I sense it, I feel it, and I see it... Life can be sense, Life can be non sense... I`m learning to sense the life
Friday, October 10, 2008
Kado Perceraian _ Riset
http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=50263
Thursday, 17 July 2008
Harta, tahta, dan wanita, tiga kata saling bertaut yang tuahnya membetot bagai magnet, setidaknya bagi para adam. Sama yakinnya dengan mengugemi pameo bahwa di belakang sukses seorang pria pasti ada seorang wanita.Namun, ketika wanita berani mengajukan gugatan cerai lantaran berbagai alasan -salah satunya perbedaan pandangan politik- untuk meninggalkan pria, fenomena apa yang sejatinya tengah terjadi?
Berangkat dari data yang dibeber Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, suhu politik yang memanas seiring pemilihan kepala daerah dituding ikut menyumbang andil pada tingginya angka perceraian di Indonesia. Data yang dihimpun dari enam kota besar di Indonesia itu (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar) cukup mencengangkan.
Surabaya mendominasi dengan angka perceraian tertinggi. Sebanyak 48.374 kasus perceraian, 27.805 kasus di antaranya atau 80 persen adalah kasus perceraian yang diajukan sang istri.
Sementara 17.728 kasus di antaranya adalah gugatan cerai yang diajukan suami kepada istrinya.
Berkaca dari kasus-kasus yang ditangani Kebijakan, Pendidikan dan Pendampingan Masyarakat Kelompok Perempuan Pro Demokrasi (KPPD) Samitra Abhaya Surabaya, Yulianti Ratnaningsih SH, staf divisi KPPD tak menampik jika di Surabaya pihak istri yang terbanyak mengajukan gugatan cerai.
Beberapa sumber masalahnya tak sedikit yang disebabkan peningkatan karier atau jabatan suami sehingga memicu sang suami berbuat sewenang-wenang, berselingkuh, dan penelantaran ekonomi.
Tahun 2007, sodor Yanti -begitu ia biasa disapa- mengutip data KPPD, lembaga ini menerima 220 kasus pengaduan dan pendampingan di mana sebanyak 10 kasus pengajuan gugatan cerai oleh istri disebabkan karena peningkatan jabatan suami sebagai pejabat publik. Kemudian ada lima kasus gugatan cerai istri dari istri politisi yang mengalami penelantaran ekonomi dan KDRT. ”Sifat feminin yang dituntut pada perempuan (istri) diartikan sebagai kepatuhan
dan kepasrahan. Perempuan yang kritis dipandang tidak pantas,” tegas Yanti.
Wanita dan tahta, kenapa selalu dikaitkan? Yanti mensinyalir, fenomena itu lebih kepada cara pandang dalam masyarakat bersistem patriarki di Indonesia. Perempuan masih sebagai objek atau alat untuk mencapai tujuan sedangkan posisi pria di atas perempuan (superior). Ini mengondisikan prialah yang lebih banyak memiliki akses kekuasaan, ekonomi, dan sarana publik.
”Sementara perempuan adalah konco wingking alias pelengkap dan bukan mitra. Pada akhirnya perempuan bisa menjadi sosok pelanggeng kekuasaan atau malah korban kesewenang-wenangan pria (dalam hal ini istri oleh suaminya),” papar Yanti.
Inilah yang kemudian membuka pintu lebar-lebar bagi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). KDRT itu sendiri bukan hanya berupa melukai secara fisik, tapi juga termasuk kekerasan psikis (penghinaan, mencaci maki, pemaksaan kehendak), penelantaran ekonomi, hingga pemerkosaan.
Kompromi dan Toleransi
Saat memutuskan untuk menikah, suami atau istri harus siap menghadapi perbedaan-perbedaan di antara mereka. Di antaranya beda budaya, pola asuh, karakter hingga perbedaan pandangan politik. Apakah si suami atau istri merupakan
Surya Online
http://www.surya.co.id/web Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e1s0e Orvcetdober, 2008, 16:09
aktivis politik atau bukan, tentu ada kondisi yang berseberangan.
“Kalau sudah menjadi prinsip biasanya sulit untuk dirubah karena masing-masing pihak memiliki alasan tersendiri. Mereka mempertahankan hal yang diyakininya. Mengingat itu merupakan hak individu,” tutur Fenny Listiana, SPsi
MM, konsultan di Sparta Education Surabaya, Rabu (16/7).
Mungkin banyak orang yang menilai hal tersebut sebenarnya sederhana, namun menurut Fenny, bila perbedaan tersebut dibuat menjadi rumit oleh pasangan suami istri, akan menjadi bom waktu yang berujung pada perceraian.
“Misalnya si suami menghina atau mengejek istrinya karena mengikuti partai A. Dan sebaliknya, si istri mengejek suami karena ikut partai B. Kekerasan psikis seperti ini jika diakumulasi bisa berujung pada perceraian,” tegas Fenny.
Perceraian sebenarnya akumulasi dari berbagai macam persoalan. Bila seseorang sudah terbentur kasus tertentu dan dibiarkan tumbuh subur akan meledak sewaktu-waktu. Salah satunya bisa terjadi jelang pemilihan umum atau pemilihan kepala daerah (pilkada).
Belum lagi masalah penghargaan yang tidak didapatkan dari pasangan, namun hanya bisa didapatkan saat ia bergabung di sebuah partai. Di sinilah kebutuhan aktualisasi diri justru didapatkannya di tempat lain.
“Masalah dalam perkawinan sebenarnya ada tiga hal, ego yang sama-sama kuat, kebiasaan yang berbeda dan karakter yang bertolak belakang. Sehingga penyebab perceraian harus ditelusuri lebih jauh. Seperti berapa tahun perkawinan atau apakah ada konflik sebelumnya,” tutur Fenny.
Untuk menyikapi perbedaan yang ada di antara suami istri, Fenny menyarankan untuk mengenal karakter masingmasing, agar mendapat pemahaman satu sama lain. Ditambah, saat menyampaikan pendapat, pasangan lainnya harus legawa menyikapi perbedaan yang disampaikan. “Kuncinya ada tiga, komunikasi, toleransi, dan kompromi.
Artinya saat menyampaikan pendapat, meski beda pendapat, si penerima dan penyampai pesan harus menoleransinya. Setelah itu, barulah hal tersebut dikompromikan,” pungkas Fenny. dta/tis
Didukung Suami 100 Persen
Dukungan terus diberikan sang suami, saat Pungky Sukmawati, 34, memutuskan aktif berkegiatan di Partai Bintang Reformasi (PBR). Bahkan saat ini Pungky telah menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PBR.
“Niat saya untuk bergabung di partai ini didukung suami seratus persen. Ia juga mengijinkan dan memberi restu saya untuk aktif di sini,” terang Pungky. Di sisi lain, suami Pungky, Haykel Al Djufri, 33, bukanlah aktivis politik seperti dirinya. Pria berusia 33 tahun ini seorang pengusaha properti yang juga tengah disibukkan dengan kegiatan bisnisnya. Toh meski bukan aktivis politik, Pungky menyebut suaminya masih mengikuti perkembangan politik yang berlangsung saat ini.
“Sah-sah saja bila suami memilih partai lain. Saya sih berpikir demokratis aja. Ia memang sempat bercanda mengatakan hal tersebut. Saya sendiri tidak memaksa ia harus memilih partai yang diikuti istrinya,” tegas mantan model Surabaya era 2000-an itu.
Meski disibukkan dengan seabreg kegiatan partainya, Pungky mengaku tak meninggalkan kewajibannya di dalam keluarga. Disinggung mengenai latar belakangnya sebagai model dan sempat mengikuti pemilihan kontes kecantikan Putri Indonesia, ditegaskan Pungky hal tersebut tidak menjadi masalah. Keputusannya untuk aktif di bidang politik tidak melenceng jauh dari kontes-kontes yang pernah diikuti sebelumnya.
Surya Online
http://www.surya.co.id/web Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e1s0e Orvcetdober, 2008, 16:09
“Dari dulu saya aktif melakukan kegiatan sosial dan pengabdian pada masyarakat. Dan visi dan misi ini ada di partai yang saya ikuti saat ini. Alasan inilah yang membuat saya bergabung. Yaitu visi dan misi yang sejalan dengan prinsip hidup saya, beramal untuk masyarakat,” pungkasnya. tis
TABEL Perceraian dan Pilkada
KOTA KASUS Diajukan Istri Diajukan Suami
1. Surabaya 48.374 27.805 (80 %) 17.728
2. Semarang 39.082 23.653 (70 %) 12.69
3. Bandung 30.900 15.139 (60 %) 13.415
4. Jakarta 5.193 3.105 (60 %) 1.462
5. Makassar 4.723 3.081 (75 %) 1.093
6. Medan 3.244 1.967 (70 %) 811
Sumber: Dirjen Bimas Islam (2008)
Pemicu perceraian:
1. Ketidakharmonisan rumah tangga (46.723 kasus)
2. Faktor ekonomi (24.252 kasus)
3. Krisis keluarga (4.916 kasus)
4. Cemburu (4.708 kasus)
5. Poligami (879 kasus)
6. Kawin paksa (1.692 kasus)
7. Kawin di bawah umur (284 kasus)
8. Penganiyaan dan KDRT (916 kasus)
9. Kawin lagi (153 kasus)
10. Cacat biologis (581 kasus)
11. Perbedaan politik (157 kasus)
12. Gangguan pihak keluarga (9.071)
13. Selingkuh (54.138 kasus)
Sumber: Dirjen Bimas Islam (2008)
Surya Online
http://www.surya.co.id/web Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e1s0e Orvcetdober, 2008, 16:09
Thursday, October 09, 2008
Lepas Dari Ko-Dependensi
Oleh : Kristi Poerwandari, Psikolog
APAKAH Anda terus memikirkan dan berusaha keras memperbaiki hidup seseorang yang sering menyakiti Anda, merasa bertanggung jawab atas kesejahteraannya dan terobsesi untuk membuatnya ’menjadi lebih baik’? Apakah Anda mencari berbagai alasan untuk membela dan terus mencintainya hingga menomorduakan kebahagiaan dan kepentingan diri sendiri?
Bila demikian halnya, tampaknya Anda mengalami ko-dependensi. Istilah ini jarang dibahas dalam teks ilmiah psikologi meski psikolog yang banyak menangani kasus relasional akan sepakat betapa ko-dependensi banyak terjadi.
Karakteristik ko-dependensi
Istilah ko-dependensi muncul tahun 1979 (Beattie, 1990) di negara Barat ketika praktisi kesehatan mental melihat adanya individu-individu yang hidupnya menjadi ’tak terkendali’ dan ’tidak sehat’ karena mengembangkan pola penyesuaian diri tertentu sebagai akibat kelekatan emosionalnya pada pencandu obat-obatan atau alkohol. Sering mereka adalah pasangan atau anak dari alkoholik. Dalam perkembangannya, istilah ini bermanfaat untuk menjelaskan konteks yang jauh lebih luas daripada itu. Mungkin sederhananya menunjuk pada individu-individu yang menampilkan penyesuaian diri yang tidak lagi sehat, akibat ketergantungan emosionalnya pada seseorang lain yang bermasalah karena ’tidak mampu atau menolak’ untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Orang lain itu bisa mengalami ketergantungan pada napza, alkohol, judi, seorang yang charming tetapi menolak menafkahi keluarga, pelaku KDRT, atau pasangan yang tidak pernah setia.
AM, 35 th, seorang istri yang sering dianiaya suami yang ternyata telah memiliki anak remaja di luar nikah menulis surat sbb:
”Bu, saya kesulitan melupakan dia. Saya ternyata benar-benar tergantung secara psikis pada dia. Padahal saya sudah menyibukkan diri, tetapi kalau ada kesempatan satu menit saja tidak melakukan apa-apa, saya pasti langsung ingat dia. Rasanya perih.
Apa ini cinta? Mengapa saya terus memikirkannya dan ingin ia mampu bertanggung jawab? Saya pikir ini bukan cinta. Karena setiap harinya saya selalu berusaha menekan kemarahan dan kekecewaan saya pada dia. Bahkan saya sering mengumpat agar ia mendapatkan azab dari Tuhan, tetapi saat itu pula saya berusaha menekan kemarahan tersebut karena mendoakan orang lain agar mendapatkan kesengsaraan adalah perbuatan dosa. Itulah yang sering menahan saya untuk tidak bersikap agresif pada keadaan ini. Sebenarnya saya kasihan pada anaknya yang pasti juga ditelantarkan olehnya. Nasibnya sama seperti saya dulu.
Bu, biasanya butuh waktu berapa lama untuk pulih dari kasus semacam ini? Saya butuh pertolongan….”
Siapa yang dapat mengembangkan ko-dependensi?
Siapa pun dapat mengembangkan ko-dependensi, apalagi ketika kita jatuh cinta, sangat terpukau dan kemudian mengidealisasi pasangan. Meski demikian, yang lebih rentan mengembangkan ko-dependensi adalah ia yang mungkin dibesarkan dalam keluarga atau lingkungan terdekat di mana orangtua tidak mampu memberikan kasih sayang dan rasa aman. Malahan keadaan menuntut yang bersangkutan untuk ’dewasa sebelum waktunya’, mengubur rapat-rapat kebutuhannya akan perlindungan, mengharuskannya mengambil alih tanggung jawab orangtua.
Seorang yang menampilkan ko-dependensi bisa saja seorang yang sangat berprestasi dan berhasil dalam karier. Bayangkan seorang anak yang sejak balita hingga remaja melihat kekacauan dalam keluarga: menyaksikan perilaku ayah yang mabuk dan main perempuan, ibu yang kemudian sakit-sakitan dan menjadi pemarah, dan ia mau tidak mau harus merawat adik-adiknya yang tak terurus. Individu demikian mungkin berkembang menjadi orang yang tidak mengenal kebutuhan-kebutuhannya sendiri, tidak pernah yakin bahwa ada yang sungguh-sungguh mencintai. Untuk memperoleh penerimaan, ia malah lebih sibuk mengurus orang lain, tetapi batinnya sendiri mungkin sangat kosong. Pembelajaran kompleks di masa kanak terbawa hingga dewasa, membuatnya mudah terjebak pada hubungan-hubungan yang tidak sehat. Ketika bertemu dengan seseorang yang tak mampu bertanggung jawab atau senang menyakiti, ia akan bernalar: ”pasanganku sebenarnya mencintaiku tetapi tidak mampu menunjukkannya”; ”ia sebenarnya baik hanya sinis”; atau ”kalau aku tinggalkan ia bisa bunuh diri”. Salah satu karakteristik ko-dependen adalah adanya dorongan untuk ’menjadi penyelamat’ atau ’mengambil alih tanggung jawab’. Dapat dimengerti bila umumnya pasangan bukannya menjadi lebih baik, malah semakin taking for granted dan seenaknya.
Keluar dari ko-dependensi
Untuk keluar dari ko-dependensi kita perlu meyakini beberapa butir berikut: (1) untuk dapat mencintai orang lain secara sehat, kita wajib mencintai dan mengurus diri sendiri dulu. Analogi paling baik adalah peringatan di atas pesawat terbang: saat ada gangguan dan masker udara turun, kita tidak boleh memakaikan masker itu kepada orang lain dulu, termasuk ke anak, melainkan harus memakaikannya ke diri sendiri dulu. Bila tidak, semua pihak dapat telanjur kehabisan oksigen dan tak tertolong. (2) Menetapkan prinsip-prinsip dasar yang harus ada dan tidak boleh dilanggar dalam menjalin hubungan khusus. Misal, prinsip saling menghormati; prinsip keterbukaan; prinsip tanggung jawab yang setara. (3) Salah satu prinsip penting adalah: manusia dewasa akhirnya bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Kita tidak perlu mengambil alih untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya. Kita juga tidak perlu terobsesi mengubahnya karena perubahan mendasar hanya dapat dilakukan atas kesadaran sendiri, bukan karena paksaan dari luar.
Jadi, meskipun cinta setengah mati pada seseorang, akhirnya kita perlu menetapkan waktu yang jelas dan sikap yang tegas agar tidak menghancurkan diri sendiri dengan terjerat ko-dependensi. Akan ada masa-masa sulit di mana Anda mungkin menangis setiap malam, tetapi itu menjadi proses penemuan diri dalam dunia yang membentang luas. Meski banyak kekacauan di dunia ini, masih ada orang-orang baik yang akan kita temui dan dengan mereka kita dapat menjalin hubungan saling menghormati.
Sumber : Kompas.com, September 2008
Wednesday, October 08, 2008
"Zee"
A Personal Journey Note




Siapapun membutuhkan curahan untuk mengungkapkan segala rasa, hasrat, gejolak jiwa...
Tidak selalu berwujud hidup, bisa juga dengan secarik kertas polos yang siap mendengar ...
Walau sekedar menulis, tapi bisa sangat membantu menenangkan, dan menjadi sebuah terapi sehat bagi jiwa...
Begitu personal, hanya antara si penulis dan si kertas saja dan si tinta yang menemani..
Sederhana, mudah dilakukan, melatih ketenangan dan konsentrasi...
Menulis curahan jiwa dan pikiran dengan bebas lepas tanpa harus dikritik siapapun
Tuesday, October 07, 2008
3 Hal Yang Perlu Dirubah...

"Kalau ada 3 hal yang bisa kamu rubah dari aku? apa itu?", tanya Dinda pada Nanda
"Pertama : cerewetnya, Kedua : cengengnya, Ketiga : ga bisa masaknya itu loh", jawab Nanda pada Dinda
"Kalau ada 3 hal yang bisa kamu rubah dari aku?", tanya Nanda balik pada Dinda
"Pertama : cueknya, Kedua : slenge-an nya, Ketiga: nyepeleinnya", jawab Dinda dengan lantang
"Maksud loe?"
"Iya itu maksud gue!"
Lagu Nammyohorengekyo
Ketika angin menerpa jiwa ini
Kumulai goyah rapuh bertahan
Namun kusadari kubisa hadapi
Karna kumiliki satu jalan pasti
Reff :
Nammyohorengekyo, doaku selalu
Nammyohorengekyo, tenaga jiwaku
Nammyohorengekyo, bahagia mutlakku
Kuingin bisa kuat menjalani hidupku
Meski berat kumampu melangkah bebas
Sucikan jiwa setiap saat
Hati tenang menghadapi kenyataan
Nammyohorengekyo, doaku selalu
Nammyohorengekyo, sumber tenagaku
Nammyohorengekyo, bahagia mutlakku
Nammyohorengekyo, selalu selamanya
Nammyohorengekyo, takkan habis zaman
Nammyohorengekyo, oohhhhh ....
Sunday, October 05, 2008
Indahnya Hidup, Indahnya Perbedaan, Indahnya Masalah
Tuesday, September 30, 2008
toxic parents
Unfortunately, children of toxic parents learn to blame themselves for their parents appalling lack, and tend to grow into adults who are burdened with very low self esteem and poor self image.
The wonderful news here is that the past cannot be changed but the future can!
You, as an adult and a parent, are not responsible for the negative ways your parents shaped your childhood.
However, you are responsible for your own behaviour today.
This means that it's your responsibility to do what ever is needed to become the parent your child deserves.
One of the most effective ways of breaking the ctcle is to make the commitment to be more emotionally available to your children than your parents were to you.
We all need someone to support us as we make changes in our thinking, especially as we identify and acknowledge the pain of toxic parents.
- I challenge you to find someone supportive to share the story of your inner critic with, to help you to identify it and to ask for their support as you make the changes.
Part of grief is learning to accept what happened to us and making peace with it. Remember the grief process? Shock/Denial; Bargaining; Depression; Anger; (depression and anger can come in opposite orders from other's experiences and sometimes you may go back and forth) Acceptance.
Monday, September 15, 2008
Kebaikan kecil yang Berbuah Keburukan Besar
Monday, September 08, 2008
Sayembara Menulis Surat Cinta _ Gagas Media
True Love Keeps No Secret
Sebuah
Mencintai itu indah. Mencintai itu butuh pengungkapan. Mencintai boleh dilakukan oleh siapa saja. Termasuk kamu yang lagi jatuh cinta atau yang pernah jatuh cinta. Tidak ada larangan untuk mencintai siapa pun atau apa pun. Sekarang, tuliskan apa yang kamu rasakan, lalu ikuti Sayembara Menulis Surat Cinta GagasMedia. Mau bongkar-bongkar file lama untuk dikirimkan juga boleh, kok. Tapi baca dulu syaratnya, yah….
- Peserta berusia 14-29 tahun.
- Tulisan terdiri atas maksimal 1.500 kata.
- Setiap peserta berhak mengirimkan maksimal dua buah surat cinta.
- Penilaian dalam sayembara ini adalah diksi (pilihan kata), kreativitas, dan cara mengekspresikan perasaan.
- Mengisi serta menyertakan: formulir, pernyataan keaslian karya, dan kesediaan untuk diterbitkan. Bisa didapat di buku Wednesday Letter dan Yakuza Moon yang akan terbit 15 Agustus 2008.
- Tulisan dikirim dalam bentuk print out dan CD ke Redaksi GagasMedia Jl. H. Montong no.57 Ciganjur Jagakarsa Jakarta Selatan 12630. Paling lambat 20 September 2008. Tulis: True Love Keeps No Secret di sebelah kiri atas amplop.
- Pengumuman akan dilakukan melalui web dan blog GagasMedia.
- Karya yang dikirim menjadi milik panitia.
- Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
Dua puluh lima pemenang akan bersanding dengan para penulis GagasMedia dalam buku kumpulan surat cinta. Masing-masing berhak mendapat hadiah uang sejumlah Rp250.000, paket buku senilai Rp200.000, dan dua buah nomor lepas buku.
Sunday, August 31, 2008
Tipe-tipe Lelaki Yang Perlu Dipertimbangkan Ulang
Masih ingat pesan orangtua yang mengharuskan kita melihat dulu bibit, bebet, dan bobot Si Dia sebelum menikah? Meski sekarang sudah banyak diabaikan, sebaiknya Anda mulai memerhatikan lagi pesan ini. Toh, ini untuk kebaikan Anda.
Bayangkan jika ternyata si dia yang Anda nikahi atas nama cinta itu ternyata tak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya. Bukannya bahagia yang dirasa, tapi sesal yang didapat. Itu sebabnya, cermati dulu apakah si dia termasuk dalam jenis lelaki seperti di bawah sebelum Anda memutuskan untuk menerima pinangannya.
1. Pengangguran
Pria jenis ini senang berpindah-pindah tempat kerja. Itu karena ia suka kerja semaunya dan akhirnya dipecat. Namun, dia malah menikmati masa menganggur. Alasannya, ingin selektif memilih pekerjaan. Saat menganggur, ia juga tak terlalu pusing karena memanfaatkan subsidi orangtua. Pria seperti ini susah diharapkan menjadi kepala keluarga. Bagaimana bisa memenuhi kebutuhan tiap bulan kalau ia sering keluar kerja dan menganggur? Jika tetap ingin menikahinya, butuh kesabaran tingkat tinggi. Anda harus terus memberinya semangat untuk mencari kerja dan betah di tempat kerjanya itu.
2. Playboy
Meski katanya sudah insaf, yang namanya playboy tetap harus diwaspadai. Semua orang tahu playboy tak bisa setia hanya pada satu pasangan. Untuk memastikannya, coba ingat seberapa sering Si Dia ingkar janji tanpa alasan jelas. Kalau pergi dengan Anda, apakah matanya masih suka “belanja” pada perempuan lain? Lalu, apakah phonebook ponselnya berisi nama-nama perempuan yang tak Anda kenal? Jika ya, pikir dengan masak sebelum menikahinya. Pastikan ia benar-benar insaf atau Anda bakalan diselingkuhinya.
3. Anak Mami
Segala yang dalam diri Anda dan semua yang Anda lakukan selalu dibandingkan dengan ibunya. Segala urusan Anda selalu jadi urutan berikutnya setelah urusan ibunya selesai. Itulah si anak mami. Jika Anda memutuskan menikahi lelaki jenis ini, harus siap-siap makan hati. Anda takkan pernah jadi nomor satu. Bagi si anak mami, mom comes first alias urusan ibu adalah prioritas utama. Bisa-bisa Anda harus selalu bersaing dulu dengan ibunya untuk mendapatkan perhatian Si Dia.
4. Tukang Pukul
Lelaki jenis ini bertemperamen tinggi. Karakternya baru terlihat kalau emosinya sedang naik. Baik sadar atau tidak, ketika marah biasanya ia akan main kasar seperti memukul, menampar, menjambak dan masih banyak bentuk kekerasan lain. Karena cinta, mungkin Anda membiarkan dan memaafkan saat 1-2 kali dia memukul Anda. Padahal harusnya Anda mulai waspada. Jangan mudah percaya dengan janjinya meski sesudah melakukan kekerasan, dia minta maaf dan berjanji tak akan mengulanginya. Kekerasan umumnya terjadi seperti siklus atau lingkaran yang akan kembali pada pola lamanya.
5. Pecandu
Pecandu di sini bisa pecandu rokok, alkohol hingga narkoba. Si pecandu biasanya senang menghamburkan uang untuk memenuhi rasa ketagihannya. Hati-hati dengan lelaki jenis ini. Kalau ia sedang tak punya uang untuk membeli “kesenangan” itu, ia bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Termasuk meminta atau bahkan menguras dompet Anda secara paksa. Kalaupun si pecandu sudah insaf dan ingin menikahi Anda, pastikan ia benar-benar insaf dan tak mengidap penyakit apa pun buah dari kecanduannya.
6. Chauvinist
Lelaki jenis ini sangat membanggakan dirinya sebagai kaum lelaki. Saking bangganya, ia tak menghargai bahkan menginjak-injak martabat perempuan. Di matanya, perempuan tak pernah dianggap sejajar dengan lelaki. Kedudukan perempuan adalah di bawah pria. Bagi si chauvinist, tugas perempuan adalah melayani kebutuhan pria dan mengerjakan apa yang diperintahkan. Kalau diajak menikah oleh pria jenis ini, sebaiknya Anda berpikir panjang. Sulit lho, menjalani rumahtangga dengan pria yang tak bisa menghargai pasangannya!
7. Penjudi
Sama seperti si pecandu, si penjudi senang menghamburkan uang. Bedanya, penjudi menghabiskannya untuk pertaruhan. Tak hanya di meja judi, tapi juga di lantai bursa atau tempat lain yang mengadakan taruhan. Niatnya tak hanya untuk senang-senang, tapi juga mendapatkan keuntungan. Ia takkan berhenti sebelum memenangi taruhan besar atau uang habis. Cukup sulit menghadapi pria jenis ini. Biasanya kesenangan ini mendarahdaging dan susah dihilangkan. Kecuali dia benar-benar ingin sadar, tak ada yang bisa Anda lakukan. Daripada uang dan harta Anda habis oleh si penjudi, lebih baik cari calon suami lain.
8. Matre
Ada yang bilang pria matre matanya berbinar-binar ketika melihat dompet Anda berisi tumpukan uang ratusan ribu. Setelah itu, ia akan selalu berusaha menyentuh dompet Anda, entah ada isinya atau tidak. Dia akan minta Anda membayari makan, nonton, belanja dengan alasan bokek. Ia juga tak mau turun dari mobil Anda. Dari sini Anda sudah bisa melihat, ia sangat bergantung pada penghasilan Anda untuk memenuhi kebutuhannya. Jika menikah nanti, jangan-jangan ia takkan memberi nafkah karena penghasilan Anda sudah cukup untuk membiayai rumah tangga. Padahal, sudah kewajiban lelaki menafkahi istrinya.
9. Pencemburu
Banyak yang mengatakan cemburu itu tanda sayang atau cinta. Tapi bagaimana kalau cemburunya berlebihan? Misalnya, seperti membatasi aktivitas, pergaulan, bahkan melarang bertegur sapa dengan lelaki lain. Baru pacaran saja, ia sudah mengekang Anda sedemikian rupa. Bagaimana kalau Anda sudah jadi istrinya? Bisa-bisa Anda dikunci dalam rumah dan tak boleh keluar hanya karena ia tak suka melihat Anda bergaul dan berbicara dengan teman-teman lelaki.
10. Suka “Jajan”
Agak susah memang mengenali lelaki jenis ini. Tapi mungkin Anda bisa melihat dari seringnya penghasilan dia habis tanpa tahu juntrungannya. Jika Anda merasa indikasi ini ada pada pacar Anda, sebaiknya Anda pastikan lagi kebenarannya. Jangan sampai setelah menikah Anda menyesal karena tertular PMS (Penyakit Menular Seksual) atau bahkan HIV-AIDS akibat kesukaannya “jajan” ini.
11. Sadomasokis
Yang ini juga agak sulit dideteksi. Tapi mungkin Anda bisa mengetahuinya dengan memberanikan diri bertanya apa sih fantasi seksual dia? Jika Anda cukup merinding mendengar pengakuan yang suka dengan “permainan kasar” atau ternyata si dia suka nonton film biru yang adegannya bikin Anda ingin memalingkan wajah, sebaiknya Anda berpikir lagi. Jangan sampai Anda menjadi korban kekerasan seksual dalam rumah tangga nantinya!
PASIF
Ciri: Tak pernah mau ambil keputusan atau inisiatif. Segala sesuatu diserahkan kepada pasangan atau temannya.
Konsekuensi: Anda harus siap jadi nahkoda dan punya banyak ide yang selalu mengarahkan apa pun untuk keperluan bersama.
Solusi: Telusuri penyebabnya, bisa jadi karena tak mau dianggap terlalu dominan. Bila itu karakternya, jangan bosan membangkitkan keinginannya untuk ikut mengambil keputusan. Seringlah bertanya apa keinginannya. Langkah drastisnya, Anda jadi pasif juga, dan lihat reaksinya apakah dia membiarkan saja, atau mulai melempar ide.
Cara kabur/ putus: Katakan Anda capek jadi pihak yang selalu aktif, dan kalau tak mau berubah akan Anda tinggalkan.
TERLALU MEMUJA
Ciri: Selalu membanggakan Anda di depan keluarga dan teman-teman. Anda dilimpahi pujian.
Konsekuensi: Anda tak pernah dewasa bersama pria tipe ini, karena tak pernah menunjukkan kekurangan Anda. Di matanya, Anda paling benar. Padahal perempuan juga punya salah dan khilaf, dan perlu sesekali diingatkan agar bisa memperbaiki diri.
Solusi: Bila Anda bosan dianggap dewa, jangan segan-segan memperlihatkan sisi buruk Anda. Berpakaian buruk, misalnya. Namun jangan sampai menyakiti orang lain.
Cara kabur/putus: Katakan padanya Anda risih dipuji terus. Dan bila sikapnya tidak berubah juga, lebih baik pisah.
TAK BERADAT
Ciri: Sering melabrak norma kesopanan atau etika yang berlaku. Misalnya, cara makannya berantakan, meludah sembarangan, atau mengorek gigi dengan kuku.
Konsekuensi: Anda akan sering dipermalukan di depan teman dan keluarga dengan sikapnya. Orangtua bisa mencoretnya dari daftar sebagai calon menantu.
Solusi: Bilang terus terang padanya bahwa kelakuannya membuat Anda malu. Ajari dia etika yang benar, jangan pernah bosan mengingatkannya, dan memberinya contoh.
Cara kabur/putus: Agaknya tipe ini masih bisa diperbaiki. Kalau dia bisa berubah, mengapa harus putus?
KASAR
Ciri: Ada pria kasar hanya di ucapan saja, yaitu sering mengeluarkan kata makian yang bikin panas kuping. Ada pula yang kasar sampai pada perbuatan, sering memukul dan menyakiti.
Konsekuensi: Keduanya sama-sama berdampak buruk pada perempuan. Ucapan kasar kadang sama sakitnya dengan pukulan. Bila tak siap menghadapinya, lama-lama Anda kehilangan rasa percaya diri. Bila Anda melawan, akan menimbulkan pertengkaran terus.
Solusi: Bila mengaku terus terang bahwa Anda takut dan sakit hati dengan ucapannya, ia mungkin agak menahan diri. Namun perbuatan kasar agaknya sulit diubah. Tipe kasar yang sering memukul biasanya akan muncul lagi.
Cara kabur/putus: Tak ada toleransi, segera menjauh darinya. Apalagi bila kasarnya sudah membekas di tubuh Anda.
CENGENG
Ciri: Tak tahan banting. Diajak jalan sedikit sudah mengeluh capek. Dikritik sedikit sudah cemberut. Apa-apa mau dilayani. Wah, pokoknya manja dan tidak tough!
Konsekuensi: Tak bisa diandalkan untuk urusan yang membutuhkan tenaga, apalagi tanggung jawab besar. Ia seperti anak kecil, mesti diurusi terus. Kalau mau meneruskan hubungan dengannya, siap-siap jadi wonder woman. Jadi perisainya untuk menghadapi dunia yang kejam.
Solusi: Beri dia hadiah berlibur yang mengandung unsur olahraga, misalnya rafting atau naik gunung. Kalau perlu masukkan ke kursus bela diri biar belajar bagaimana caranya menjadi pria tangguh.
Cara kabur/putus: Sebagai tanda putus, kirimkan dia bingkisan berisi pakaian dalam perempuan.
ADDICT
Ciri: Ada yang ringan seperti pecandu games, tren fashion, atau koleksi mainan. Perhatiannya pada benda atau kebiasaan sudah melewati batas wajar. Misal, rela mengeluarkan kocek jutaan rupiah. Yang berat adalah pecandu minuman keras dan narkoba.
Konsekuensi: Perhatiannya pada pasangan akan teralihkan. Lebih berbahaya, bila kecanduan alkohol atau drugs, hidup bakal hancur bahkan nyawa bisa melayang.
Solusi: Bila pasangan hanya kecanduan benda-benda koleksi atau games, ingatkan dia untuk juga memerhatikan Anda. Namun, bila pasangan kecanduan alkohol atau drugs, segera cari pertolongan.
Cara kabur/putus: Bila sekadar addict pada benda koleksi atau permainan, masih bisa dibujuk untuk memerhatikan Anda. Tapi kalau sudah narkoba atau alkohol, keraskan hati untuk segera meninggalkannya, kecuali Anda siap jadi perawatnya seumur hidup. Belum lagi risiko ikut jadi pecandu.
AUTIS
Ciri: Seperti penderita autis, jenis lelaki ini asyik dengan dunianya sendiri, sampai lupa bahwa dia punya teman, bahkan pacar. Biasanya, para peneliti atau ilmuwan termasuk jenis lelaki ini.
Konsekuensi: Jenis pria ini biasanya jarang ngomong. Jadi Anda mesti pandai membaca pikirannya. Karena perhatiannya pada dunia luar sangat kecil, Anda lah yang jadi perantara.
Solusi: Ajak dia bicara terus tentang hal-hal di luar yang mengasyikkan. Sering-seringlah mengajaknya jalan-jalan.
Cara kabur/putus: Bila putus pun dijamin dia tak akan peduli. Jadi buat apa capek-capek membuat prolog panjang? Langsung saja katakan putus.
Universitas London pernah melakukan penelitian mengenai efek jatuh cinta. Hasilnya, diketahui bahwa ketika sedang jatuh cinta bagian otak manusia yang mengontrol pikiran-pikiran kritis akan terganggu. akibatnya, terjadi peningkatan aktivitas di bagian otak yang merespon terhadap reward atau hal-hal baik. Sementara bagian otak yang biasa membuat penilaian-penilaian negatif mengalami penurunan aktivitas.
Artinya, mereka yang jatuh cinta seakan dibutakan cinta sehingga penilaian tentang pasangan mereka tak seobyektif biasanya. Penilaian terhadap orang yang dicintai lebih cenderung ke penilaian yang bersifat positif. Sedangkan hal-hal negatif atau kesalahan pasangan kerap terlewatkan.
Salah satu efek samping cinta yang lain adalah ketagihan. Menurut Helen Fisher Ph.D, seorang antropolog dari Rutgers University, jatuh cinta mengaktifkan pusat ‘kenikmatan’ di otak sehingga meningkatkan hormon dopamine yang membuat orang merasa senang. Aktifnya hormon tersebut bisa menimbulkan perasaan "ketagihan" pada seseorang. Sumber : www.kompas.com (2008, Agustus)
Thursday, August 28, 2008
Dewi - Alexa
Monday, August 11, 2008
Tears & Rain (James Blunt)
How I wish I could surrender my soul;
Shed the clothes that become my skin;
See the liar that burns within my needing.
How I wish I'd chosen darkness from cold.
How I wish I had screamed out loud,
Instead I've found no meaning.
I guess it's time I run far, far away; find comfort in pain,
All pleasure's the same: it just keeps me from trouble.
Hides my true shape, like Dorian Gray.
I've heard what they say, but I'm not here for trouble.
It's more than just words: it's just tears and rain.
How I wish I could walk through the doors of my mind;
Hold memory close at hand,
Help me understand the years.
How I wish I could choose between Heaven and Hell.
How I wish I would save my soul.
I'm so cold from fear.
I guess it's time I run far, far away; find comfort in pain,
All pleasure's the same: it just keeps me from trouble.
Hides my true shape, like Dorian Gray.
I've heard what they say, but I'm not here for trouble.
Far, far away; find comfort in pain.
All pleasure's the same: it just keeps me from trouble.
It's more than just words: it's just tears and rain.
Thursday, July 31, 2008
You`re Beautiful - James Blunt
My love is pure.
I saw an angel.
Of that I'm sure.
She smiled at me on the subway.
She was with another man.
But I won't lose no sleep on that,
'Cause I've got a plan.
You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
I saw you face in a crowded place,
And I don't know what to do,
'Cause I'll never be with you.
Yeah, she caught my eye,
As we walked on by.
She could see from my face that I was,
Fucking high,
And I don't think that I'll see her again,
But we shared a moment that will last till the end.
You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
I saw you face in a crowded place,
And I don't know what to do,
'Cause I'll never be with you.
You're beautiful. You're beautiful.
You're beautiful, it's true.
There must be an angel with a smile on her face,
When she thought up that I should be with you.
But it's time to face the truth,
I will never be with you.
High - James Blunt
There is nothing else in the world,
I'd rather wake up and see (with you).
Beautiful dawn - I'm just chasing time again.
Thought I would die a lonely man, in endless night.
But now I'm high; running wild among all the stars above.
Sometimes it's hard to believe you remember me.
Beautiful dawn - melt with the stars again.
Do you remember the day when my journey began?
Will you remember the end (of time)?
Beautiful dawn - You're just blowing my mind again.
Thought I was born to endless night, until you shine.
High; running wild among all the stars above.
Sometimes it's hard to believe you remember me.
Will you be my shoulder when I'm grey and older?
Promise me tomorrow starts with you,
Getting high; running wild among all the stars above.
Sometimes it's hard to believe you remember me
Friday, July 25, 2008
Aubrey
A not so very ordinary girl or name.
But who's to blame?
For a love that wouldn't bloom
For the hearts that never played in tune.
Like a lovely melody that everyone can sing,
Take away the words that rhyme it doesn't mean a thing.
And Aubrey was her name.
We triped the light and danced together to the moon,
But where was June.
No it never came around.
If it did it never made a sound,
Maybe I was absent or was listening to fast,
Catching all the words, but then the meaning going past,
But God I miss the girl,
And I'd go a thousand times around the world just to be
Closer to her than to me.
And Aubrey was her name,
I never knew her, but I loved her just the same,
I loved her name.
Wish that I had found the way
And the reasons that would make her stay.
I have learned to lead a life apart from all the rest.
If I can't have the one I want, I'll do without the best.
But how I miss the girl
And I'd go a million times around the world just to say
She had been mine for a day.
Tuesday, July 22, 2008
"Darah"
Di dalamnya ada membahas soal perebutan energi
Dalam jiwa setiap orang ada energi dan untuk bisa bertahan energi harus terus diisi ulang
Perebutan energi pun menjadi aktivitas lumrah yang terjadi untuk bisa hidup
Pagi ini saya ke rumah sakit kanker, bagian anak
Melihat poster sana sini di sekitar ruangan, ada merah darah
Saya merinding, jadi lemas, mau muntah, kepala pening
Wuf, padahal ini bukan kali pertama saya melakukan kegiatan ke rumah sakit seperti ini
Mendengar kata "darah" pun sudah mampu membuat saya merinding
Lalu mencium aroma darah di ruang ICU tadi hampir membuat saya melayang pingsan
Dan seorang petugas rumah sakit menjelaskan proses operasi potong sana potong sini
Kontan saja, saya makin mual
Ada sebab dari semua akibat
di tahun 2002 ketika hendak naik ke KRL Ekonomi menuju Depok
Saya berdiri dan tepat di hadapan saya ada seseorang yang baru jatuh dari atas KRL
Kepalanya membentur lantai dan langsung berlumur darah
Saya masih ingat, waktu itu saya langsung pusing dan berputar-putar kepala ini, mau pingsan
di tahun 1999 saya pernah melihat pemutaran video proses aborsi, waktu itu pun hampir mau muntah.
Huah....yang pasti nggak pernah saya berpikir untuk menjadi dokter
Fobia darah, jangan-jangan, sudah menyerang saya, dan saya sadar itu
Ketakutan berlebihan terhadap suatu obyek
~ Sigh, tapi ya sudahlah mau diapain yah, yang pasti saya sedang menetralisir energi dan emosi saya dulu, supaya tidak terkuras karena obyek bernama "darah" itu ...
Wednesday, June 25, 2008
Sahabatku, Sepatuku, Obsesiku
Hampir 10 tahun sejak masa sekolah, hoby shopping saya geluti. Apa saja yang indah, pasti saya beli. Apa saja yang enak, pasti saya makan. 2 tahun ini, banyak yang berubah. Saya belajar hal-hal berharga yang nggak akan saya dapat kalau saya tidak melewati fase-fase perjalanan hidup saya : sulit dan non sulit.
1. Kisah sepatu. Tahun 2006 saya beli 1 sepatu hitam merk Bucherri dengan harga 225 ribu, harga yang cukup tinggi, biasanya saya beli sepatu seharga 50 ribu, tapi rutin sekali atau 2 kali seminggu, dan hanya hitungan 2-3 bulan biasanya sudah buduk. So, saya putuskan untuk beli sepatu bermerk cukup terkenal, karena waktu itu saya pakai untuk mengajar. Ups, di usia 17 tahun, pernah saya alami insiden, di pesta sweetseventeen, sepatu saya patah dan saya harus nyeker untuk pulangnya. Kapok sembarangan milih sepatu, ditambah lagi tante saya 6 tahun lalu terpeleset di pasar, karena sendalnya licin, padahal sendalnya saya yakin betul harganya di atas 400 ribu. Bayangkan, sandal merk mahal saja bisa bikin tante saya terpeleset dan harus berbaring di ranjang selama 5 bulan, kakinya harus dipasang pen, wuuff, pastinya sakit banget, dan kalau ke WC harus digendong oleh suami/ anak-anaknya. Ok, balik lagi, jadi sepatu yang saya beli di tahun 2006, sampai sekarang masih saya pakai, dan saya makin cinta dan makin bersyukur, sepatu ini sudah 2 kali saya sol ulang, dan makin nyaman dipakai, sepatu ini juga sudah menemani saya melewati pengalaman-pengalaman menarik selama bekerja. Hanya sepatu kulit biasa, tapi ada kesan mendalam yang saya rasakan tiap kali lagi berjalan dan menunduk melihat ke arah sepatu. Dalam hati bergumam, bisa saja saya beli sepatu lain, tapi saya merasa sepatu ini beda, sungguh beda, dan satu pelajaran berharga yang saya dapat adalah : benar juga apa kata orang, beli barang jangan karena murahnya, tapi karena kualitasnya, ya, walau sepatu ini sedikit mahal, tapi bisa tahan 2 tahun, ya mudah-mudahan sampai 5 tahun, gitu? Bukan hanya sepatu saja, tas pun pernah saya alami. Jangan sembarang pilih tas, apalagi tas yang dijual di emperan, semua tergantung si pemakainya sih, ada pemakai yang memang apik, tapi bagi yang kurang apik, sebaiknya pilih tas dengan kualitas yang teruji, ya nggak harus tas LV sekitar 5-6 jutaan, tas standar yang ada merk di middle level, it`s ok lah. Kenapa? Karena tas yang memang teruji kualitasnya, tidak mudah putus talinya, lalu kulitnya tidak mudah buduk, dan yang terpenting, modelnya pun nggak malu-maluin. Soal sepatu dan tas dan satu lagi adalah baju. Wuf, dulu saya setiap minggu pasti ke ITC untuk hunting t-shirt/ blus model baru, penuhlah lemari ini, tapi kini sudah setahun, kantor saya di ITC, syukurlah, saya malah nggak minat lagi hunting t-shirt/ blus-blusan loh, sebagai gantinya hunting DVD bajakan. Ada alasannya kenapa, beberapa kali bertemu dengan narasumber yang hidup serba kekurangan ekonomi, saya belajar bahwa mereka punya 1-2 pasang baju saja sudah bersyukur minta ampun, bisa punya sandal jepit yang udah butut pun, itu bener-bener bagus daripada nggak ada alas kaki sama sekali. See?
2. Persahabatan. Baru saja saya dapat kiriman email soal Renungan Coca Cola, bagus deh, kutipannya begini nih : “Lingkungan Anda mencerminkan harga Anda. Lingkungan berbicara tentang RELATIONSHIP. Apabila Anda berada dilingkungan yang bisa mengeluarkan terbaik dari diri Anda, maka Anda akan menjadi cemerlang. Tapi bila Anda berada dilingkungan yang mengkerdilkan diri Anda, maka Anda akan menjadi kerdil” . Kutipan yang indah banget dan ”ngena” banget. Sejak kecil hingga kini, saya ketemu dengan berbagai tipe manusia dan karakter, dan tak jarang ada yang bisa bikin ketawa sampe keluar air mata, tapi tak jarang juga banyak yang bisa bikin nangis dan gondok karena makan hati. Ada orang yang positif dan bisa membangkitkan semangat hidup dan membuat saya merasa berharga, tapi ada juga orang yang negatif dan setiap kali ketemu bawaannya mau kritik dan mencari kejelekan saya saja. Dua hal yang lumrah dan pasti akan selalu terjadi. Yin Yang akan selalu berlaku di dalam hidup ini. Dan siapapun yang pernah saya temui adalah harta dan guru terbaik buat saya – dan tentunya kita semua lah yah – kalau ketemu teman yang menyenangkan dan positif, saya bersyukur karena ternyata saya diterima dan cocok dengan mereka. Kalau ketemu orang yang ogah berteman dengan saya, reaksi normal biasanya adalah menghindar dan mencibir mereka ”huh, siapa loe...” dan terbawa juga untuk mencari kejelekannya, untuk melindungi harga diri saya. Tapi, kenapa harus begitu? Kenapa kok saya harus terbawa menjelekkan dia juga? Wups. Manusiawi? Auk ah, jawab aja sendiri. By the way, busway, Cuma mau sharing, dengan siapa kita bergaul akan turut mempengaruhi hidup kita juga nantinya. Bukannya pilih-pilih dan tidak membuka diri kepada siapa saja yang kita temui, tapi hidup terlalu berharga jika kita menghabiskan energi untuk mereka yang lebih sering membuat kita merasa “kerdil”, mereka yang tidak membuat kita lebih berkembang jadi lebih baik. Tapi hati-hati juga, jangan sampe, justru kita yang menjadi orang yang cenderung memojokkan orang lain dan merendahkan harga diri orang lain. Untuk sadar soal ini, butuh latihan rutin berulang-ulang.
3. Obsesi itu perlu. Karna sering mendengar kata “ayolah bersyukur, ayolah belajar untuk berpuas diri, jangan serakah, jangan maruk, bla bla bla…”, sempat ada salah kaprah, oh kalau begitu, nggak perlu lagi punya obsesi atau mimpi muluk-muluk? No. obsesi itu jadi bumbu penyedap untuk jiwa kita supaya lebih semangat lagi mengisi hidup ini. Ada satu buku yang sangat well-recommended, ditulis oleh John Gray (penulis Men From Mars, Women From Venus), judul bukunya “HOW TO GET WHAT YOU WANT AND WANT WHAT YOU HAVE”. Tidak mudah memang untuk mengatur keseimbangan supaya kita bisa selalu bersyukur atas apa yang sudah kita miliki, sambil tetap bergelora untuk mengejar obsesi yang bisa membuat perubahan bagi dunia ini. Obsesi apapun itu, nggak ada yang nggak mungkin. Masih ada obsesi yang tertunda? Saya masih banyak, mulai dari belajar melukis dan pameran di satu galeri lukisan, belajar bahasa Korea, Belanda, kuliah lagi dengan bebas biaya dunk, dan mau buktiin quote yang bilang “YOU CAN BE THE CHANGE YOU WISH TO SEE IN THIS WORLD” . But, ada yang penting juga, yang saya dapat, bahwa : saya tidak akan pernah bisa merubah nasib orang lain, yang bisa saya perbuat adalah merubah nasib saya untuk bisa baik seperti yang saya harapkan, dan menularkan rasa bahagia saya kepada orang di sekeliling saya, hingga nasibnya pun berubah.
Regards, Maeya (maerose11@yahoo.com)
Wednesday, June 11, 2008
Antara Cinta dan Tergila-gila
Memang sulit membedakan antara cinta sejati dan cinta yang tergila-gila di saat seseorang sedang jatuh cinta. Sehingga terkadang banyak orang terjerumus pada arti cinta yang sebenarnya. Untuk itu pahami makna dari cinta agar tidak tersakiti saat kehilangannya, simak dibawah ini.
Cinta adalah sesuatu yang dimulai dari persahabatan, yang terus berkembang tiap harinya. Di dalamnya, ketertarikan fisik hanyalah salah satu aspek dari perasaan yang dibagi bersama. Sesuatu yang mengajarkan anda menjadi sabar dan merencanakan masa depan dengan percaya diri dan tidak terburu-buru.
Cinta adalah sesuatu yang melibatkan pengertian dan kerelaan menerima dia beserta apapun kekurangannya. Saat kedua orang yang terlibat di dalamnya bisa menjadi diri mereka sendiri dan merasa nyaman satu sama lain. Sesuatu yang melibatkan kejujuran, rasa hormat dan percaya.
Di dalam cinta tak ada rasa curiga sehingga yang ada hanya rasa tenang dan aman. Sesuatu yang selalu memberi anda kekuatan dalam menghadapi apapun. Sesuatu yang diberikan dan diterima. Saat anda tetap merasa dekat dengan pasangan, walau berada jauh sekali.
Cinta juga sesuatu yang tetap bisa seimbang dengan aspek hidup lainnya selain hubungan. Sesuatu di mana keduanya bisa menghadapi baik masa senang maupun sulit di antara mereka. Sesuatu yang membuat anda berpikir dan melihat lebih jauh. Singkatnya, cinta membuat anda menjadi orang yang lebih baik.
Sedangkan cinta yang tergila-gila adalah gairah instan yang akan habis seiring dengan berjalannya waktu. Sesuatu yang sangat melibatkan ketertarikan. Ketika kalian bersama, yang diharapkan terakhir hanyalan intimitas.
Sesuatu yang tidak hanya melibatkan rasa curiga, tapi juga tidak percaya pada pasangan, maupun kepada diri sendiri. Sesuatu yang membuat kita mengambil keputusan terburu-buru. Saat anda selalu memiliki perasaan tak aman bahwa anda akan kehilangan pasangan anda suatu saat.
Tak pernah puas akan pasangan anda dan merasa terganggu dengan berbagai kekurangannya. Sesuatu yang membuat anda merasa gelisah dan stres saat dia tidak sedang bersama anda. Sesuatu yang membuat anda merasa gembira dan bersemangat, tapi bukan bahagia dalam arti yang sesungguhnya. Sesuatu yang bisa membuat anda melakukan hal-hal yang bisa anda sesali nanti, tidak seperti cinta. Jadi cinta mana yang saat ini anda rasakan?
Dicari : Sales Promoter Agama Berkualitas
Menganggap agama sendiri yang paling baik? Ih fanatik sekali kalau begitu, hah? Tapi bagaimana mungkin menjalankan agama bercabang-cabang, mau tidak mau para pemeluk agama belajar untuk memilih satu ajaran yang paling diyakini bisa memberikan ketenangan bagi jiwa. Apa beda fanatik dengan percaya? Apakah beragama berarti memaksakan orang lain untuk bisa sama seperti kita, sama jalannya seperti kita, untuk bisa bahagia? Apakah beragama berarti menjelekkan agama lain dan berusaha dengan berbagai cara untuk memenangkan agama sendiri?
Ketika ada teman mengalami masalah, kita berusaha mengajaknya untuk ikut dan mencoba ajaran agama yang kita yakini kebenarannya. Ketika kita pernah mengajak orang lain untuk ikut dengan agama kita, itu berarti kita tidak bisa lagi bersikap seperti dulu, ada batas-batas yang harus kita jaga. Ini soal nama baik agama. Awalnya kita mengajak orang lain untuk bisa bahagia dengan menjalani ajaran agama kita, lalu ketika kita memiliki masalah dan tidak bahagia, muncul dilema baru : saya kan sudah pernah membanggakan agama ini bisa memberikan kebahagiaan, bagaimana mungkin jika saya menunjukkan kalau saya tidak bahagia. Agama itu akan dipertanyakan dan orang akan bertanya balik pada kita. Gimana sih sampean yang bilang kalau udah jalanin agama bisa bahagia, tapi kok sampean sendiri belum bahagia.
Gengsi? Pastinya. Bingung? Biasanya. Hal ini pernah saya alami dan sempat membuat saya berpikir, udah ah nggak perlu banyak berkeluh kesah pada banyak orang, terutama mereka yang pernah kita ajak untuk ikut ajaran agama kita ini. Tapi lebih baik bercerita pada mereka yang sudah bisa berpikir terbuka bahwa memang tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.
Agama perlahan jadi seperti sebuah produk, dan pemeluknya adalah si sales promoternya. Seorang sales berjuang untuk meyakinkan ke banyak orang kalau produk yang ditawarkannya itu punya something special dan menjamin pelanggan nggak bakal kecewa jika memilih produk itu. Kadang sales pun tidak pakai produk itu sehingga tidak menjiwai produk itu dan cenderung menawarkan dengan cara yang memaksa, dengan target utama : bisa dapat untung. Beda dengan sales yang memang benar-benar mengakui kualitas produknya itu memang ok dan terjamin dan dianya sendiri pun sudah membuktikan kalau dia memakai produk itu, dia puas. Apakah agama sama dengan produk-produk yang dijual oleh sales promoter itu? Jika agama sama seperti barang yang di jual di pameran-pameran, berarti agama menjadi alat untuk mendapatkan keuntungan. Ketika kita sudah berorientasi pada keuntungan, biasanya kita pun cenderung berpikir untung rugi saja, dan biasanya jarang mau rugi. Padahal kunci dari keyakinan beragama adalah tulus, bukannya untung rugi. Ketika tidak mau rugi, kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang melenceng dari aturan pun akan muncul. Tidak ada orang yang mau merasakan kerugian di dalam hidup ini, bahkan seorang anak bayi pun sudah bisa menunjukkan kalau rugi itu tidak enak. Rugi itu menyakitkan dan rugi itu membuat dirinya tidak bahagia. Di zaman ini sayangnya agama dianggap sama seperti barang. Tujuan punya agama adalah untuk mendapatkan keuntungan, dengan berdalih untuk bisa bahagia. Ujung-ujungnya duit. Iya, orang berbondong-bondong beragama supaya bisa kaya. Ini fakta. Ada yang sudah kaya, lalu lupa agama, tapi ada yang kalau sudah berhasil, makin yakin dengan agamanya. Tapi ada juga orang yang mencoba berkilah, ah nggak kok uang itu nggak bisa bikin kita bahagia dan bukan jaminan kebahagiaan. Ada juga yang mencoba menjiwai agamanya dengan cara yang merusak diri sendiri, karena menangkap konsep ”kepahlawanan” dalam beragama. Karena terinspirasi dari kisah hampir semua tokoh agama yang mengalami penyiksaan dan perlawanan dan penentangan, sampai akhirnya diakui keberadaannya. Sebut saja Yesus, Budha Sakyamuni, dan Nabi Muhammad SAW, hampir semuanya pernah mengalami penyiksaan ketika ingin menunjukkan kebenaran agamaNya, dan ketika ingin membuktikan bahwa segala ajaran yang ingin disebarkan itu memang benar-benar bisa menyelamatkan nasib banyak umat manusia di dunia yang makin kacau balau ini. Maka terjadilah chaos agama. Ketika ada yang menghina ajaran agama tertentu, si pemeluknya marah, dan segera terpanggil untuk menyadarkan si sesat dan melakukan kekerasan salah satunya. Tapi agama tidak ada yang mengajarkan umatnya untuk marah, untuk benci, dan untuk membunuh orang lain. Jika dikaitkan lagi dengan produk dan sales promoter, kondisinya akan mirip seperti ini : ketika sales promoter menawarkan produk kepada satu klien, dan kliennya mencibir kalau produknya tuh jelek dan murahan, maka si promoter akan langsung memukul atau menghabisi klien itu. Tapi jarang terjadi seperti ini kan? Karena promoter bertanggung jawab untuk menjaga image produk dan akan kehilangan kesempatan untuk menjadi promoter produk itu jika melakukan kesalahan bertindak, apalagi tindakan kekerasan. Mengapa agama malah jadi lebih rendah perlakuannya dibandingkan sebuah produk/ benda di pameran?
Agama itu apa? Agama itu hanya punya tujuan satu : supaya manusia bisa hidup dengan damai, tentram, tenang, dan bahagia. Tapi naluri manusia untuk memiliki sesuatu yang disayanginya dan untuk membagikan sesuatu yang disayanginya kepada orang yang disayanginya, membuat manusia pun terdorong untuk lupa kalau dunia ini penuh dengan warna dan tidak semua hal bisa sesuai dengan apa yang kita harapkan dan apa yang kita anggap benar. Ketika bertemu yang beda agama, tanpa sadar menganggap diri sendiri paling benar, lalu berharap orang lain bisa sama seperti diri sendiri. Jadi apa sumber masalahnya : Agamanya atau karakter si pemeluk agamanya?
Regards,
Maeya
maerose11@yahoo.com



