sedangkan ayah Ajeng membaca Koran.

Bapak Tresno
Gimana pekerjaan kamu, Wa?

Dewa
Biasa aja Pak...

Bapak Tresno
Ajeng cerita kamu ga betah di kantor sekarang?

Dewa
Ya...sedikit sih Pak...

Bapak Tresno
Kenapa? Bukannya udah hampir 2 tahun kamu disana?

Dewa
Ya..biasa Pak, manusia susah puas..

Bapak Tresno
Ya, jalani apapun jangan setengah hati pokoknya, Wa...

Dewa
Matur Nuwun, Pak, buat nasehatnya...

Bapak Tresno
Lalu....hubungan kamu dengan Ajeng? Piye...

Dewa
Maksudnya Pak?

Bapak Tresno melepas kacamatanya dan mendeham batuk.

Bapak Tresno
Ya, kalian sudah 4 tahunan toh ... tunggu apa lagi...kapan mau diresmiin toh, Le..

Dewa
Oh....

Ajeng tiba-tiba mendeham dari belakang dan mengagetkan mereka.

Ajeng
Nah...lagi ngomongin apa....

Bapak Tresno
Duh, Nduk, ngagetin Bapak tau ga sih kamu...

Ajeng
Aduh maaf maaf deh Pak...

Ajeng ngelendot ke Bapaknya.

Dewa melihat ke jam tangan lalu memberikan kode ke Ajeng.

Ajeng
Udah mau jalan, Wa?

Dewa mengangguk.

Ajeng
Pak, kita pamit dulu yah...

Bapak Tresno
Ok...Dewa...jaga baik-baik jeng ayu kesayanganku ini yah...

Dewa
Permisi Pak

Dewa mengangguk dan tersenyum. Ajeng menggandeng Dewa lalu keluar ruangan.

Bapak Tresno melihat dari dalam ruangan.

04. Mobil. – Night –
Pemain : Dewa, Ajeng.

Ajeng
Tadi omongin apa sama Bapak?

Dewa
Gak kok, cuma obrol biasa aja...

Ajeng
Masa...kok muka kamu sampe tegang gitu tadi?

Dewa
Gak ...sok tau kamu...orang aku tadi nyantai banget, lagi..

Ajeng
Ah, memang kamu tuh paling jago tau ga ngeles begini..

Dewa tersenyum ke Ajeng.

Ajeng
Mas...

Dewa melongok ke Ajeng.

Dewa
Yes?

Ajeng
Boleh ga aku nanya sesuatu?

Dewa
Kalo ga boleh?

Ajeng
Ya wis, ga jadi kalo gitu deh...

Dewa
Duh, sensi...becanda kok...mau tanya apa kamu?

Ajeng
Ngg....soal kita...

Dewa
Kita?

Ajeng
Kamu masih sayang ga sama aku?

Dewa
Kok nanyanya aneh gitu sih kamu?

Ajeng
Ya...emang salah yah kalo aku nanya begitu ke calon suami aku?

Dewa
Ya, gak kok...

Ajeng
Wa, kamu inget kan, hubungan kita itu selalu musti ada rasa percaya dan kejujuran...

Dewa
Iya...?

Ajeng
Aku bisa ngerasa kok kamu berubah...bener-bener berubah...

Dewa
Duh, aku makin nggak ngerti, Jeng Ayu...

Ajeng
Aku ga tau Mas, ampe kapan aku bisa tahan kalo kamu begini terus...

Dewa
Kamu ga percaya lagi sama aku?

Ajeng
Nope...aku selalu percaya sama kamu...

Dewa
Ya sudah lah...jadi apa masalahnya?

Ajeng
Kamu masih hubungan sama perempuan itu?

Dewa
Perempuan yang mana?

Ajeng
Emang ada perempuan lain lagi?

Dewa
Hahaha....kacau yah aku ini kok seperti buaya darat kelas kakap banget...

Ajeng
Emang iya...

Dewa
Eh, mau kemana nih kita?

Ajeng
Jangan alihin topik...

Dewa
Ok..ok....ayo apa apa..yang bikin kamu resah?

Ajeng
Perempuan itu...

Dewa
Dewi maksudmu?

Ajeng mengangguk pelan...

Ajeng
Kamu masih ada rasa suka sama dia?

Dewa terdiam.

Dewa
Kamu meragukan aku yah?

Ajeng terdiam.

Dewa
Boleh ya aku jujur?

Ajeng hanya sedikit menggelengkan kepala.

Dewa
Tiap malem aku pasti mikirin perempuan itu, tapi...selalu ada kamu di sebelah aku...

Ajeng membuang muka ke arah jendela mobil.

Dewa
Jeng, kamu marah yah sama aku?

Ajeng menatap ke Dewa.

Ajeng
Mas, aku cuma mau bilang, aku sayang sekali sama kamu, tapi kamu harus tau, aku pun manusia juga. Aku masih berperasaan. Aku bukan dewi suci yang ga bisa ngerasain kecewa.

Dewa
Maafin aku, Jeng...aku salah...

Ajeng
Udah berapa kali kamu ngomong gitu...ga perlu lagi kata maaf itu.

Dewa menyentuh tangan kanan Ajeng. Ajeng melepas tangan Dewa.

View : Ajeng melihat ke kiri, Dewa melihat ke kanan mobil. Mobil melaju dengan cepat.

Sunday, August 19, 2007

Bridge of Love (#1)

Bridge of Love (#1)

01. EXT. Pati/ Jembatan. – Night –
Pemain : Dewa, Dewi

Dewa
Hari yang aneh…

Dewi
Aneh kenapa?

Dewa terdiam…

Dewi (O.S)
Selalu aja begini…

Dewi
Udah lebih dari berapa bulan, selalu saja begini...

Dewa
Kamu nggak bahagia?

Dewi
Itu pertanyaan retorik?

Dewa
Apa yang bisa aku lakukan?

Dewi
Lagi...lagi...kamu hanya beretoris aja, tau ga...

Dewa
Ga mudenk...

Dewi
Kamu yang jawab sendiri aja ... aku udah bosan bertanya hal yang sama

Dewa
Tapi, beneran aku ga ngerti apa maksudnya...

Dewi
Dewa...kamu ga pernah kan sedikitpun mikirin apa yang aku rasa? You`re just busy with yourself...and kamu bisa semaunya saja menjalani hidupmu, mampir ke hidupku, tapi kamu bakal menghilang lagi tanpa jejak...apa-apaan sih kamu! Apa sih yang kamu mau.....

Dewi mulai menangis dan merunduk. Dewa menyentuh bahu Dewi tapi Dewi menolak.

Dewi
Jangan sentuh aku!

Dewa
Kamu tau kan apa yang selalu aku rasain ke kamu...

Dewi
Stop it.... semua cuma kata-kata...aku nggak butuh kata-kata itu, Wa..aku butuh kamu! Ngerti ga sih...bukan kata-kata kamu....aku butuh keberadaan kamu...kemana kamu kalo aku lagi sedih..kemana kamu kalo aku lagi susah...kemanaaaa....kamu ilang entah kemanaa!! Sadar ga sih...

Dewa
Maaf...jadi aku hanya bikin kamu sedih sepertinya?

Dewa menunduk. Dewi masih menatap kosong ke arah sungai jembatan.

Dewa
Ok kalo ini yang kamu mau...

Dewi
Apa....kamu belum ngerti juga kan ..

Dewa
Kamu mau aku menjauh dari hidup kamu, kan?

Dewi
Oh Holy Mary...kenapa sih kamu selalu mikir gitu...Dewa!

Dewi langsung menyentuh pundak Dewa dan menatap matanya dengan tajam sekali..

Dewi
Denger baik-baik..aku cuma ingin satu hal ...aku ingin kamu, Wa

Dewa menatap Dewi tak berkedip.

Dewi membuang wajah, lalu bergegas pergi, tapi segera Dewa menarik tangan kiri Dewi, dan memeluk Dewi erat sekali.

View : Langit gelap dan bulan purnama sempurna.

Dewa
Maafin aku...

Dewi menangis dan menitis air mata dan memukul bahu Dewa.

Dewi
Kamu jahat....

View : Dewa dan Dewi berpelukan (rolling)

to be continued.....

Tuesday, August 14, 2007

I Love You everyday

Jakarta, 14 Agustus 2007

Tersenyumlah pada dunia ini, Sayang…
Dunia bukan tempat manusia bersedih…
Dunia adalah tempat untuk bermain dan bersenang-senang…
So, tersenyumlah…terus…dan terus….jangan henti tersenyum…

Bekerja setengah hati? Capeknya pun berlipat ganda…
Jengah dengan kehidupan…entah apa yang bisa membuat jiwa tentram…
Ingin berlari namun tidak pernah tahu hendak kemana…
Pecahkan kaca jendela, namun bukan itu yang kau mau, bukan?

Di malam hari muncul pertanyaan nakal khas anak baru gede…
Kalo elo mau sama gue kok elo masih aja jadian sama dia?
Apa buktinya kalo elo serius sama gue…
Emangnya elo mau jadikan gue yang kedua? (Astrid…)

Perasaan tentram itu bisa muncul ketika lagi bersama dia…
Walau tak berkata-kata, tapi rasanya nyaman, tidak kikuk…
Ketika ada masalah, membayangkan dirinya, tak lama kemudian dia pun hadir…
Dan itu terus terjadi berulang-ulang….

Nggak bisa! Nggak bisa! Ayo inget…ayo nyadar…
Kamu turunan Roosevelt, dan aku turunan Machiavelli…
Sudah lama sekali moyang melarang kita bertemu sapa…
Tapi kita tanpa sengaja bertemu di pesta topeng di taman malam itu…

Kamu dengan kostum tuxedo hitam dan topeng perakmu…
Dan aku dengan kostum Juliette warna putih berkilauan…
Kita berdua berdansa, kakimu injak kakiku, lalu gantian aku injak kakimu…
Gelak tawa pun berhambur bebas, topeng langsung kita buka….

Kubisa lihat wajahmu dengan jelas, ada kerutan dikit, jambang halus di pinggir pipi…
Dan aku? Rambutku mulai sedikit berantakan tertiup angin malam yang kencang…
Tak lama lagi turun hujan deras, dan benar saja….hujan turun deras sekali…
Di pohon itu kita berteduh, berdua….dari jauh melihat kilauan lampu pesta topeng yang masih berlangsung….

“Suka minum jus apa?”, tanyamu padaku…
Hah…kok nanya jus….nanya yang lain, nape (dalam hatiku bergumam)
“Ngg…apa yah….alpukat campur coklat kali yah”, jawabku sedikit terbata-bata…
Kamu apa (dalam hatiku bertanya) lalu dia menjawab : “Kalo aku, jus tomat J “

Pesta topeng bubar sudah…saatnya pulang, sudah hampir jam 2 pagi…
Jadi, kapan kita bertemu lagi? Kamu nggak tau dimana rumahku, aku pun sama…
Hmm….gimana kalau kita ketemu di jembatan kembar itu? Tak jauh dari pohon ini ada jembatan itu.
Boleh juga, tapi, apa iya harus terus-menerus ketemuan di jembatan itu? Kalau larut malam, juga?

Shit! Pikiran melantur lagi, nggak jauh dari jembatan, kalau nggak jus buah.
Ini mimpi, kan? Kemarin dia bilang dia datang, tapi jam menunjukkan jam 3 pagi, aku setengah sadar.
Iya, lagi, dia tuh dateng, tapi yah, seperti semilir angin lepas, datang sebentar saja, lalu segera hengkang.
Andai saja dia bisa lebih lama lagi di saat kupikirkan dia, di saat kubutuhkan dia, andai….

Kupernah punya cinta, namun kini kusedang suka kamu…
Cintaku dulu tlah kubuang jauh, kini kuingin kamu…
Kupernah menyendiri disini ruangku terasa sepi
Walaupun bibir penuh gelak tawa namun aku sepi…
Jangan bilang tidak bila kita belum mencoba
Siapa yang tau akan sama hatimu dan juga hatiku
Banyak yang bercinta bertahun-tahun putus juga
Kuharapkan dengan dirimu walaupun singkat pendekatan cinta kita kan abadi…
Jangan bilang tidak waktu dicium aku bingung
Namun dada ini bergetar, menatap kasihmu
Makanya jangan bilang tidak (Ost. Bukan Bintang Biasa)

Once upon a time ada sebuah bintang…
Yang bersinar terang di hatimu…
Kuakan datang lagi menjemput dengan cinta
Kan kubagikan semua bintangku…
Kumiliki bintang bukan bintang biasa…
Kubisa hapuskan semua dukamu…
Kutak akan menghilang, selalu ada di hatimu
Memberi bintang hanya untuk cinta
Dan yang terbaik selamanya bersama akan kubagikan bintangku demi cintamu
And when we keep on believing thousand miles can resist by right….
The miracles can do things thou can`t do… could do the things thou can`t do (Ost. Bukan Bintang Biasa)

Angin malam berhembus…lirih ingin menyapa
Kucoba merasakan semilir kehadiranmu…
Tuhan kutanya cinta….kemana arah dan tujuannya
Bila memang berpisah, mengapa maut yang pisahkan…
Aku memujimu hingga jauh tergerak jatuh ke angkasa..
Rintihan hatiku memanggilmu, dapatkah kau dengar damai hidupku…
Runtuh jua raga, hancur berkeping-keping…
Tangan dan kaki berpijak di bumi lagi…(Ada Band)

Selayaknya engkau tau betapa kumencintaimu
Kau terangkanku dari mimpi burukku
Selayaknya kau mengerti betapa engkau kukagumi
Kau telah tinggal dalam palung hati
Betapa hancur hatiku melihat engkau bersamanya
Namun kumencoba tuk tegar menghadapinya
Dengar kau menangis lagi, tak sanggup aku melihatnya
Sementara engkau bilang diriku atau dirinya…
Kau tuliskan cerita tentang engkau dan dia…
Membuat hatiku semakin terluka….
Sudah usai sudah cerita engkau dan aku…
Kuanggap sebagai rintisan kalbu…
Kutulis cerita tentang aku dan dia…sehingga membuatmu terluka…sudah usai sudah jangan menangis lagi, kurasa sampailah disini…kasih (Kangen Band)

I love you everyday, but your mother loves you forever…
Someone loves you all the times, but I keep waiting for you every minutes…
Your smile makes me smile like insane, you come here and everything just change…
I need you when you`re not here anymore, but I let you go away for your choice…

Jiwa yang tentram? Banyak orang rindu dengan ketenangan hati, ketentraman jiwa…
Kupun pernah merindukan itu semua…namun tak ada jawaban setiap kali kuberteriak pada langit.
Hanya kekosongan menemani sayup-sayup angin berlalu dan tidak pernah ada jawaban dimanakah ketentraman itu berada…
Tapi selalu tersimpan ketentraman abadi, dalam hati kita….sebuah cinta, cinta yang terpendam dalam jiwa, suatu hari, di saat yang tepat dan di saat yang telah tiba, cinta pasti membawa kita semua kembali pada ketentraman jiwa yang sesungguhnya.

Lembaran hari sudah berganti. Bulan sudah berganti. Tahun hampir berganti juga.
Tadinya kita masih bergumul dengan kisah-kisah cinta begini ala Tangga…
Kini kumulai menatap ke atas langit nun jauh disana, kulihat ada Bintang…Bukan Bintang Biasa…
Dan inilah saatnya mengembalikan nyawa hidupku, mengejar bintang-bintang yang bukan biasa itu…

Janji tak kuingkari, suatu hari di suatu masa, kita kan duduk bersama di bangku kayu dekat jembatan kasih, tempat pertemuan rahasia kita.
Duduk berdekatan, bergenggaman membagi kehangatan, melihat ke atas langit, ada bintang-bintang milik kita bersama. Bintang yang mungkin saja tinggal di sebuah planet tanpa perbedaan yang pernah didongengkan setiap kali anak kecil akan tidur malam.
Lalu kubertanya pada kamu : “Jadi kamu masih saja nggak mandi sebelum tidur!!!”

I love you every day
I love you every minute
I love you every week
I love you every month
But, there`s only your mother who will love you forever till her last breath…

Tersenyumlah, Sayang…Kembali pada ketulusan hati itu…
Wajah ceria yang pernah ada di sebuah ruang megah pertama kali meeting bareng…
Dan tak lama kemudian kita pun semakin dekat. Kamu sering tertawa geli. Menyanyi fales…
Jangan lupa…dua kali sehari…jangan hanya satu kali sehari saja…for the sake of love…

Sunday, August 12, 2007

Hanya Mimpi

A Conversation - Phone - Day
"Oke...kamu tunggu di Gang Jago, di dekat situ ada tenda, kamu duduk aja disana"
"Sip..."
Meeting masih belum juga selesai dan dia mungkin sudah menunggu disana.
Rencananya kita bakal nonton satu film di sebuah bioskop di daerah Jakarta Barat.
"Hallo, udah dimana kamu?"
"Aku masih on the way, kamu tunggu di depan gang aja deh"
"Oke deh, see you"
Dan gue gelisah banget karena kok ga nyampe-nyampe yah, liat jam dan jam semakin mendekati waktu pertemuan gue dan dia. Gimana nih.
INT. Mobil - Day - On the way ke Gang Jago
"Kenapa sih nih ga nyampe-nyampe"
EXT. Gang Jago - Day
Seorang lelaki menunggu sambil menikmati rokoknya, santai, ga gelisah, walau orang yang ditunggunya belum juga datang. Sesekali dia melihat handphone, berharap mendapat kabar kalau orang yang dinantinya sudah dekat.
INT. Mobil - Day - Masih macet
Bentar lagi nonton, dengan dia, lalu? Abis itu? Apa hanya nonton? Ga seru! Mau yang lebih dari itu. Ke pantai? Lihat bintang di langit? Lalu? Hmm...Makan berdua di lantai 30 gedung bertingkat? Lalu? Pulang...Berpisah...Ah, teuteup ga seru.
Dan perjalanan ga nyampe-nyampe. Dia nunggu. Gue juga nunggu. Di tempat yang berbeda. Rencana mau nonton ga jadi-jadi, karena kita ga nyampe-nyampe di titik pertemuan. Dan baru nyadar, pantes aja ga ketemu-temu, lah wong, cuma mimpi. Sigh....ternyata mimpi. Mimpi itu adalah simbol munculnya hal-hal yang direpres dan di tekan ke alam bawah sadar, dan mimpi adalah kesempatan bagi segala hal yang direpres untuk muncul dan mengekspresikan dirinya. Sayang sekali, Nduk, itu hanya mimpi saja. Dan masih ingat mungkin, memang ada satu hal yang belum sempat kita lakukan. Dan haruskah diwujudkan? Unless, mimpi seperti ini bakal berulang lagi sampai akhirnya bisa diwujudkan di dunia nyata.
EXT. Tenda Biru - Day
"Owalah, nyampe juga kamu"
"Maaf, tadi ada meeting mendadak, dan ga bisa cabut gitu deh"
"Ugh, selalu aja begitu, ngaret-ngaret aja..."
"Maaf...beneran, maafin dulu donk"
"Ga ah, nanti juga keulang lagi..."
"Ya..kok begitu sih..."
"Uwis....jadi nonton?"
"Yu....masih keburu ga yah?"
"Keburu kok"
"Yu...."
INT. Bioskop - Night
"Nih, tiketnya, popcornya, wis..."
"Yu...masuk ke dalem..."
"Ke toilet dulu...beser..."
"Huah...gih sana cepet"
"Udah?"
"Yuu..."
Duduk di posisi yang sudah ditentukan. Film pun siap dimulai.
"Kok sepi yah...cuma kita berdua doank?"
"Iya...film apa sih iki?"
"Bridge of Love judulnya"
"Pasti deh selera kamu...drama melow sedih khasnya Shakespare"
"Gak tu...."
"Yang bener..."
"Udah deh mau nonton apa mau apa"
"Mau nonton kamu nonton aja deh"
"aduh, ini udah bayar, bukannya nonton"
"Biarin, udah kamu nonton aja, biar aku nonton kamu"
"Manusia yang aneh memang yah kamu itu"
"Biarin...yang penting ganteng"
"Ih, pede amat sih hahahaha....sejak kapan kamu merasa ganteng?"
"Sejak kenal kamu kan?"
"Aduh, kok jadi ga nonton gini yah..."
"Bisa ga kita begini terus..."
"Di ruangan gelap ini terus?"
"Yah...salah satunya hahahaha"
"Aduh, mulai deh..please..."
"Ya..begini lah...maksudnya bisa seperti ini, bersebelahan, dan deket terus, tanpa ada pembatas seperti yang dulu-dulu kejadian"
"Hmm.... gimana yah..."
Voice : Gubrak!!!
"Hey, bangun loe! Kerja! Hari ini meeting penting kok bisa-bisanya molor begindang"
Yah, cuma mimpi...kenapa yah kalau mimpi itu biasanya sesuai dengan keinginan, tapi kalau udah pas mau kesampean, pasti deh mimpinya abis, seperti cliff hanger dalam adegan-adegan sinetron India atau TV yang sering ngerjain penontonnya.
Anyway, mimpi kemarin itu sama seperti menonton film sungguhan, entah gue sutradaranya, atau gue penontonnya, dan selalu ada dia hadir di sisi gue. Huam...back to work...Salam buat kamu disana... Miss You Badly.

Friday, August 03, 2007

Too Good isn`t Good Enough

Prokrastinasi (= kebiasaan menunda-nunda) bisa menjadi semakin parah ketika kita tidak mampu mengendalikannya. Seperti menulis blog ini contohnya.

Cinta begini, jembatan kasih, jembatan kembar, planet baru ciptaan korban-korban legenda Romeo & Juliet, dan segala puisi roman tak berkesudahan pernah menjadi bagian penting kisah manusia yang belum sempurna. Sudahlah, ternyata memang benar kalau kita mau bahagia, kita harus fokus dengan apa yang sudah kita miliki, bukannya fokus pada apa yang belum kita miliki. Yang ada, nanti malah bawaannya tidak puas dan terus-menerus menuntut keadilan dan kita mendadak menjadi seorang jaksa super yang pintar sekali berkelit dan menembak kehidupan dengan segala pernyataan-peryataan ketidakpuasan ala manusia bodoh.

Untuk seseorang, masih suka minum juice.

Dia pun menjadi rajin menulis artikel yang menarik dan ”dia” banget.

Tak lama lagi akan pindah kerja kalau diterima di kantor baru.

Dan di usia 20an akhir berjanji akan melepas lajang supaya hidupnya lebih stabil dan terarah.

Akan baik sekali jika kita bisa berteman baik dan mencurahkan apa yang ada di pikiran.

Tanpa embel-embel puitis yang biasa terlontar.

Kita bisa menjalin hubungan yang baik sekali dengan terus saling menerima satu sama lain.

I need you, you need me, we need us.

Merokok tidak baik bagi kesehatan jantung, walau sulit untuk berhenti merokok, tapi semuanya hanya bersumber dari pikiran saja. Manusia akan dengan mudah terbiasa melakukan segala hal, termasuk kebiasaan untuk berbuat jahat (ironisnya!).

Segala hal yang “terlalu” belum tentu baik!
Ada seseorang yang terlalu baik, terlalu sabar, terlalu nrimo, terlalu penyayang, dan terlalu perhatian. Apakah dia memang sungguh baik? Belum tentu! Orang yang terlalu berlebihan kebaikannya, belum tentu sebaik yang terlihat, dan bisa jadi dia berpotensi untuk menjadi orang terjahat di dunia ini. Nggak percaya? Cobain aja jadi orang yang terlalu berlebihan baik dan sabar, lihat sampai kapan kebaikan itu bertahan. Ini bukan ajakan untuk berbuat jahat, tapi hanya inspirasi saja, kalau terlalu jahat itu nggak boleh, tapi terlalu baik pun nggak perlu. Jadi melakukan kebaikan sewajarnya saja dan tidak perlu over acting, karena berdasarkan teori Altruism (perasaan ingin menolong orang lain), pada dasarnya perilaku menolong sehebat apapun, hanya bertujuan satu yaitu untuk membahagiakan diri sendiri! Bull shit kalau bilang hanya ingin membahagiakan orang lain saja. Ketika menolong seorang nenek tua yang menyebrang jalan pun, dalam hati, tanpa sadar ada keinginan untuk bisa mendapatkan sesuatu untuk diri sendiri. So, setelah baca tulisan ini, jadi pingin berbuat baik seperti sebelumnya (kalau sudah terbiasa berbuat baik) atau sedikit enggan berbuat baik (daripada nanti jadi orang jahat)? Pilih saja. Kalau saya, lebih baik jadi orang biasa saja deh, nggak baik-baik amat, tapi nggak jahat-jahat amat juga. Ceritanya begini, ada seorang teman, sering banget bilang sorry dan meminta maaf kepada saya (padahal bukan karena tindakan jahat tuh), dan saya pikir seseorang yang terlalu berlebihan mengucap maaf dan tidak enakan dengan orang lain, itu sedikit aneh dan nggak manusiawi. Toh, namanya manusia, hidup yang wajar-wajar aja deh, kalau memang perlu marah, yah marah lah, nggak perlu jadi dewa pemaaf yang tahan dengan segala hinaan, ejekan, ataupun penyiksaan lainnya.

Wednesday, August 01, 2007

http://ririanproject.com

The Power of Focus

“Things do not change; we change“ - Anthony Robbins -

The way we feel and what we experience in our body comes from what we focus our attention upon during a given moment. And at any moment, we are “deleting” most of what is going on around us. That is, to feel bad, we have to delete (not focus on, not think about) everything that’s great in our life. And vice versa. For us to feel good, we have to delete the things we could feel bad about. This process of deleting is an important part of how the mind maintains the balance in one’s emotional state. Undirected, however, it can wreak havoc in our day-to-day experience.

Here’s a fun little experiment:


Take a few seconds and look around you, noticing and focusing on everything you see that is blue. Just look around and notice everything that is blue. Now close your eyes, and tell me everything you noticed that is green.

Threw you a bit of a curve ball there, didn’t I? If you are like most folks, you were expecting me to ask you to name everything that was blue. Instead I asked for something different from which you had focused on.

Here’s an interesting fact from the world of race car driving:

As I understand it, when new drivers are learning how to race, one of the first things they’re taught is what to focus on when they go into a spin. The natural tendency is for them to focus on the wall they’re trying to avoid hitting - and they usually end up hitting the wall. They are taught instead not to focus on the wall, but on where they want to go. In this way, they have a better chance of avoiding the wall and successfully getting out of the spin.

The exercise and story both point to the incredible Power of Focus in our lives. Wherever we place our focus, the rest of our mind and emotions will follow.

So, in order to manage our states, there are two things we can control with respect to focus. And when we change either of these, we immediately change how we feel.
1. What we’re picturing in our mind
2. How we’re picturing it (e.g., dimension, brightness of mental pictures, etc.)

At this moment, how we’re evaluating things determines what we focus on. The problem is, this focus is usually not conscious focus, it’s automatic focus. We unconsciously focus on something we don’t want, and then when we get it we feel like a victim and don’t even stop to think that we created it in the first place.

And what is more, we don’t realize we could choose to create something completely different if we could only get out of the cycle of unconsciously focusing on something other than what we want.

If you have a significant negative emotional experience (say, for instance, a relationship in which you are abused or mistreated in some way), a part of you is going to say: “Okay, I get it. There are people out there who can and will hurt me. Relationships can be dangerous and painful. I have to watch out for these people [or sometimes, relationships in general] and avoid them.”

Unfortunately, to watch out for them and avoid them, you have to focus your mind on “people who could hurt me,” or “bad relationships,” and that focus draws more of what you don’t want to you… AND… actually makes these things you don’t want (at least initially) attractive to you, so when they appear in your life you are drawn to them.

This is why many people keep having one relationship after another with the same person, but in different bodies.

This, of course, applies to everything, not just relationships. I’m just using relationships as an example.

Focusing on what you do not want, ironically, makes it happen.
Focusing on not being poor makes you poor.
Focusing on not making mistakes causes you to make mistakes.
Focusing on not having a bad relationship creates bad relationships.
Focusing on not being depressed makes you depressed.
Focusing on not smoking makes you want to smoke.

And so on… I think you get the idea.

The truth is, your mind cannot tell the difference between something you think about or focus on that you DO want, and something you think about or focus on but do NOT want. Evaluations are nothing but questions we ask ourselves. And our state-and ultimately, our life-are the result of the questions we ask.

So in order to manage our states via focus, we must control the questions we ask ourselves. Here is how we can do this:
1. By eliminating limiting, “endless loop” questions.
2. By continually asking ourselves questions that empower us. You can use Anthony Robbins’s Morning Questions from Personal Power II program:

1. What am I happy about in my life now?
What about that makes me happy?
How does that make me feel?
2. What am I excited about in my life now?
What about that makes me excited?
How does that make me feel?
3. What am I proud about in my life now?
What about that makes me proud?
How does that make me feel?
4. What am I grateful about in my life now?
What about that makes me grateful?
How does that make me feel?
5. What am I enjoying most in my life right now?
What about that do I enjoy?
How does that make me feel?
6. What am I committed to in my life now?
What about that makes me committed?
How does that make me feel?
7. Who do I love? Who loves me?
What about that makes me loving?
How does that make me feel?

Every morning ask yourself these questions and come up with at least two answers for each of them. To answer this questions (even to just internally process the questions), you have to shift your focus from whatever your mind was focused on. This means that to change your focus, all you have to do is… ask yourself a question!

Then, your mind takes over and answers the question… solves the problem… and creates what you want. You just have to provide the focus, take whatever action presents itself, and be persistent.

By the way be cautious, your mind will find an answer to any question you give it, including dis-empowering questions. Learn to say “How can I…?” when you don’t know what to do, instead of “I can’t,” and the universe will send you the answer, every time. Learn to be conscious in what you focus on and your whole life will change.

Even Napoleon Hill, the man who spent over 60 years studying the most effective and most successful people of the 20th century, concluded that - without exception, mind you:

“Whatever the mind can conceive and believe, it can achieve.”

And remember, it will take some time to learn how to consciously focus your mind. It will require some effort. You will fail many times, and it will seem difficult, but at a certain point you will “get it” and at that point it will become as automatic as the unconscious focusing you have been doing.

Stay Focused!